Metode Mengajar Kuno Masih Eksis

urip.wordpress.com

Mengajar secara kreatif dengan berbagai metode atau strategi bagi kebanyakan guru adalah hal yang tak mustahil. Tapi seberapa banyak guru bisa menggunakan secara efektif sekaligus menikmatinya, apalagi kalau jadi guru bermodal karena kepepet. Saya? Saya belum bisa dan belum biasa. Saya masih menikmati pengajaran gaya konvensional, ceramah dan ceramah. Biarlah (?) dikatakan guru kuno. Meskipun secara teori tahu itu tak baik. Tapi tahukah mereka bahwa metode saya tidak jelek.

Belakangan banyak metode yang terasa baru (di telinga), padahal itu sering kita melakukannya. Jaman sekarang katanya pembelajaran tidak layak berpusat pada guru, guru cukup jadi fasilitator, guru tak boleh mengajar, siswalah yang harus belajar, guru membimbing siswa belajar dan mengarahkannya (jadi mirip bimbingan belajar dong?!). Tapi lihatlah mengapa banyak guru (termasuk saya dan rekan saya) yang justru enjoy dengan gaya konvensionalnya, metode ceramah. Apa sih tujuan pembelajaran? Haruskah begini begitu?! Kurikulum saja yang KTSP, nyatanya antar sekolah tak ada bedanya. Ujian nasional juga tak ada bedanya.

Metode ceramah adalah metode yang paling mudah, meskipun diperlukan tips agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan tercapai. Inilah metode yang paling klasik namun tetap disukai siswa(?) Pemaksaan metode lain seakan merepotkan guru, apalagi gurunya berpikiran tertutup. Guru yang berpikiran tertutup itu memang mengambil tabir pembenaran yang bermuara pada belajar hanya untuk lulus, maka ceramah adalah terbaik (asumsi-nya). Jadi untuk apa menggunakan berbagai metode dan teknik yang membuat guru sibuk (?) toh hasilnya yang diujikan hanya itu-itu saja. Salah kaprah-kah pemikiran seperti itu?

Metode yang efektif dan efisien tentu tergantung dari pokok bahasan, kebiasaan guru, dan pembiasaan siswa. Referensi kesesuaian antara keefektifan dan pokok bahasan dalam setiap mata pelajaran seharusnya ada. Tapi saya belum tahu tentang itu. Andai itu ada maka pengembangan berikutnya akan lebih mudah. Karena keterbatasan itulah akhirnya banyak yang tak mau repot dalam mengajar. Apapun minumannya, eh, apapun pelajarannya dan bahasan, ceramah metodenya :)).

Guru mengajar siswa dengan variasi usia yang masih anak-anak hingga remaja, memang memerlukan teknik tertentu agar pembelajaran sesuai dengan dunia mereka. Guru sebelumnya dididik oleh orang-orang kebanyakan hanya menggunakan metode yang itu-itu pula. Ceramah! Longok-lah di kampus-kampus keguruan, bagaimana dominasi ceramah sangat kuat bahkan kalau mau lebay saya katakan semua menggunakan metode itu. Padahal keteladanan itu tidak mutlak hanya untuk anak seusai sekolah atau remaja tapi juga diperlukan oleh mahasiswa calon guru. Orang dewasa juga memerlukan keteladanan dalam pembelajaran, seperti di kampus-kampus tadi itu. Jadi mempersalahkan sepenuhnya pada guru setingkat sd, smp, sma jelas kurang fair. Mestinya sejak jadi mahasiswa calon guru juga harus diajarkan dan dibiasakan mengajar dengan metode bervariasi tidak monoton, ceramah saja. Hem… dapat deh satu kambing hitam, dosen fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP).

Apalagi yah yang bisa dijadikan kambing hitam soal pembenaran metode ceramah untuk semua? Hahaha malah sibuk nyari kambing hitam nih. Oh ya sarana juga mempengaruhi untuk pemilihan metode cermah itu. Tanpa adanya sarana yang memadai maka pilihan satu-satunya yang pas adalah ceramah. Inilah kambing hitam kedua.

Berikut adalah matinya kreativitas guru. Mengapa guru kreativitasnya mati? Bagaimana tidak mati kreativitas itu bisa tumbuh kalau disirami dan di pupuk dengan khasanah pengetahuan, berbagi pengalaman, yang semua itu hanya bisa didapat lewat teknologi komunikasi atau lisan bahkan permenungan. Tapi yang lebih berpengaruh sepertinya yang membunuh kreativitas adalah kemalasan berpikir. Berpikir agar bagaimana caranya metode yang digunakan tidak hanya ceramah. Berpikir mencari terobosan baru dengan memanfaatkan apa yang ada tapi tetap dapat digunakan memberi variasi. Jadi kambing hitam ketiga adalag rasa malas guru (hehehe termasuk saya nih, jangan kuatir saya temani kok kalau soal malas)

Kambing hitam berikutnya adalah sistem penggajian yang tidak berbasis kinerja. Ah yang ini rada maksa. Tapi ini kenyataan. Guru (PNS) toh tidak ada pembedaan gaji. Guru kreatii atau tidak, guru makai metode apa kek digaji sama. Guru malas dengan rajin saja gak ada bedanya dalam hal penerimaan gaji, Guru non PNS saya tidak tahu. Jangan mencela yah, soal kondisi tadi. Jangan bilang wong jadi guru kok mikir gaji melulu tanpa sadar akan kinerja. Ups jangan bilang gitu yah, ini sudah menjadi kelaziman bagi guru di Indonesia. Kecuali saya, saya itu kan tidak beda dengan mereka hahaha. (*Hus ketawa*).

Kembali ke soal mengapa lebih memilih ceramah, habis pak ustadz atau kaum agamawan itu juga hobinya ceramah mulu, tidak memberi teladan, cuma hanya bicara begitu saja. Halah lah kok orang lain disalahkan. Ok deh saya kembalikan pada rekan guru semua, silahkan pilih bebas merdeka, yang penting pembelajaran siswa kita bisa berjalan dengan baik dan sesuai tujuan pembelajaran yang telah kita tetapkan, kan KTSP.

Masih memikirkan soal iklan minuman tadi? Apapun pelajarannya, cermah adalah metodenya! Mari direnungkan kembali.

Selamat berkarya!

Iklan