Keseksian Mata Pelajaran Mengantarkan Saya Menjadi Guru

urip.wordpress.com

Bagi kebanyakan siswa pasti memiliki mata pelajaran yang difavoritkan. Entah karena pelajarannya atau karena gurunya. Pelajaran yang menurutnya mudah atau memang mengasyikkan. Karena gurunya cakep, ramah, baik hati dan tidak sombong atau karena kelihaian guru menarik minat siswa, menaklukan kekakuan materi pelajarannya. Banyak faktor yang membuat suatu mata pelajaran itu disukai siswa, demikian juga pelajaran yang dibenci siswa.

Meskipun saya sewaktu sekolah tidak termasuk dalam siswa cerdas atau pintar tapi saya menyukai pelajaran kimia. Bukan karena guru kimia saya dulu saking seksi-nya lantas saya kepincut dengan kimia. Tapi karena saya benar-benar mendapatkan chemistry dalam mempelajari kimia. Bukan karena gensi karena kimia termasuk pelajaran yang disegani kebanyak teman saya saat itu. Alasannya karena seolah saya ingin sekali menjiwainya. Bagi saya ada keunikan tersendiri pada pelajaran kimia itu. Meskipun demikian saya juga tidak sekonyong-konyong selalu mendapatkan nilai bagus. Justru karena itulah saya lantas penasaran dengan pelajaran yang satu ini.

Sewaktu kelas 1 SMA pelajaran kimia di kelas saya diajarkan oleh pak guru yang bukan berlatar belakang kimia. Ini persoalan klasik pendidikan, membuka sekolah tapi gurunya tak tersedia. Beruntung akhirnya di awal semester 2 kelas 1 datang guru sesuai dengan keahliannya, guru kimia asli. Dengan gayanya mengajar yang bersemangat dan menggebu-ngebu pak Akhwad Wasis, guru kimia yang baru itu, mampu membukan keseksian kimia saat itu. Sayang saya tidak ditemaninya hingga saya lulus SMA, keburu beliau dimutasikan ke sekolah lain. Tapi saya tidak terlalu kecewa karena penggantinya sudah ada, ibu Latifah. Rupanya beliau satu almamater dengan guru kimia saya sebelumnya.

Meskipun sewaktu di SMA saya jarang sekali diajak praktikum kimia tapi itu tidak menyurutkan saya menyukai kimia. Keseksian kimia adalah pada lekuk tubuhnya yang aduhai. Saya suka perhitungan sederhananya, hukum-hukumnya yang tidak terlalu banyak, konsepnya yang saat itu mudah saya pahami, rumus-rumusnya yang saat itu saya rasa lebih sederhana dibanding fisika dan matematika, dan ada kepuasaan tersendiri ketika bisa menaklukan soal-soal yang ada di buku. Selain itu dengan kimia saya diajarkan menganalisis persoalan yang menggunakan logika dan hukum-hukum dasar yang saling terkait. Permainan bahasa yang menurut saya saat itu adalah merupakan tantangan tersendiri, karena kita mesti jeli dalam mencernanya untuk menyelesaikannya. Sekali lagi saya bukannya selalu mendapatkan nilai bagus tapi hanya di level cukup. Tapi senang sudah bisa saya rasakan keseksian pelajaran yang menjadi favorit saya ketika SMA.

Ketika saya lulus kemudian diberikan pilihan bebas oleh orang tua saya untuk memilih program studi yang saya kehendaki. Saya jatuhkan pilihan saya ke kimia siap menjadi guru kimia. Saya ingin memberikan pengalaman saya tentang belajar kimia di SMA kepada siswa saya nantinya. Bahwa kimia itu seksi dan pantas dijadikan idola. Tak sabar untuk sampai pada semester ke 3 sehingga saya terbebas dari mata kuliah lain selain kimia. Karena saking semangatnya bebarapa mata kuliah semester yang lebih tinggi dari tingkat saya pun saya rambah. Beberapa buku kimia saya lahab dengan membeli dari penerbitnya langsung atau meminjam di perpustakaan. Menjelajah dan menjamah soal-soal menantang memberikan kepuasan tersendiri, walau tidak selalu bisa saya selesaikan.

Praktikum-praktikum mulai kimia dasar hingga kimia semester akhirpun saya nikmati, lebih-lebih ketika membuat laporan praktikum. Meskipun tak begitu yakin dengan pembahasan tapi saya percaya diri. Ini tidak lepas dari bimbingan para dosen-dosen muda yang usianya tak terpaut jauh dengan kami mahasiswa kimia. Bahkan karena sama-sama belum matangnya usia kami kerap bersi tegang untuk mempertahankan argumen, antara saya dengan dosen saya. Yang saya sesalkan adalah niat saya kuliah dulu adalah kurang benar, bertujuan hanya untuk mendapatkan nilai terbaik. Alhamdulillah tercapai juga sih. Tapi ilmu yang saya peroleh menjadi hambar tak berasa bahkan mungkin tak berbekas, walaupun kalau dilakukan sedikit nortalgia akan mengembalikan memori lama yang tak terpakai.

Dari program studi pendidikan kimia kini saya menikmati pembelajaran kimia di sekolah tempat saya bertugas. Entahlah kadang merasa tidak enjoy dengan pengajaran kimia yang saya bawakan. Mungkin karena saya terlalu asyik dengan dunia saya yang akhir-akhir ini saya gandrungi, internet. Tapi tidak juga sepenuhnya saya tidak enjoy dengan pembelajaran kimia, saya masih bisa “bermain-main” dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan dari internet. Lebih-lebih ketidaktersediaannya fasilitas laboratorium kimia, maka simulasi, animasi, virtual lab yang gratis bisa saya manfaatkan. Belum satupun media pembelajaran yang saya buat. Semua sudah ada di internet dan tinggal menggunakannya. Keseksian kimia semakin nyata ketika semua bisa divisualisasikan. Siswapun menjadi lebih tertarik, meskipun ketertarikannya tidak banyak mendongkrak prestasinya untuk pelajaran ini. Banyak faktor yang menyebabkan ini.

Itulah yang memikat saya hingga menjadi guru kimia sampai kini.

5 responses

  1. Gakgakgak.. Om, pasti ada siswa yang menganggap om seksi atau kimianya seksi. Siswa melihat gurunya aktif, kreatif, guraru banget dah, hahaha.. siswa melihat teladan pas belajar kimia. Sip om! Selamat berasyik masyuk.. he..

    1. Bro kalimat terakhirmu itu kok semakin miring yah hahaha

  2. pengalamannya persis sm saya pa… 🙂

  3. uriiippppppppppppp kok jadinya kimia seksi di lekuk tubuh hahaahaa
    gmn dah kembali bertugas kah?

    1. Yah dipersonalisasi bu biar seru 🙂 Alhamdulillah sudah sejak 2009 sudah kembali bertugas bergumul menikmati keseksian pelajaran kimia 🙂