Membuat Soal atau Menyomot Soal?

urip.wordpress.com

Menyimak soal-soal olimpiade sains kimia, dan mencoba menyelesaikannya menjadi keasyikan tersendiri. Salut kepada yang membuat, mengonstruksi soal-soal seperti itu. Kalau menjawab atau menyelesaikannya saja harus mengernyitkan dahi, berpikir keras, apalagi mereka yang membuat merancang dan membuat konstruksinya. Luar biasa mereka. Apakah mereka itu dulu juga mendalami ilmu konstruksi tes atau evaluasi?

Ngomong-ngomong tentang membuat soal, saya sendiri masih belum bisa mengontruksi soal dengan benar. Yah mungkin seperti kebanyak rekan saya-lah (hehehe cari temen biar tidak terlihat bodoh sendiri). Pengalaman guru(saya),sepertinya kebanyakan yang lain juga memang cuma menyusun soal, memodifikasi soal yang ada, tidak membuat soal dari nol. Anehnya mereka (dan juga saya tentunya) sering mengaku bahwa saya loh yang membuat soal itu, benarkah kita yang membuat? Jujur ayo!. Iya, kan, nyatanya kita lebih sering (selalu?) melakukan tindakan sekedar comot sana-sini doang.

Jujur menurut saya membuat soal itu bukan pekerjaan mudah, setidaknya untuk bidang studi kimia yang saya bawakan. Bahkan karena merasa tidak bisa membuat soal dengan benar, suatu ketika akhirnya saya sempatkan ikut kuliah khusus evaluasi. Sayagnya tidak sempat tertuntaskan. Yang saya heran guru-guru lain kok sepertinya tidak ada masalah terkait teknik membuat soal. Apa karena saya sendiri saja yang tidak pinter, atau kuper yah? Salut untuk teman-teman guru yang sudah merasa dapat membuat soal dengan baik dan benar. Ajari saya dong…!

Seingat saya dulu mata kuliah untuk pembuatan soal tidak ada, yang ada dasar-dasar penilaian, dan penilain hasil belajar kimia. Porsinya @ 2 sks. Bagaimana mengkontruksi soal itu tidak pernah saya dapat, atau waktu itu saya ngantuk atau tidak masuk yah. Rekan-rekan saya toh tenang-tenang saja tak pernah merisaukan itu. Dan memang belum pernah ada yang meributkan, apakah guru bisa membuat soal atau hanya MENYUSUN doang. Ada rekan saya berkata bahwa membuat soal dan alat penilaian itu diperlukan hanyalah keterampilan bukan sekedar teori. Yah benar, itu tidak salah. Tetapi bagaimana dapat terampil kalau tidak ada landasan yang benar tentang cara membuat soal, dimana itu harus berdasar pada teori. Teori itu terbangun dari sebuah penelitian dan kebenarannya sudah tidak diragukan. Bahkan mereka yang berkutat dalam pendalaman teknik evalusi mereka ada yang merasa perlu untuk mendalaminya hingga jenjang pendidikan S3, doktor?

Saat ini banyak tersedia buku bank soal yang dengan mudah diperoleh guru atau kalau rajin dapat menyusunnya sendiri. Dengan begitu maka guru dengan seenaknya menyomot soal. Ups jangan bilang-bilang yah saya juga gitu kok :). Tapi saya masih ingin sekali untuk bisa membuat soal dengan benar. Apakah sudah benar bahwa dengan berdasar standar komptensi, kisi-kisi dan indikator lantas soal dibuat begitu saja? Menurut saya kemampuan, ilmu atau keterampilan membuat soal bagi guru sangat penting, dan sekali lagi itu tidak mudah. Apalagi membuat soal model multiplechoice itu, membuatnya tidak gampang walau itu untuk mata pelajaran yang saya bawakan sendiri. Model soal yang lain juga tidak kalah sulitnya. Apa iya cukup ada kisi dan indikator soal begitu saja dibuat?!

Saya kira benar bahwa membuat soal itu tidak gampang. Buktinya dosen-dosen saya dulu kalau memberi soal ujian mereka banyak mengambil dari buku yang mungkin mereka kira kami sebagai mahasiswa tidak bisa memiliki atau meminjamnya. Kadang mereka juga mengambil soal dari internet yang lantas di bahasa indonesiakan. Tidak membuat sendiri (tidak bisa membuat sendiri atau malas yah?). Sampai suatu ketika ada soal ujian (sistem ujian open book) yang diambil dari internet dan karena kami dibebaskan membuka apa saja termasuk internet, kami mendapati soal tersebut beserta solusinya, wou ternyata ada solusinya. Jadi bukan seperti bukan ujian deh. Saat itu masah bodoh yang penting kami bisa menjawab soal ujian.

Benarkah guru-guru dan juga dosen-dosen tidak perlu mendapatkan ilmu bagaimana membuat soal yang baik dan benar itu? Menurut saya sebagai tenaga pengajar semestinya memahami benar cara membuat soal dan tidak sekedar comot sana-sini, atau memodifikasinya. Kalau memang dirasa perlu mengapa pendidikan atau pelatihan tentang membuat soal jarang atau bahkan tidak pernah diberikan? Apa iyah mereka-mereka itu sudah bisa semua membuat soal. Atau saya sendiri yang kuper, apa cuma saya sendiri yang tidak bisa buat soal *duh bodohnya diriku, padahal saya guru juga*.

Menurut saya pekerjaan membuat soal itu identik dengan bagaimana membuat sesuatu yang bisa memusingkan orang lain :). Tidak ding, ngawur itu! Membuat soal itu bertujuan untuk mengukur kemampuan atau menjajaki daya nalar seseorang atau bahasa politisnya mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran setelah periode tertentu. Nah kalau guru atau dosen tidak memiliki cukup ilmu dan pengalaman dalam membuat soal, maka yang jadi korban dan paling dirugikan adalah siswa atau mahasiswa. Banyak sekali pertimbangan dalam membuat soal, termasuk ketercapaian tujuan pembelajaran, apakah tercapai atau tidak. Oleh karena itu maka kemampuan guru untuk membuat soal bukanlah perkara sepele dalam menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran.

Kepada rekan atau siapa saja yang mengerti tentang evaluasi, mohon diluruskan pernyataan ngelantur saya pada tulisan ini. Semoga saya dan juga rekan saya (guru) mendapatkan bimbingan pada jalan yang lurus dan benar. Semoga kami bisa menjadi guru yang lurus dan benar pula. Tidak sekedar menjadi guru tanpa bisa memperbaiki keadaan atau kesalahan kami sendiri melalui kegiatan pembuatan soal.

Terima kasih.