Menulislah Sebelum Namamu Ditulis pada Batu Nisan

urip.wordpress.com

Judul tadi hasil gubahan saya dari kalimat, sholatlah sebelum kau disholatkan (orang Islam yang meningggal sebelum dikuburkan wajib disholati). Artinya sebaiknya kita juga menjadikan menulis sebagai kebiasaan kita selama nyawa masih ada dalam raga kita.

Sebenarnya sudah malas saya menulis tentang menulis, sudah banyak kok di jagad ini tentang tulisan bagaimana menulis dan seluk beluknya. Tapi saya selalu saja tergoda untuk menuliskan ini. Saya ingin menyemangati diri saya. Karena saya tahu tulisan saya hanyalah begini-begini saja.

Menulis dengan hati, membaca dengan keterbukaan. Serap yang kita baca, larutkan, endapkan dalam pikiran, terakhir mari kita aduk apa yang kita baca dengan menuliskannya menurut versi kita sendiri. Saat membaca pikirkan betapa hebatnya sang penulis. Lalu mari camkan, apakah saya cukup jadi pembaca saja, jadi penonton?! Puas melihat orang lain membuat sesuatu sementera kita diam saja.

Membaca itu menyerap apa yang tersurat dan tersirat, mengasah kepekaan jiwa. Bercakap-cakap dengan penulis walau tak berhadapan langsung. Ada persetujuan, ada tanggapan, ada sangahan yang berkecamuk dalam otak kita, mengapa kita biarkan begitu saja tak menuliskannya juga. Mengapa menyia-nyiakan apa yang kita baca, seolah tak berbekas. Bekaskanlah dengan menulisnya.

Kita akan takjub bahkan mungkin tak kan percaya bahwa kita ternyata dapat melakukannya. Membaca kemudian menulis. Kajaiban-keajaiban kecil akan kehebatan diri akan sering kita temui jika kita rajin melakukan kegiatan menulis setelah atau saat membaca. Mari coba dari bahan bacaan kecil saja, dari suatu berita ringan, mulai dari hal kecil yang kita perdulikan.

Cobalah hapus dipikiran pernyataan bahwa “saya cukup jadi pembaca yang baik saja”. Jika kita hanya jadi penonton, pembaca saja maka yakinilah kita tak memiliki langkah maju sedikitpun dalam hidup ini. Tanpa menulis, lihatlah orator hebat, penceramah kondang tak akan lama mereka dengan kehebatan dan kekondangannya. Apalagi kita ini bukan orang hebat dan tidak pula terkenal. Saya berkeyakinan kita semua punya peluang yang sama seperti mereka asal kita mau menulis, menulis dari perasan hasil bacaan. Saya yakin itu, cepat atau lambat kita akan meraihnya. Dengan membaca, membaca, membaca, dan menuliskannya. Kita akan bisa memperbaiki banyak kesalahan pada diri kita. Dengan membaca, mencerna dan menulis apa yang telah kita baca maka kita menjadi pembelajar yang luar biasa. Mari buktikan dari hal kecil.

Kita tak boleh terlalu terikat dengan segala aturan, takut dengan tulisan yang tidak bagus, tidak bernas, tidak berkarakter. Mulailah menulis “kecil-kecilan” dan mari kita perbaiki perlahan sambil belajar dari tulisan orang lain, dengan membaca tentunya. Mari kembali bernostalgia, belajar membaca dan menulis lagi, walaupun usia kita bukan anak TK atau SD.

Menulislah sebelum namamu dituliskan pada batu nisan.

Iklan

5 responses

  1. Wah, sungguh luar biasa motivasi dari tulisan ini. Ya, menulislah sebelum namamu di tulis di batu nisan. Sungguh menggunggah! Oke deh, mari terus menulis! Makasih banyak ya, Pak!

    1. Njih Mas, maturnuwun, semoga kita bisa konsisten dalam lajur menulis.

  2. umn, menulislah sebelum di tuliskan… Aku ingin selalu menulis. Entah itu artikel yang bisa bermanfaat ataupun tidak.. Yang penting menulis dan menulis

  3. ijin copy pak isinya mantap bgt……

  4. ijin copy pak isinya mantap bgt……suwun