Etape Perbatasan Karakter 420

Urip.wordpress.com

Sampai dengan hari ini saya belum bisa menikmati perjalanan hanya di perbatasan karakter 140. Lebih menikmatinya ketika menuju batas karakter 420. Banyak pemandangan indah, lanturan dengan lambaian angin kata yang sepoi. Semua itu hanyalah pemuas nafsu, hingga mencapai ejukulasi pancaran ide. Menghasilkan deretan kimia pemikiran liar tak berpondasi, walau sekedar.

Lihatlah buaian angin kata walau tak bermakna mengalir deras menerpa. Membuaikan otak untuk selalu riang. Merancakkan ayunan jari jemari menyentuh permukaan benda persegi mungil yang dihiasi warna kontras. Suaranya bersahaja berirama mengikuti kata hati. Bermunculanlah satu persatu kehitaman yang kadang sejenak terhenti kemudian berlanjut lagi. Ketika mencapai di batas 420, terhenti menyortir untuk penyederhanaan.

Beda sekali dengan di batas 140. Semua diperpendek dengan pilihan bernas, berkarakter. Butuh kemampuan khusus untuk hanya berhenti di batas 140. Tidak hanya sekadar canda atau serius, semua berusaha mengakrabkan satu dengan lainnya. Kerelaan untuk terkenal walau tak ada yang menganggap, bergantian muncul tanpa persaingan, yang ada hanyalah kerelaan. Tak ada iri dan dengki. Beda dengan manusia yang selalu berpikir akulah yang pantas.

Tidak sudah menuju perbatasan 420. Tapi tak banyak manusia yang bisa mencapainya. Semua memang beda niat atau hanya sekadar menghentakan pikiran walau tak bermakna. Menyia-nyiakan huruf hanya untuk mendapatkan kepuasaan sesaat yang sama-sama tak berguna. Memang semua hanyalah pilihan, tak ada yang memaksa. Tapi bedakanlah bahwa kita termasuk manusia yang selalu memanfaat waktu menuju karakter 420.

Banyak jalan menuju ke sana. Siapa yang tekun mencapainya akan beroleh manfaat. Hafal dan paham bagaimana menapaki satu persatu bagaikan bermata. Hanya menggunakan beberapa jemari atau kadang hanya menggunakan induk jari. Semakin sering berkunjung di batas 420 kita akan semakin bisa dan biasa menikmati, menyampaikan mandat dari neuron kepada khalayak. Berbagai impuls kita sadari dan kita tuangkan hingga batas 420. Lagi dan lagi hingga beberapa etape.

Lihatlah deretan tapak jari hingga mencapai batas 420, tidak lebih. Berlanjut bada etape berikutnya dengan jarak yang sama. Bersambung menjadi satu, mencapai pemikiran yang utuh. Ini adalah alternatif bukan keharusan, untuk mencegah macetnya saluran. Satu etape selesai lihatlah, kita baru saja menyelesaikannya, bisa melaju lanjut pada etape berikutnya. Jangan pikirkan apa yang kau lewati. Alirkan saja lewat ayunan jemarimu untuk mencapai batas itu.

Jika kesulitan atau sering macet ketika mengisi kotak berajut ide yang penuh untaian makna utuh, mengapa kita tidak menapakinya perlahan lewat etape diperbatasan 420?! Satu etape, dua etape, tiga etape dan seterusnya hingga kita merasa puas dan cukup, satukan semua etape tadi maka kita akan mencapai garis finis. Dan kita menjadi juara atas kesulitan itu. Tak ada beda walau perlahan.

Tak percaya diri dalam menapaki setiap etape menuju batas 420?! Ah… Jangan perdulikan itu, hentakan saja tapak jemari dan jangan lihat lagi. Melajulah hingga sampai batas 420. Teruskan etape berikutnya janganlah menoleh hingga etape akhir yang bergaris putih. Setelah capai garis finis di etape terakhir bolehlah menoleh atau mendatangi etape-etape sebelumnya, perhatikan setapak demi setapak, rasakan. Endapkan bila perlu dan rasakan kembali kehebatan diri, sadari bahwa semua bisa mencapai batas itu hingga etape terakhir.

Selamat menulis status di facebook untuk merangkai ide dan menggabungkannya menjadi lanturan makna.