Mengakui Ada Ketakjujuran Tetapi Menyatakan UN Kredibel

Urip.wordpress.com

Kata pak menteri pendidikan nasional (mendiknas) hasil UN sekarang sudah kredibel. Saya tidak paham kata kredibel itu dilihat dari sisi mana? Apakah karena tidak ada laporan kecurangan, meskipun kecurangan itu ada?

Contoh sebuah hasil menakjubkan terjadi di beberapa sekolah. Untuk bahasa Inggris yang didasarkan nilai harian dan uji coba UN menunjukkan angka perolehan yang payah, tetapi hasil UN-nya rata-rata hampir 8 dengan simpangan baku 1,58 dengan model soal ujian berupa soal mutiplechoice saja. Kemudian saya membandingkan hasilnya pada sekolah saya rata-rata try out yang kami laksanakan beberapa kali dengan nilai UN kimia. Rentangan nilai try out 2,25 – 6,25 sedangkan nilai UN 2,25 – 9,75. Normal kelihatannya, tapi siswa yang rata try out 2,25 UN-nya 9,00, nah kalau seperti ini apakah masih normal, mana yang tidak reliabel? Diknas memang hanya menjastis pada laporan pelaksanaan dan hasil saja.

Bagi siswa jelas itu tidak akan memperdulikan soal nilai, yang penting bisa lulus dan syukur-syukur dengan nilai bagus. Bagi guru pasti ia tersenyum kecut karena ia tahu apa yang dicapai siswa sesungguhnya. Andai siswa dapat bocoran jawaban dari pihak luar maka yang patut bertanggung jawab adalah pengawas ujian. Apalagi sampai ada siswa yang diijinkan membawa hp ke dalam ruang ujian. Pengawas itu kan bertugas mengawas sehingga tidak sampai terjadi kecurangan, nyatanya?!

Pak mendiknas pun bangga dengan capaian UN tahun ini dengan kelulusan 99,22%, dan diklaim UN tahun kredibel, mantap dah kalau benar. Pantas saja anak Indonesia selalu memenangi olimpiade sains internasional. Prestasi sangat membanggakan, dengan me-negasi-kan kecurangan, kualitas soal, kelemaahan model soal. Kebanggaan semu dan kredibilitas palsu. Menyatakan kredibel tapi tak memperhatikan kenyataan aslinya. Kenyataan itu karena berbagai pertimbangan tak mungkin ada yang mau melapor. Tak imbang dengan dana dan tenaga yang dikerahkan untuk UN kalau yang dicapai kepalsuan. Apa mungkin kejanggalan itu hanya terjadi di sekolah tertentu (spt sekolah saya)?

Tulisan saya ini tidak bermaksud menggugat hasil UN. Hasil 99,22% lulus itu pasti menyenangkan berbagai pihak, mulai siswa, ortu, guru, kepala sekolah, kepala dinas, mendiknas, sampai presiden. Tapi ada beberapa hal yang semestinya dilakukan perbaikan untuk masa yang akan datang. Apakah kita senang dengan peruntungan lewat model soal UN, senang dengan kepalsuan hasil ujian?!

Karena diklaim sudah kredibel hasil UN, mendiknas akan menjadikan nilai UN sebagai bahan pertimbangam masuk PTN. Padahal tujuan UN dengan seleksi masuk PTN jelas beda. saya sebagai guru tahu kemampuan siswa saya tidak baik-baik amat, tapi dengan UN itu apa reliabel hasilnya? Andai PTN mau mengakui hasil UN tidak tahukah PTN tentang kredibilitas UN sesungguhnya? Tes masuk PTN itu prediktif, UN menguji hasil belajar namun sudah cemar. Saya berharap UN itu dapat seperti obat batuk, rasanya enak dan melegakan dan menyembuhkan. Pak mendiknas dan jajarannya mosok gak tahu?!

Tes prediktif itu memprediksi kemampuan siswa saat di perguruan tinggi sehingga antar pesaing di buat grade bukan capaian hasil belajar, skalanya tak tetap dan didasarkan kuota. Sementara UN itu mengukur hasil belajar dan skalanya tetap. UN mestinya tidak usah menentukan kelulusan kalau akan dipakai uji masuk perguruan tinggi. Penyelenggaraannya harus terpercaya, model soal tidak seperti sekarang saja. Harus variatif, dan ada punishment kalau jawaban salah, sehingga siswa tidak main untung-untungan.

Dengan formula kelulusan seperti sekarang, 40% rerata nilai rapor dan 60% nilai UN  dan ketentuan lainnya siswa dengan mudah akan lulus. Pengalaman menginput nilai, siswa saya hanya memerlukan jawaban tepat kurang dari 50% soal UN. Bahkan karena nilai rata-rata rapornya bagus cukup menjawab 25% dari soal keseluruhan. Yah hanya menjawab dengan tepat sama dengan kunci, bukan dengan benar. Andai anak sd diminta menjawab soal UN sma mungkin akan banyak yang memenuhi syarat tadi, sebab hanya dengan menghitamkan bulatan pada lembar jawab komputer.

Sekali lagi saya tidak tahu yang dimaksud kredibel oleh pak mendiknas. Apakah formulasi seperti tadi dengan berbagai lubang kecurangan, dan peruntungan bisa dijadikan pedoman klaim kredibel? Memang tidak mudah membuat formulasi ujian yang bisa memenuhi syarat ujian yang baik. Banyak benturan sana sini. Tapi apapun ujiannya jujur adalah kuncinya, agar benar-benar mengukur apa yang hendak diukur.

Kejujuran ujian nasional dapat diketahui dengan membandingkan pola jawaban siswa. Bila ada siswa yang menjawab dan tidak tepat dengan kunci tetapi sama antar siswa satu dengan siswa yang lain maka kemungkinan terjadi kecurangan sistematis dari sumber yang sama. Sebuah indikasi ketakjujuran dalam pelaksanaan UN. Kali ini Yogyakarta dinobatkan sebagai wilayah paling jujur selama UN SMA. Kalau begitu artinya diknas sudah punya data, tinggal dianalisis kemudian dipublikasikan kepada sekolah-sekolah yang bersangkutan untuk tingkat kejujuran pelaksanaan UN. Kalau diknas punya data, dan ada klaim daerah paling jujur dan pasti ada yang paling tidak jujur, ini artinya diknas sudah tahu sejauh mana kredibilitas UN tahun ini. Menyatakan kredibel padahal tahu terjadi ketakjujuran pelaksanaan UN.

Bagaimana ini?

2 responses

  1. Tulisannya bagus pak!saya sangat setuju isi dari tulisan tersebut..kalo masih ada UN kapan sekolah bisa diberika otoritas penuh dalam menentukan hasil akhir.Sampai kapunpun yang jadi korban adalah siswa.Guru (saya) sangat prihatin dengan kondisi pendidikan sekarang ini. saya mau belajar banyak tentang cara menulis pak!apakah bapa ada tip dan trik dalam menulis artikel di postingan. saya masih takut2 berani menulis, kalo pada ujung2nya bermasalah dengan tulisan tersebut.kalo tidak keberatan kirimkan ke e-mail saya iwansmansaga@ymail.com

  2. cocok dijadikan judul tesis:

    pengaruh sertifikasi guru terhadap kecurangan guru saat UN