Bijak Menentukan Pilihan Tempat Anak Bersekolah

urip.wordpress.com

Dua bulan lagi semua sekolah akan sibuk dengan hiruk pikuk penerimaan siswa baru. Kepanitiaan pun sudah disiapkan jauh hari. Semua keperluan untuk itu juga sudah dibuatkan daftar. Sekolah berlomba mencari ‘bibit’ terbaik. Karena diyakinidari bibit seperti itu akan dihasilkan panen berlimpah dan berkualitas. Lulusan dengan prestasi terbaik. Maka di jenjang sd pun dilakukan tes masuk. Materi tesnya adalah baca tulis dan berhitung. Edan, sewenang-wenang ini namanya.

Sekolah yang diburu orang tua/wali calon siswa (casis) adalah sekolah terbaik, favorit, itu menurut persepsi masyarakat. Tapi itu tidak berlaku untuk saya. Kebetulan tahun depan si bungsu akan masuk sd. Seperti kakaknya juga bersekolah di sd yang biasa saja, bukan sekolah favorit. Pertimbangannya hanyalah kepraktisan dari segi jarak ketika mengantar dan menjemput anak, maklum kami (saya dan istri) juga guru yang harus mengajar. Alasan lain saya mencari sekolah dengan kemampuan guru yang luar biasa dan itu belum saya dapatkan di daerah saya, artinya sama saja dimanapun anak saya bersekolah.

Masa usia sd peran orang tua kami yakini masih sangat kuat. Orang tua tidak bisa lepas tangan, pasrah kepada gurunya di sekolah saja.Orang tua perlu mengambil peran membelajarkan anak saat di rumah, peran pendampingan. Usia sd bagi saya adalah masa pembiasaan bagaimana anak belajar disiplin. Disiplin untuk belajar. Pengalaman saya, istri saya dan mungkin juga kebanyakan orang tua, banyak anak sd yang jarang belajar namun mereka bisa mendapatkan nilai bagus di sekolah. Seperti saya sendiri juga begitu. Jarang belajar namun nilai rapor bisa bagus, heran juga kenapa bisa begitu dulu. Akibat berikutnya adalah di tingkat sekolah lebih tinggi hal itu tidak berlaku. Akibatnya pelajaran banyak yang keteteran karena tidak terbiasa disiplin dalam belajar.

Di daerah saya sekolah yang difavoritkan dengan embel-embel rsbi, siswanya diperas dengan seabrek pekerjaan rumah. Tak ayal lagi orang tua jadi turut sibuk pontang-panting, si anak seolah terpangkas waktu bermainnya, dunianya terampas dengan pekerjaan rumah tadi. Masuk ke sekolah tersebut juga dilakukan tes baca, tulis dan berhitung (calistung). Yang diterima adalah anak yang memenuhi kriteria sudah bisa calistung. Enak sekali tugas guru kelas awal di sd tersebut. Semestinya itu adalah tugas dia untuk mengajari anak hingga bisa calistung. Herannya banyak orang tua yang kepincut, terobsesi agar anaknya bisa bersekolah di situ. Saya berpikir lalu apa hebatnya sekolah itu, wong keadaan anak sudah hebat memang.

Terlihat sekali terjadi kesewenangan dalam tes masuk. Apakah mereka tidak tahu kalau masa TK adalah masa bermain, belum saatnya diharuskan sudah bisa calistung. Lantas mengapa saat masuk sd dilakukan tes calistung. Dulu saat saya (mungkin kita) masuk sd pokoknya asal daftar dan terima. Tidak ada tes segala. Disitulah peran seorang guru kelas I, mengajari bagaimana saya agar bisa calistung. Bahkan sampai sekarang saya kagum dengan kesabaran guru sd saya dulu. Ia sabar mengajari kami yang nota bene belum bisa apa-apa. Maklum saat itu daerah kami belum ada yang namanya TK. Dan saya salut kekonsistenan bahwa siswa yang belum bisa calistung tidak akan naik kelas. Hehehe kebetulan saya tidak naik kelas juga. Saya mengambil hikmahnya setelah dewasa, apa jadinya saya kalau belum bisa calistung dinaikkan kelas ketika itu.

Betul ketika itu berapapun pendaftar semua akan diterima. Hasil kerja guru sd kelas I benar-benar nampak setelah setahun, meskipun sekali lagi peran keluarga juga penting. Apapun keadaan casis mereka welcome, dan berupaya membelajarkan siswa. Tidak lepas tangan mencari gampang dengan melakukan tes calistung sebelum siswa diajari. Guru-guru di sekolah favorit memang sangat diuntungkan dengan persepsi orang tua/wali yang keliru dan rela anaknya dites agar bisa bersekolah di sana. Padahal metode yang digunakan oleh guru di sekolah tesebut belum tentu benar dan belum tentu mendidik dan mengkebiri hak siswa. PR-nya buanyak. Kasihan itu siswa dan orang tuanya.

Saya kagum dan ingin tahu, ingin belajar, dan ingin menerapkan teknik pak Yohanes Surya dalam mendidik dan membelajar siswa. Dia berkeyakinan bahwa semua anak tidak ada yang bodoh. Hanya si anak saja kebetulan tidak mendapatkan guru yang dapat memberikan pembelajaran dengan metode yang tepat. Ia mengambil secara acak anak-anak papua yang dianggap paling tidak bisa berhitung, dan ia akan ajari hingga ia akan mewakili Indonesia di ajang kompetisi sains tingkat internasional. Artinya memang apapun keadaan siswa metode mengajar dan membelajarkan oleh gurulah yang menentukan.

Sebagai guru, saya belum mengerti mengajar dengan metode yang baik, tapi saya akan coba eksplor perlahan untuk bisa saya terapkan kepada siswa saya. Entah sampai kapan berhasilnya. Tapi saya sudah mempunyai target, walau harus ngotot. Tugas saya adalah memberikan pendampingan kepada siswa saya dan mengarahkannya untuk bisa belajar dengan baik dan benar. Wuih idealis banget. Semestinya itu harus ada pada setiap guru. Dan tidak cukup hanya sebagai cita-cita. Harus dilaksanakan dengan cara kita masing-masing.

Mungkin untuk setingkat sd ada yang menerapkan penerimaan siswa baru tanpa tes dan hanya dibatasi kuota saja. di level lebih tinggi hampir semua dilakukan seleksi, kecuali di wilayah yang tak ada persaingannya dan hanya satu-satunya tujuan belajar. Belum ada perubahan progresif dalam penerimaan siswa di sekolah-sekolah kota besar. Belum ada suatu sma yang menerima tanpa seleksi kepandaian. Katanya alasannya adalah untuk kelancaran ia belajar di sekolah tersebut. Mungkin karena pihak sekolah melihat beban kurikulum yang cukup berat, dan guru tidak sanggup membantu siswa mempelajarinya dengan tidak banyak energi. Akibatnya justru mereka yang berkemampuan pas-pasan bersekolah pada sekolah dengan kemampuan, disiplin guru yang buruk, ini membuat siswa semakin terpuruk tak lagi berkesempatan menemukan kehebatan diri yang terpendam, yang semestinya harus digali seorang pendidik. Guru banyak yang ingin gampangnya saja, tidak mau repot, ingin cuci tangan saja. Termasuk saya kali.

Kesimpulan dari tulisan ini saya, sekolah dasar favorit bukanlah tempat terbaik bagi anak kita belajar. Orang tua masih harus mengambil peran tidak bisa lepas tangan pasarah ke sekolah saja. Saat usia sd adalah saat pembiasaan disiplin belajar agar lebih mudah belajar saat jenjang berikutnya. Setiap anak berhak mendapatkan guru dengan metode pembelajaran yang baik yang mampu mengeksploitasi kemampuan anak kita. Mari bijak menentukan sekolah bagi anak kita.