Game ~ Candu bagi Anak dan Orang Dewasa

urip.wordpress.com

Irama aktivitas pagi hari nyaris monoton. Kadang jengah. Seolah menunggu hanya menghabiskan sisa usia. Pagi ini, besok hari, minggu ini, minggu depan, bulan depan, tahun depan, sampai kita semua tutup usia. Penyemangatnya adalah menjemput harapan dan cita-cita yang tersisa. Seolah hidup kita masih lama tak berbatas padahal tidak demikian. Karenanya kita sering melenggang menyiakan saat yang melintas.

Sambil mengisi waktu untuk berangkat ke kantor melahat beberapa berita via opera mini dengan layar 2,4 inchi. Berita kompas online tiap pagi didominasi kabar soal sepak bola. Seru. Seru bagi yang selalu mengikuti, penghobi nonton bola, maniak bola. Seolah dirinya terlibat di dalamnya. Bahkan mereka sekonyong-konyong jadi penganalis pertandingan bola, komentator yang tak berbayar. Tersihir bola, mengagumi kehebatan orang mengolah bola. Sekedar, sekedar menonton permainan dan puas walau mesti begadang.

Namanya sudah hobi, kesukaan, memang tak bisa dicari penyangkalnya. Rekan saya, guru, kalau sudah ngegame bola seru, serunya gak ketulungan walau di saat jedah mengajar. Lupa anak istri, lupa beban hidup, luar biasa memang hipnotis benda bulat itu walau hanya via game, permainan untuk sebuah permainan. Tak perduli balita, bawah 5 tahun atau bawah 50 tahun, seolah tergila-gila.

Kalau sudah hobi walau berjam-jam dihabiskan untuk melampiaskannya seolah tak terasa. Tak terasa itu menghabiskan waktu produktif. Game memang dibuat untuk memberikan hiburan dengan aktivitas otak. Bagi sebagian gamer yang sudah bangkotan, kalau rasa ingin tahunya besar ini modal untuk belajar bagaimana membuatnya. Tak kan puas hanya memainkan saja. Ketakpuasan itu tentu akan menghasilkan sesuatu… Game juga.

Ada beberapa klaim bahwa main game itu bisa meningkatkan kecerdasan otak manusia. Meskipun kebenarannya masih diragukan, tapi mungkin ada benarnya. Tapi cerdas dengan ngegame terlalu banyak ‘membuang’ waktu. Karena ia tidak secara langsung diniatkan mencerdaskan. Tapi sering membuai, terjebak dalam kenikmatan, bahkan sampai kecanduan. Waktu terbuang banyak walau tak sia-sia. Bagi penggila game jelas itu akan ditentangnya habis. Yah terserah. Saya sendiri masih memberikan kesempatan kepada anak untuk ngegame hanya di hari minggu, itupun dibatasi hingga sore hari saja dan di rumah. Mungkin sudah jamannya beda dengan saya dan generi sebelumnya. Saya oke saja asal tidak berlebihan nge-gamenya.

Saking kecanduannya ngegame sampai ada anak usia sekolah rela melakukan bolos sekolah demi nge-game. Malam hari begadang dengan alasan les atau belajar bersama, rupanya belajar nge-game bersama secara online bersama teman-temannya. Anehnya uang yang dipakai itu adalah uang les yang semestinya dibayarkan untuk les di rumah gurunya. Karena lemahnya kontrol orang tua sampai suatu saat diketahui nilainya jeblog dan orang tua dipanggil menghadap wali kelas. Dilakukan wawancara dan akhirnya kelakuan siswa tersebut diketahui. Untung belum terlambat, baru kelas XI. Anak-anak belum bisa diberikan kepercayaan penuh. Semua itu gara-gara game.

Kalau sekarang bagi anak seusia balita mungkin masih bisa enjoy menikmati game yang mendidik, karena memang game itu dirancang khusus. Tapi begitu usia bertambah game yang seperti tadi sudah tidak menarik lagi. Tidak menantang dan sering menjemukan. Apalagi kalau si-anak sudah sering menamatkan game itu. Ia lebih mencari permainan yang lebih menantang. Mungkin kita sudah bisa mengalihkan untuk mengenalkan ‘cara membuat game’ walau sederhana. Silahkan search dengan google.com.

Game tak bisa dihindarkan bagi anak jaman sekarang dan juga orang dewasa, tapi memikirkan kembali waktu yang terpakai hanya nge-game apakah tidak sebaiknya digunakan untuk hal produktif. Sesekali boleh asal jangan sampai lupa waktu, lupa tugas dan kewajiban.

Iklan

One response

  1. pak sekarang hampir semua usia memiliki game yang sama yaitu facebook, mereka keasikan didunianya itu. candu yang sangat membahayakan.