Kelapa Sawit, Ekonomi, dan Ekologi

urip.wordpress.com

Lanjutan perjalanan Pangkalan Bun – Sampit – Palangkaraya. Mulai memasuki daerah perkebunan sawit antara Pangkalan Bun-Sampit. Tampak rapi menghijau, rimbun, kepala sawit itu dengan deretan tertata seolah membentuk lorong-lorong memanjang dan menggelap. Karena rimbunnya daun yang tersanggah pelepah menghadang masuknya sinar matahari menerobosnya. Namun banyak orang meyakini bahwa perkebunan kelapa sawit ini menjanjikan perbaikan ekonomi, walau mengancam ekologi. Pemiliknya menaruh harap memperoleh rejeki dari tandan penuh merona merah kehitaman. Tak perduli air tanah terhisap oleh sawitnya yang penting ia bisa hidup mewah walau di tengah belantara yang terus merana karena diperkosa. Pemanasan global dampak tanaman itu tak dirasakan, terlena dengan gelimang minyak sawit yang disuplainya.

Sepertinya ekonomi memang sedang menggeliat. Digeli-atkan kepala sawit, setelah hutan dibabat habis dan tanah dikuras biji logamnya. Sepanjang jalan P.Bun-Sampit Kalteng didominasi oleh kendaraan pengangkut tandan kelapa sawit dan juga pengangkut minyak sawit mentah. Di setiap SPBU berderet rapi truk memenuhi tepi jalan membuat sopir kendaraan lain yang akan melintas harus menginjak rem. Angkutan-angkutan inilah yang bisa dijadikan biang kerok rusaknya jalan trans Kalimantan. Kalau dipikir, dengan eksploitasi SDA setempat mestinya juga bisa memperbaiki prasarana yang ada. Tapi nyatanya jalanan tetap tidak pernah mulus. Saya yakin ada pendapatan asli daerah (PAD) dari aktivitas perkebunan kelapa sawit ini, tapi saya tak tahu persis besarannya. Anggaplah cukup besar, dengan PAD yang cukup besar itu toh semestinya dikembalikan untuk memperbaiki sarana jalan yang juga dinikmati perusahaan sawit itu juga. Masyarakat hanyalah menikmati cipratannya saja, pas ketika mereka mlintasi jalanan yang mulus walau sebentar, selanjutnya hancur lagi.

Saya tidak tahu apakah memang ada skenario aktivitas ekonomi di daerah ini. Dari menebang habis hutan hingga gundul, mengaduk tanah menambang logam mulia hingga memburaikan tanah, kini giliran penyawitan. Hampir semua areal hutan yang telah gundul ditanami sawit, dan beberapa bagian ditanami pohon karet. Kekayaan alam benar-benar tereksploitasi tanpa henti. Semua demi mendenyutkan nadi ekonomi. Soal lingkungan? Sepertinya biarlah cucu cicitnya yang memikirkannya. Ketika melintasi perkebunan kelapa sawit yang ada pabrik pengelolaannya, semua pasti menikmati aroma tak sedap akibat limbahnya.

Memang benar masyarakat sekitar tidak lagi banyak yang menganggur asal mereka mau bekerja di perkebunan sawit. Jika dulu denyut ekonomi hanya didominasi pria kini wanita pun turut serta meskipun yang dilakoninya adalah sebagai pekerja kasar. Mulai dari tukang unduh tandan, pengangkut tandan, pembersih kebun, dan juga bekerja pada pabrik pengolahan kelapa sawit. Tak banyak masyarakat sekitar yang menempati posisi penting. Tenaga kerja dengan keahlian tertentu dengan gaji lebih tinggi disalurkan dari Pulau Jawa.

Luasnya daerah Kotawaringin Barat dan Timur yang dimekarkan menjadi beberapa kabupaten baru, semuanya sedang menyawitkan hutan gundul. Jika dulu orang kaya aktif mendanai pembalakan liar pada hutan, kini mereka bermain di persawitan. Taktis bagus dengan dalih menghidupi masyarakat. Ada benarnya juga. Meskipun dialah yang paling banyak mengeruk untung, yang kaya makin kaya yang miskin tetap miskin. Hidup miskin!

Dari pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan di wilayah daerah perkebunan sawit, ternyata menjanjikan dampak negatif pada lingkungan. Mungkin mereka sudah mempunyai prosedur dalam pengelolaan bulir kelapa sawit, dengan perlakukan standar. Tetapi perlu diingat bahwa sampah hasil olahannya tidak akan bisa diolah menjadi tidak mengancam lingkungan, mereka hanya menguranginya saja.

Berikut saya kutib dari adekrawie.wordpress.com tentang dampak negatif lain perkebunan kelapa sawit:

  1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai  erosi, hama dan penyakit.
  2. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
  3. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online).   Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
  4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan  karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
  5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan  pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama.  Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
  6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
  7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Kini masyarakat sekitar belum sepenuhnya merasakah semua dampak dari perkebunan kelapa sawit ini. Tapi tunggulah saatnya, lingkungan semakin terancam. Jika tidak tahun ini, tahun depan atau beberapa belas tahun lagi, kita semua pasti akan menikmati kesengsaraan akibat nafsu dengan berdalih peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Mari menanti petaka akibat perkebunan kelapa sawit.

Iklan