Trans Kalimantan yang Tak Pernah Mulus

urip.wordpress.com

Ini adalah tulisan saya pada jam pertama perjalanan dari Pangkalan Bun (Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat) menuju kota Palangkaraya (Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah). Perjalanan ini memerlukan waktu tempuh kurang lebih 11 jam menggunakan bis. Menikmati jalan dengan banyak berlubang, tak terawat, sebagai wujud pembangunan prasarana yang tidak beres. Naik bis bagaikan naik ayunan, menguji daya tahan rongga perut seisinya, menguji kestabilan isi kepala. Sampai kapan antar daerah di wilayah Kalteng bisa terhubung dengan jalan semulus kulit buah apel merah? Pembangunan yang tidak serentak, membuat jalan tidak pernah dalam kondisi baik. Tambal sulam pun tidak bisa menyelesaikan masalah. Bulan ini selesai diperbaiki 2 bulan kemudian mulai lubang bermunculan kembali.

Tepian jalan bak mata gergaji siap memakan mangsa, mengancam nyawa setiap pengendara terutama roda dua. Siapa mau perduli. Namun tak ada alternatif selain harus melewatinya, melintasinya demi suatu keperluan. Jalan itu menghubungkan wilayah satu dengan yang lain seperti kabel yang dikerikiti sang pengerat. Tak perduli bahaya yang penting bisa terkoneksi. Memang baru sampai situ layanan umum di daerah ini.

Selain tepian jalan yang habis terkikis air ketika hujan turun, membuat jalan seolah semakin tinggi, memberi kesenjangan permukaan jalan dengan tanah penahannya yang semakin menjauh. Jika roda 2 menggelincir dengan kecepatan sedang saja dan tak terkendali maka celakalah tak terperi, bahkan bisa melayang nyawa pengendaranya. Penguasa negeri adakah kau perduli. Mungkin semua itu juga karena dikorupsi, ah sudahlah itu pasti.

Tapi bukanlah disebut orang Indonesia kalau tak pandai bersyukur. Bersyukur sudah ada jalan, walau banyak lubang, dengan tepian keriting. Suatu pemikiran yang mungkin dijadikan alasan penguasa untuk membangun ketakperdulian. Dengan prinsip asal ada semua akan memaklumi. Paling jika ada yang celaka ia menyalahkan karena ceroboh tak hati-hati. Memang paling enak menangani proyek jalan. Kerusakan jalan bisa didalihkan pada kendaraan yang melintas melebihi tonase. Padahal kerusakan itu karena material disunat demi fee atau komisi. Sungguh keji.

Demi waktu raksasa jalanan di trans Kalimantan melindas lubang menganga, menghajar comberan kubangan lumpur coklat muda laksana susu. Jika perjalanan dengan aspal mulus, banyak orang yang bisa menikmatinya. Pangakalan Bun – Palangkaraya, orang tak kuat menahan kantuk saja yang bisa menikmati untuk dapat istirahat, tidur mendengkur. Hentakan yang siap menghajar perut seisinya, sesekali membenturkan kepala pada jok kursi. Sebagai orang Indonesia tetap bersyukur. Masih kuat untuk melaluinya.

Masih beruntung lagi sepanjang jalan terlintasi, layanan data setingkat gprs masih dapat dinikmati. Membunuh kejenuhan, menunggu sampai tujuan, tak lama, sekitar 11 jam. Sambil menikmati ayunan, ayun kanan-kiri, depan belakang, sesekali meloncat ketika roda melindas lubang raksasa. Saya lirik kekuatan sinyal gprs hanya 1 strip. Saya paling tidak tahan ketika naik bis mengisi waktu dengan membaca, semakin pusing saja. Namun dengan menulis ternyata tidak membuat kepala pusing. Mungkin karena aktivitas otak bekerja berbeda.

Sesekali menikmati hijaunya tanaman diselingi alang-alang dan belukar, membuat mata sedikit segar. Deretan tiang penyangga kabel baja yang selalu mengikuti lajunya raksasa jalanan. Sambil menulis entah apa jadinya, karena membaca ulang malas meski sekedar memperbaiki kata. Hanya menggerakan ibu jari menekan qwerty dan sekitarnya. Refleks tak perlu perintah memaksa.  Cobalah menikmati perjalanan dengan jalan berlubang sambil menulis.

Iklan

2 responses

  1. menulis membuat hilang mabuk darat …. kalo di udara malah dilarang menyala henfon wkwkwkwk

    1. Loh kan bisa ada modus penerbangan kalau makai henfon :))