Hanya Mengkritik Tak akan Memperbaiki Keadaan

urip.wordpress.com

Menyadari kebodohan diri sendiri lebih utama daripada menyadari kepintaran diri sendiri. Tapi tak cukup sekedar sadar, segera belajar lagi dan lagi. Menyalahkan diri sendiri lebih baik daripada menyalahkan pihak lain. Kalau diri merasa bagian dari suatu sistem dan ada ketidakberesan sistem maka kita termasuk sebagai penyebabnya. Salahkan saja diri sendiri. Lakukan koreksi diri secepat mungkin, tak usah perduli dengan pihak lain.

Saya baru sadar selama ini sering mengkritik kebijakan pendidikan, padahal saya ada dalam sistem pendidikan itu juga. Saya tak memperbaiki pendidikan melalui diri saya, saya sering berharap ada perbaikan dari pembuat kebijakan. Padahal saya (guru) tidak punya nilai tawar apapun terhadap kebijakan nasional, kritik pun saya yakin sekedar luapan ketidakpuasan belaka, tak mengubah keadaan pendidikan sedikitpun.

Saya salut dengan rekan saya, ia tak pernah menulis kritik sedikitpun tentang apapun yang terjadi pada pendidikan di negeri ini. Ia hanya melakukan segala upaya untuk memperbaiki keadaan lewat tindakan nyata. Improvisasi dan kreativitasnya saya acungi jempol, inovasinya luar biasa dalam pembelajaran. Banyak hal yang ia lakukan dan ditularkan kepada sesama guru di pelosok negeri. Saya sendiri hanya mengkritik! *bangun dari pingsan*, Sekarang saya ingin seperti rekan yang saya saluti itu.

Kadang kegemasan atas ketidakpuasan kebijakan pendidikan muncul begitu saja. Tidak hanya saya sendiri. Rekan saya yang juga guru sering meluapkan itu dalam tulisan. Hanya puas begitu saja setelah menuliskannya. Sekali lagi itu tidak mengubah keadaan. Sadar bahwa saya (guru) hanyalah orang yang bertugas mengemban amanah mendidik anak bangsa, apapun kebijakan pemerintah. Introspeksi dan introspeksi sajalah.

Mungkin inilah yang sering dilontarkan banyak pihak, bekerjalah sesuai bidang tugasmu. Jadi guru tidak patut melakukan kritik, guru bukanlah pengamat pendidikan. Guru adalah orang yang hanya berkewajiban mendidik. Kapasitasnya hanya sebatas itu. Untuk apa mengkritik sementara kritik kita tak pernah didengar. kita hanyalah sebatas menjadi guru. Mengeluh tiada guna, mari jalani saja.

Kini saatnya untuk tidak melakukan kerja yang bukan kapasitas diri, walaupun itu hanya onani otak lewat tulisan. Guru masih banyak pekerjaannya. Tanggung jawabnya besar walaupun lingkup kerjanya hanya dibatasi tembok sekolah. Biarlah apapun yang terjadi di luar dari tembok kotak seukuran 9×8 meter, mari kelolah isi kotak itu yang menjadi tugas kita, saya, dan anda (guru).

Apa yang terpikir ketika menulis kritik? Apakah menunjukkan kesalahan sambil menunjukkan solusinya? Andai kritik kita sampaikan ke yang bersangkutan secara langsung mungkin akan tepat, tapi kritik kepada pengambil kebijakan dan tak mungkin membaca tulisan kita? Apakah kita merasa hebat, paling tahu dan pihak yang dikritik tak tahu menahu? Pernah saya mencoba menyadarkan diri lewat tulisan, adakah pengaruh kritik kita itu?

Barangkali kita hanya boleh dan patut mengkritik diri sendiri. Bagai kerikil kecil di dasar laut mengkritik langit ke tujuh. Tak kan pernah kesampaian, tak pernah didengar, sia-sia saja. Sebagai guru andai kita mau mengkritik diri dalam sebuah tulisan pastilah berderet-deret kalimat yang bisa kita tulis. Tapi dengan angkuh kita sudah merasa benar, merasa! Nyatanya kita banyak lakukan ketakberesan.

Aneh memang, saya sadar bahwa saya (guru) bukanlah siapa-siapa apalagi sering melontar kritik yang menggelikan namun tak membuat ketawa yang digelitik, namun selalu saja membuat tulisan kritik. Kini saya janji untuk tidak lagi menulis kritik tapi tak berarti mengamini semua. Tapi apapun yang terjadi itu semua akan saya telan saja. Tugas saya mengajar, mendidik siswa yang dititipkan kepada sekolah saya.

Iklan

One response

  1. I Putu Budiarta

    Yth. Pak Urip
    mohon penjelasan : bagaimana cara mengidentifikasi senyawa aromatis, dari rumus struktur yang diberikan