Guru Perokok, Masih Pantaskah Jadi Pendidik?

urip.wordpress.com

Banyak orang pintar dan terdidik, bahkan pendidik namun merokok juga. Apakah tidak ada kaitan antara harus merokok dengan logika kepintarannya? Apakah tidak lengkap kalau tidak merokok? Apakah pantas dan harus dimaklumi seorang pendidik merokok meskipun sedang tidak di lingkungan sekolah? Apakah ia tak sadar itu akan ditiru siswanya? Guru tapi perokok? Apa mau mengajari siswa merokok juga? Pembenaran dan pengelakan lagi?!

Semua ruang umum berbau pendidikan diupayakan disterilkan dari iklan rokok. Hanya iklan saja yang di dalamnya tertulis peringatan merokok tidak baik untuk kesehatan pun tidak boleh bebas mengiklankan diri. Ruang publik pertelevisian pun hanya diberikan jam iklan khusus. Itu pun tidak boleh ditampakkan rokoknya. Iklan rokok ini rupanya hanya terjadi di Indonesia. Negara yang belum punya komitmen untuk menyehatkan rakyatnya. Hanya memikirkan keuntungan jangka pendek. Guru perokok malah lebih memprihatinkan,  ia tidak dibayar untuk mengiklankan rokok yang dihisapnya tetapi secara tak disadarinya guru perokok itu menjadi media iklan yang tak dibayar!

Prilaku guru itu tidak dapat diparsialkan. Profesi guru itu bersifat melekat berlaku 24 jam. Di luar sekolah juga tetap disebut guru, apalagi kepala sekolah. Apakah pantas pendidik turut ‘mengkampanyekan’ gerakan ayo merokok dengan aktivitas merokok-nya? Kalau diingatkan selalu saja berseloroh yang tidak mencerminkan prilaku seorang pendidik, dengan mencari pembenaran. Tak pantas deh guru seorang perokok!

Sebuah pengingkaran logika akan aktivitas merokok bagi orang yang diberi akal. Apalagi kalau diri kita seorang guru. Mungkin kalau bukan guru mencari dalih pembenaran untuk merokok masihlah dimaklumi, kalau guru, itu sudah terlalu. Anda, temen saya, guru, kepala sekolah, yang baca tulisan ini pikirkanlah dan hentikanlah kebiasaan merokok itu. Banyak aktivitas pengalihnya kok, jangan cari alasan lain lagi, ya.

Andai logika yang ia pakai benar mestinya orang tidak akan mau merokok apapun alasannya. Soal kebiasaan, merokok jelas kebiasaan buruk. Merokok merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Carilah logika pembenarannya, yang kita dapat pastilah ingkaran akan logika normal. Ada cara elegan lain yang tidak merugikan diri, orang lain dan lingkungan kok. Mau tau? Pakai saja logika normal kita.

Anda, temen saya di facebook, mengaku berprofesi guru, tapi perokok, sudah saatnya hentikan kebiasaan buruk merokok. Anda mau semua anak didik anda jadi perokok? Anda tidak mengajarkan untuk merokok secara tak langsung, tapi mengajarkannya dengan prilaku anda yaitu prilaku merokok meskipun merokok di luar lingkungan sekolah. Sadarilah itu. Sayangi mereka juga keluarga anda dengan tidak mengasapinya dengan asap rokok.

Saya memang tidak suka merokok, tidak kuat asapnya itu. Tapi di rumah tetap saya siapkan asbak plus kipas angin untuk temen saya kalau bertamu. Kipas angin untuk membuang asap rokoknya. Saya tidak bisa melarangnya, tapi hanya ingin menyadarkan saja utamanya teman-teman guru perokok, kalau saja mau siuman dari ketaksadaran merokok itu. Guru tidak sepantasnya jadi perokok, ayo berhentilah merokok…

Tahu model pendidikan karakter kan?! Apakah teman guru mau mengajarkan karakter manusia perokok kepada siswa (langsung atau tidak langsung)? Menghentikan kebiasaan buruk merokok tidaklah sulit, kecuali saudara memang suka berdalih mencari pembenaran untuk terus merokok. Tunjukkanlah karakter berdaya juang tinggi lewat perjuangan stop merokok. Semua pasti bisa.

Anak sekolah, sd, smp, sma mengalami peningkatan persentase signifikan untuk kegiatan merokok. Seperti yang ditulis Jawa Pos Online ini. Iklan rokok yang sukses dengan memberi kesan positif dan juga teladan orang sekitar membuat mereka mencoba dan merokok terus. Tak perduli orang tua, bahkan guru pun ikut memberikan contoh bagi anak untuk merokok. Kondisi Indonesia berbanding terbalik dengan negara maju. Ayaloh rekan guru hentikan merokok-mu, kau tak dibayar untuk mengiklankan rokok yang kau hisap itu kan?!

Teman guru… Merokoklah selama kau hidup. SIKSALAH dirimu sendiri, keluarga, siswa, teman, dan lingkunganmu dengan asap rokokmu. Lakukan terus jugan henti karena kau merasa kaulah orang terbaik yang selalu membantu petani tembakau, pekerja pabrik rokok, pengusaha rokok untuk selalu eksis. Tapi MAAF jangan lupa berhentilah terlebih dahulu dari profesi guru, profesi pendidik, kalau anda enggan berhenti merokok. Anda tak pantas jadi guru kalau tetap bertahan jadi seorang perokok!

Silahkan baca tautan berikut kalau berniat mau berhenti merokok:

Beberapa tulisan sarkas tentang merokok:

12 responses

  1. terima kasih pak sudah mengingatkan heheee.. sekalian mau sharing sedikit :
    hampir 20 tahun lebih saya merokok dan makin lama frekuensi maupun jumlah yang saya konsumsi juga semakin banyak..(terakhir saya bisa 1 atau 2 bungkus/hari untuk rokok isi 16 btg)
    tapi sekarang ini mulai berhenti merokok. Bukan karena alasan saya seorang guru seperti artikel pak Urip diatas, tapi lebih dari keinginan saya sendiri. Kesadaran pada kesehatan dan sayang pada keluarga lebih mendorong saya untuk itu.
    Memang tidak mudah..bahkan cenderung sangat sulit untuk bisa berhenti merokok (apalagi kalau berada di lingkungan perokok).
    Tapi saya tetap bertekad untuk membuktikan bahwa keyakinan lebih kuat dari keinginan..saya pasti bisa kalo saya pikir saya bisa melakukannya.
    disamping memupuk tekad dan belajar self hipnoterapi saya juga mengkonsumsi resep sederhana dari seorang teman :
    pertama, tiap pagi selama 7 hari setelah bangun tidur saya minum rebusan air kelapa muda (kelapa gading), kedua setelah minum dilanjutkan dengan mengunyah jahe (dipotong kecil). Saya sudah buktikan… keinginan merokok berkurang (kalo nekad merokok juga rasanya sudah ga enak) ditambah tekad kuat pasti bisa.
    terakhir saya merokok sebulan yang lalu dan saya yakin saya bukan perokok!

    Dulu saya merokok? sudah lupa tuh 🙂

    1. Motivasi internal jauh lebih kuat untuk tetap bertahan untuk tidak merokok. Hebat, salut!

  2. hindari merokok wahai guru + smua yg merokok. Klau memang kalian tidk merasa dirugikan oleh rokok, maka pikirkan orang lain yg tersiksa dengan asap rokok kalian.

    1. 🙂 Setuju, Sip dah!

  3. muantap ni posting … sy happy tak merokok 🙂

  4. Betul sekali pak..
    semua peraturan, peringatan pemerintah, semua data tentang rokok yang merugikan kesehatan dan harga yang terus melambung tinggi tidak mempan untuk menghentikan kebiasaan merokok selama tidak ada motivasi internal
    sekarang saya bisa mulai belajar lagi untuk menjadi guru (yang bisa digugu dan ditiru)

    1. Betul setuju banget deh

  5. saya sangat setuju sekali..! Banyak orang cerdas di negeri ini disetiap bidangnya, masak sich yang namanya tembakau hanya bisa dibuat rokok saja….!
    Postingan saya juga ada yang mengenai rokok: “tahlilan berbau rokok”

    1. Hehehe begitulah… kalau sudah ketagihan, meskipun tahu dampaknya tetep saja yah 🙂

  6. Kritikan yang bagus dan membangun bagi para pendidik dan pengajar yang bagus pak, wah salut saya kepada bapak. Yah harusnya memang para pendidik memberi contoh positif bukan malah mendidik yang negatif seperti halnya merokok, apalagi kalau merokok di depan anak didik sendiri, wah bahaya. Terima kasih pak anda telah membuka mata bagi para pengajar dengan tulisan ini. Tetap semangat menulis 🙂

    1. Kalau merokok sampai di depan anak didik yah agak-agak terlalu deh 🙂

  7. kalau terpaksa merokok, ya jgn mengganggu orang saja…