Beranikah Sekolah Menerima Siswa Tanpa Penyaringan?

Urip.wordpress.com

Tidak lama lagi setiap sekolah akan melakukan penerimaan siswa baru. Orang tua pasti sibuk untuk menentukan di mana anaknya akan bersekolah, akan belajar. Pasti mereka akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang menurut penilaian kebanyakan orang merupakan sekolah terbaik di daerahnya. Sangat manusiawi, orang tua akan memberikan hal terbaik bagi anaknya untuk belajar di sekolah yang baik, yang difavoritkan. Yang tidak manusiawi adalah sistem penerimaan siswa baru oleh sekolah itu. Saya teringat dengan tulisan pak Munif Chatib dalam buku Sekolah-nya Manusia. Pikir saya maukah sekolah-sekolah yang difavoritkan masyarakat itu menerima siswa baru secara manusiawi? Ini yang akan saya bahas pada tulisan saya kali ini.

Konsep sistem penerimaan siswa baru yang ditawarkan pak Munif Chatib adalah menerima siswa tanpa tes dan pendaftaran akan ditutup manakala jumlah pendaftar sudah memenuhi kuota penerimaan sekolah itu. Apapun keadaan siwanya asal masih ada kuota maka siswa tersebut akan diterima dengan pintu terbuka lebar. Tanpa mempertimbangan kemampuan akademik siswa, dan kemampuan ekonomi orang tua siswa. Pokoknya siapa cepat mendaftar maka ia akan diterima di sekolah itu. Ini yang dikatakan pemerimaan siswa secara manusiawi. Mungkin anda akan bertanya apa mungkin itu dilakukan? Lalu bagaimana dengan proses pembelajarannya kalau siswanya tidak disaring selama penerimaan siswa? Dan pasti akan banyak lagi pertanyaan dengan sistem tadi. 🙂 Saya tahu itu diluar kebiasaan selama ini. Apalagi penerimaan siswa baru bagi sekolah yang sudah terlanjur diidolakan atau difavoritkan.

Okelah. Sistem seperti tadi tentu akan membuat tanda tanya besar. Pasti itu. Sifat kemanusiaan sistem penerimaan siswa yang dimaksud adalah tidak membeda-bedakan kemampuan siswa baik segi akademik maupun latar belakang lainnya. Justru di situlah tantangan yang akan dihadapi pihak sekolah, terutama guru-gurunya, bagaimana mengelola keadaan anak dengan berbagai talenta dengan kemampuan berpikir analitis untuk memperlancar proses pembelajaran. Ini sejalan dengan seperti usahanya Prof. Yohanes Surya yang berani mengambil langkah untuk mencari anak yang paling bodoh di suatu wilayah untuk dididik dan diproyeksikan setalah sekian tahun akan mewakili Indonesia dalam olimpiade international matematika atau fisika. Ia berkeyakinan bahwa sesungguhnya tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak-anak tersebut belum mendapatkan guru berkemampuan mengajar dengan metode yang tepat dengan kemampuan anak.

Kalau sekolahnya manusia miliknya pak Munif Chatib adalah didasarkan pada multipleinteligen siswa. Dengan mengetahui multipleinteligen siswa akan dibimbing guru yang tahu persis bagaimana menangani siswa sesuai dengan potensi kehebatannya masing-masing. Sedangkan Prof Yohanes, saya tidak tahu persis, tetapi sepertinya ia mengandalkan metode yang tepat dalam mengajarkan pelajaran-pelajaran yang selama ini dianggap momok. Ada metode belajar matematika gasing dan sebagainya. Jadi intinya keduanya mengandalkan kemampuan guru dalam mengajar. Sudah ada bukti untuk kedua cara yang digunakan itu, siswanya memiliki prestasi luar biasa dengan segala kemampuan awal yang dimiliki siswa. Siapapun yang semula ragu akhirnya yakin akan prosedur pembelajaran yang digunakan keduanya.

Yang mengambil peran dalam sekolah-sekolah model seperti itu adalah GURU. Guru-guru yang hebat, yang telaten mendampingi siswa belajar hingga mengantarkannya meraih sukses sesuai dengan potensi dirinya. Luar biasa. Sepertinya metode yang digunakan oleh orang-orang di atas sudah saatnya diadopsi dunia persekolahan. Itu akan berhasil kalau mendapat dukungan pemerintah penuh. Kalau tidak maka sekolah-sekolah swasta akan mengincar metode tadi dan menerapkannya kepada anak didiknya. Sekolah negeri yang didanai pemerintah mengapa tak melirik cara-cara tadi, apakah memang tidak niat maju dan tetap keukeh dengan keadaan sekarang? Menurut saya mengabah pola penerimaan siswa baru seperti di atas tidak sulit. Menyediakan guru yang bisa mengajar dengan berbagai talenta anak juga tidak sulit. Tergantung pemerintah mau apa tidak untuk menjadikan guru hebat, mau apa tidak guru-guru di sekolah negeri itu berjuang, menikmati bagaimana mengantarkan siswa dengan kemampuan awal yang biasa-biasa saja menjadi orang hebat seperti yang dilakukan oleh Prof Yohanes Surya itu.

Mengapa sekarang pemerintah tidak mengalokasikan dana khusus agar setiap sekolah mendapatkan pendampingan dengan memberikan konsultan hebat untuk tiap sekolah. Terbukti selama ini ada pengawasan atau pembinaan tidak memberikan hasil signifikan, tidak lebih dari rutinitas namun kurang membawa hasil siginifikan. Optimalisasi fungsi lembaga atau badan dalam pembinaan guru sepertinya juga sekedar asal jalan. Ah jadi ngelantur nih. Padahal saya sudah tobat untuk tidak mengkritik soal kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Tapi memang gemes banget sih 🙂

Apapun metode penerimaan siswa baru hendaknya manusiawi. Ada siswa yang ingin sekolah tapi kenapa harus dites ini itu. Bukankah peran guru mengubah keadaan siswa dan membangkitkan potensi yang dimilikinya? Lantas mengapa siswa yang memang membutuhkan itu tidak diterima, malah ditolaknya, kasihan banget siswa yang seperti itu semakin tidak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Sangat tidak manusiawi. Mereka akan sekolah di sekolah-sekolah yang memang kurang bisa memberikan pendampingan untuk melejitkan potensi, semakin terpuruklah mereka. Ada kesan sekolah hanya akan melayani anak-anak yang pinter dengan indikator hasil tes-nya itu. Guru terkesan tidak mau repot, padahal kita guru digaji untuk itu, tidak hanya mengajar anak-anak yang ber-IQ tinggi saja, ini sangat tidak manusiawi. Peran kepala sekolah dalam mengarahkan dan mengajak guru untuk mendidik, mengajar, mendapingi tumbuh kembang kemampuan dan kehebatan siswa sangat besar. Kecuali kepala sekolah juga tidak mau repot dan hanya ingin sekolah maju, maju karena memang inputnya dipandang baik. Ini tak manusiawi, lihatlah anak-anak yang tersisih itu, siapa yang mau memperdulikan mereka. Pantas saja pak Munif Chatib memandang sekolah seperti itu bukanlah sekolah yang manusiawi.

Ayo beranikah sekolah kita menerima siswa tanpa tes dan kita berjuang untuk melejitkan potensi diri siswa? Maukah sekolah kita menjadi sekolah-nya manusia yang manusiawi? Hem kapan lagi kita jadi manusia dengan menyediakan sekolah untuk manusia, sekolahnya manusia.