Mengawas Ujian, Menjaga Nilai Kejujuran Siswa

urip.wordpress.com

Ngawas ujian kok ditinggal, gimana bisa mempertanggungjawabkan atas siswa yang harus diawasi. Ngawas ujian kok ditinggal ngobrol? Saya kira kita semua pernah melakukan hal serupa, disadari atau tidak. Sebaiknya kita harus menyadri hal itu sedini mungkin. Kalau semua guru begitu, tak perduli akan tanggung jawabnya selama mendapat tugas mengawas ujian, hancurlah pendidikan, siswa yang tadinya mau jujur diberi kesempatan untuk nyontek. Inilah bibit yang akhirnya bisa memerosotkan mental anak Indonesia

Banyak keanehan dalam sistem ujian yang terjadi di kebanyakan sekolah. Mulai saat UN, UAS, hingga ulangan tiap akhir pokok bahasan ada prinsip yang tidak sejalan untuk proses ulangan/tes/ujian itu. Saat UN ada saja guru yang berusaha membantu siswa menjawab soal entah dengan memberi jawaban atau membiarkan kecurangan terjadi. Saat UAS pengawasan tidak ketat, saat ulangan harian guru jujur sejujurnya, bahkan soal PR saja kalau tidak mengerjakan sampai ada yang dihukum ketika siswa tak mengerjakan. Belum lagi soal yang dibuat sering tanpa acuan. Inilah salah satu lemahnya guru yang ada. Saya juga masih payah tapi tetap berusaha untuk menjadi lebih baik.

Aktivitas mengawas ujian semestinya dilakukan dengan tujuan tidak terjadi kecurangan, menjaga kejujuran pada siswa saat ujian. Guru mengawas tidak perlu banyak bicara, cukup bicara seperlunya. Tapi kadang ada saja pengawas ngobrol dengan siswa di kelas saat ujian berlangsung dan itu tidak perlu, guru sambil cari perhatian siswa rupanya. Itu akan sangat mengganggu siswa yang sedang konsentrasi mengerjakan soal ujian. Tapi maklum itulah kekuasaan seorang guru yang sewenang-wenang. Guru kurang perhatian dan haus kekuasaan maka dicarinya dari siswa. 🙂 Benar atau tidak?!

Suatu ketika saat saya mengawas UAS, di kelas sebelah ada siswa UAS yang ribut, ngeracau siswanya ngomong tidak perlu sampai terdengar dari kelas yang saya awasi. Siswa-siswa tersebut rupanya nanggapi ulah atau celoteh guru pengawas. Niatnya mungkin ingin akrab dengan siswa lantas ia ngobrol sekenanya. Karena ulah guru pengawas itu bahkan ada siswa tertawa bersama, koor. Aneh memang itu dilakukan saat ujian sedang berlangsung. Bukankah tidak tepat saatnya. Siswa pasti akan terganggu dengan ulah pengawas seperti itu. Saya yakin di setiap sekolah ada yang suka bertingkah begitu.

Saya sendiri terinspirasi dari guru sma dulu kalau mengawas ujian. Setelah membagi kertas ulangan soal, presensi siswa, ia berdiri di ruang kelas bagian belakang. Ia merasa mudah memantau siswa dengan segala gerak-geriknya. Siswapun tidak berkutik dan tak merasa terintimidasi oleh pengawasannya. Tidak perlu banyak bicara, dan tidak perlu mondar mandir seperti setrika-an, hehehe jadi ingat guru saya sd dulu. Memang jika guru pengawas suka berceloteh saat mengawas akan memancing siswa untuk berulah juga. Kalau sudah demikian ia akan semakin banyak bicara untuk sekedar mengingatkan siswa untuk diam dan tidak ribut. Salah sendiri kan?!

Posisi mengawas di belakang siswa dalam ruang kelas sangat memudahkan memantau siswa yang sedang ulangan. Itu menurut saya. Tapi itu tergantung kebiasaan guru dalam mengawas. Tujuannya adalah menjaga kelancaran selama proses ujian berlangsung dan mencegah tindak kecurangan yang dilakukan siswa saja. Siswa yang mau berbuat curang pasti ingin melihat di mana posisi pengawas sehingga siswa merasa aman, dan siswa pasti menolehkan kepalanya. Bagi saya ini mungkin sudah bisa jadi indikasi awal siswa mau berbuat curang. Apalagi kalau itu dilakukan berulang-ulang dan ada tindakan komunikasi dengan teman. Bandingkan jika pengawas berada di depan kelas, siswa dgn mudah mencari kesempatan untuk nyontek dan sebagainya begitu guru pengawas lengah. Tidak perlu tolah-toleh untuk memastikan keberadaan guru pengawas.

Kadang memang ada guru yang tak perduli dengan pengawasan yang ia lakukan. Banyak alasan yang dimilikinya. Salah satunya karena ia tahu persis tradisi di sekolahnya, saat ujian nasional dilakukan kecurangan secara “legal” dan terstruktur. Seperti yang dilakukan di sebuah SD di Surabaya itu. Sangat tidak mendidik kalau benar itu dilakukan oleh sekolah. Sebenarnya kejujuran adalah nilai-nilai pendidikan yang harus benar-benar dijaga, tapi karena banyak kepentingan akhirnya kejujuran tergadaikan. Guru yang tahu persis akan hal itu lantas mengejahwentakan ke dalam pola pengawasan saat ujian-ujian lainnya. Remuklah pendidikan kalau begitu. Harus dari mana memulainya? Yuk kita mulai dari diri sendiri saja. Semoga semakin banyak guru yang berprinsip sama dengan kita untuk konsisten “mendidik” anak bangsa.

Wassalam.

Iklan