Yakin dengan Bahasa Nasional Kita Dapat Bersaing!

urip.wordpress.com

Simbol-simbol nasionalisme mulai banyak yang menyoroti seperti bendera dan lambang negara. Tapi soal bahasa sepertinya tak ada yang mau perduli. Kita tengok saja di SBI/RSBI yang akan mengedepankan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Kalau mau membandingkan sekolah di Jepang bahasa pengantar utama ya tetap mempertahankan bahasa asli negara. Buku-buku banyak sekali dialihbahasakan menjadi bahasa Jepang. Dampaknya banyak orang mengerti dan menguasai ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi. Bahasa bukanlah soal bahasa saja. Indonesia malah sibuk menginggriskan pembelajaran. Dampak penginggrisan tak usah ditunggu kita sudah bisa perkirakan.

Saya yakin akan menjadi terlambat soal bahasa nasional yang banyak dihindari dan tak dikuasai orang Indonesia sendiri. Sama halnya dengan penghilangan pelajaran Pancasila itu. Kini ramai-ramai ingin kembali mengharuskan Pancasila diajarkan. Memang Pancasila dan bahasa itu tidak cukup dimaknai sebagai simbol saja seperti yang selama ini, tapi perlu pengahayatan nilai kebangsaan, perlu penjiwaan. Untuk jadi pelajaran penilaiannya tidak cukup hanya menjawab soal yang bersifat formalitas, akhirnya dirasa pelajaran Pancasila tak merasa diperlukan lagi. Bahasa jangan sampai seperti itu lagi.

Kalau boleh jadi ukuran kita bisa lihat hasil UN, bahasa Indonesia hasilnya lebih buruk dibanding bahasa Inggris. Meskipun itu tidak berarti siswa Indonesia lebih menguasai bahasa Inggris. Siswa peraih nilai UN tertinggi pun tak sanggup menjawab dengan sempurna. Sepertinya ada yang salah dalam pengajaran bahasa di sekolah, saya sendiri tidak tahu apa itu. Bahasa negeri sendiri tak terkuasai, bahasa menjadi lebih sulit dibanding matematika. Menurut rekan saya, Panji Irfan yang guru bahasa Indonesia ini, bahwa pengguna bahasa yang paling paripurna adalah dengan mempraktikkan bahasa baik dan benar. Baik dan benar bukan melulu berbahasa baku. Baik bermakna kontekstual, benar bermakna tepat ujarannya. Ketepatan mengerjakan soal tertulis hanyalah sedikit cara mengukur kemampuan siswa. Kegiatan praktiknya lebih bermakna tapi sayang ini tak terukur dalam ujian-ujian bahasa selama ini.

Kembali ke soal pengalihbahasaan bahan ajar, Negari Jepang sudah menyadari sejak awal perlunya pengalihbahasaan agar iptek cepat dikuasai bangsa dan bisa bersaing dengan negara lain. Ia bayar mahal warga yang dapat menerjemahkan sumber belajar. Bangsa kita malah latah, berharap bisa hebat dengan penguasaan bahasa asing, bahasa sendiri sudah mulai tak disukai. Padahal kemampuan bahasa asing bangsa ini tetap payah. Lihatlah banyak dosen, guru, dan siswa saja keteteran berbahasa Inggris. Kapan bisa menyejajarkan diri dalam iptek? Seolah bisa berbahasa asing jadi segalanya. Seolah hebat, padahal bahasa itu hanya pengantar. Bukankah banyak ahli bahasa yang dapat membantu mengalihbahasakan berbagai sumber ilmu. Mengapa harus semua bisa dan dipaksa. Kalau bisa sih no problem. Tanpa sadar akan kemampuan kita ingin serba bisa.

Mau kuasai isi atau hanya pengantarnya saja. Jangan sampai orang pada sibuk menguasai bahasa pengantar tapi isinya tak terkuasai. Toh dengan sendirinya siapapun akan merasa perlu menguasai bahasa asing tanpa harus dipaksa. Saya yakin bangsa ini tak kalah dengan Jepang andai saja sejak awal sampai sekarang bisa fokus pada apa yang hendak dikuasai. Bahasa tidak boleh jadi kendala, dipermasalahkan, dan tidak harus dikuasai sepenuhnya setiap orang. Bagi bangsa kita itu perlu waktu lama. Apalagi kita tahu persis budaya bangsa kita, banyak yang malas. Menurut saya cukup sebagian orang kalau memang bahasa asing jadi masalah. Sambil jalan kita yakin banyak yang tidak tinggal diam, tidak mau belajar menguasai bahasa asing. Kita harus bangga dengan bahasa sendiri. Saya bangga dengan Pak Harto yang kukuh berbahasa Indonesia ketika bicara di forum internasional, bukan berarti ia tak bisa berbahasa Inggris. Itu soal rasa nasionalisme yang harus terus dipertahankan.

Kalau kita mau sadari, seperti berbagai pelajaran di sekolah, bisa kita kuasai karena selama itu sudah dialihbahasakan sebelumnya. Memang bisa berbahasa asing akan lebih banyak yang kita tahu tapi itu bukan segalanya. Sudah saatnya kita menyadari bahasa negeri untuk dilestarikan tidak malah menomorduakan. Jangan sampai nanti kalah dengan bangsa lain yang sudah mulai banyak mempelajari bahasa kita.

Soal pengalihbahasaan memang diperlukan penerjemah ulung dan harus dibayar sepadan sebagai jembatan penghubung ilmu dengan dengan orang yang ingin mempelajari ilmu itu sendiri. Tapi sepertinya tidak ada komitmen dari pemerintah untuk memfasilitasi hal itu. Akibatnya banyak literatur yang diterjemahkan dengan kemampuan seadanya yang pada akhirnya tidak lagi dilirik oleh pada pengguna. Buruknya kemampuan penerjemah itu bukan berarti tidak ada yang sanggup lebih baik. Untuk menjadi penerjemah memang harus menguasai segala hal yang terkait dengan bahan yang akan diterjemahkan, sehingga tidak mengubah makna. Mungkin awalnya kondisi Jepang juga tak jauh beda dengan kita, namun komitmen tinggi pemerintah akhirnya ia bisa melejit, menyalip negara maju lainnya. Kita?

5 responses

  1. terkadang orang indonesia, kurang pede sebagai bangsa Indonesia, inginnya meniru tapi meninggalkan apa yang sudah kita punya

  2. bahasa Indonesia adalah kekayaan yang tak ternilai harganya,, tapi ingat bukan hanya kekayaan bangsa, tapi bahasa juga kekuatan, pemersatu kitu… (janji sumpah pemuda).. jayalah negriku Indonesia.

  3. saya pribadi berpikir bahwa penguasaan bahasa asing terutama yang banyak dipakai dalam khasanah keilmuan yang saya geluti sangat membantu dalam memahami berbagai konsep dan idenya. saya setuju dengan pengalihbahasaan sumber2 berbahasa asing menjadi bahasa Indonesia. namun akan sangat lucu jika seorang sarjana sastra Inggris bahkan sarjana pendidikan bahasa Inggris diminta menerjemahkan buku teknik nuklir berbahasa Inggris. jangankan teknik nuklir yang melibatkan matematika rumit, buku biologi berbahasa Inggris saja sudah cukup membuat sarjana sastra Inggris mengernyitkan dahi. yang sering saya temui adalah kata kista yang konon diterjemahkan dari kata cyst. padahal cyst itu secara sederhana berarti sekumpulan sel yang aktif membelah dan bisa menembus linea-linea dalam tubuh seperti uterus. lalu ada lagi kata synapse yang selalu diterjemahkan menjadi sinapsis, padahal kata synaptic sendiri juga ada dan diterjemahkan sebagai sinapsis. jadi mestinya, lulusan teknik atau science yang berkemampuan bahasa asing yang baik yang diminta menerjemahkan buku-buku berbahasa asing sesuai bidang masing2. senyampang membentuk lulusan yang berkemampuan bahasa asing, tentu membiasakan berbahasa asing di lingkungan kampus adalah suatu kebutuhan. lebih baik lagi jika pembiasaan bebahasa asing dilakukan di lingkungan pendidikan dasar dan menengah

  4. Hi, I log on to your blogs daily. Your humoristic style is awesome,
    keep doing what you’re doing!

  5. I would really like to thank you for the
    actual efforts you earn written this short article.
    I hope a similar best work within you later on too. In reality your creative creating
    abilities provides influenced me to start out my very own BlogEngine wewebsite
    right today. Really the running a blog is actually distributing the agency quickly.
    The write down can be a great example of this.