Android, Sarana dan Sumber Alternatif Belajar Kimia

urip.wordpress.com

Android adalah plaform sistem operasi pada perangkat mobile (seperti smartphone/telepon selular atau sejenisnya) yang sudah mulai banyak diaplikasikan para vendor besar dan terkenal. Kalau belum bisa membuat aplikasi atau memang tidak berniat jadi pengembang karena keterbatasan kemampuan, cukuplah kita bisa memanfaatkannya. Berbagai aplikasi kecil itu bisa kita manfaatkan untuk sumber belajar, bagi siswa, mahasiswa atau kita sendiri, guru. Tidak terkecuali untuk pembelajaran kimia.

Begitu masifnya hasil kerja para pengembang berbagai aplikasi edukatif yang bisa dipasang pada Android. Sudah semakin banyak alternatif pilihan untuk membenamkannya ke dalam Android. Berbagai aplikasi itu tersedia baik yang berbayar atau pun gratis. Saya termasuk suka yang gratisan :). Setidaknya turut menghargai pengembangnya sebagai end user dan kalau mampu juga memberikan masukan walau kita sendiri belum bisa membuat atau memodifikasinya. Atau kalau mau kita bisa memberikan donasi kepada mereka. Agar semakin semangat untuk mengembangkan aplikasi yang dibuatnya.

Contoh yang sudah saya coba jelajah untuk melihat peluang penggunaan Android itu adalah untuk pengajaran dan pembelajaran kimia. Menurut saya aplikasi-aplikasi kimia itu sangat cocok sekali bagi siswa atau mahasiswa. Banyak kemudahan yang ditawarkan seperti alat penghitung massa molekul relatif suatu senyawa. Kita tinggal memasukkan rumus molekulnya maka kita sudah mendapatkan besarnya massa molekul relatif. Hanya dengan perangkat mungil di telapak tangan siapapun boleh nge-klik atau sentuh layar gadget dengan mesra maka kita bisa mendapatkan hasilnya. Cepat sekali.

Itu salah satu contoh saja. Belum lagi saat belajar mengenai reaksi pada kimia organik (biasa untuk mahasiswa kimia). Reaksi kimia organik yang banyak jenisnya termasuk pereaksi-pereaksi apa yang digunakan itu pun bisa diakses hanya beberapa kali sentuhan atau klik dari alat yang ada digenggaman. Bandingkan kalau harus membuka buku atau laptop cukup ribet. Dengan smartphone dunia memang semakin mengecil. Belajar pun cukup dari telapak tangan.

Saya sangat senang ketika pertama kali menggunakan perangkat  basis Android dengan kehandalannya itu. Android yang dikembangkan Google ini merupakan sistem operasi bersifat open source. Dengan begitu dapat dipastikan banyak pihak yang ingin memberikan sumbang sih dalam mengembangkannya dan memberikan tenaga tambahan bagi Android itu sendiri. Berbeda dengan sistem untuk gadget lainnya, seperti Os Symbian, Windows Mobile, atau yang lainnya Android dalam pengembangannya dilakukan secara gotong royong. Siapapun bisa memberikan sumbangan pemikiran dan hasil kelihaiannya.

Sama halnya sistem operasi komputer Linux, Android mengalami perkembangannya cukup pesat. Meskipun dalam penggunaannya ada yang merasa tidak semudah kalau menggunakan sistem operasi pada gadget yang tidak berbasis Android. Menurut saya ini sangat relatif. Persis dengan linux (ya iyalah wong memang android menggunakan kernel linux), mau menggunakannya kita mesti sabar untuk mendapatkan tenaga yang powerfull yang kadang tidak langsung nampak di depan mata. Sekali lagi ini sangat relatif. Tapi kalau kita mau belajar sebentar saja maka dengan mudah kita akan menjadi familiar dengan Android.

Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan mengunjungi web yang menawarkan berbagai aplikasi kecil namun cukup powerfull di sini. Kita mau fokus untuk bidang apa tinggal ketikkan kata kuncinya maka kita mendapatkan banyak sekali tawaran, tinggal pilih sesuai kebutuhan. Saran saya sebaiknya menggunakan kata kunci berbahasa Inggris, karena para pengembang itu memang kebanyakan menggukan bahasa Inggris :)).

Misalnya saya mengajar pelajaran kimia maka saya ketikkan saja pada menu search kata kunci “Chemistry” dan hasilnya seperti pada screeshoot di bawah ini. Saya sendiri belum lama menggunakan Android, tapi potensi untuk digunakan siswa itu sangat besar. Meskipun aplikasi kecil itu tidak akan bisa menggantikan fungsi buku atau laptop tapi setidaknya aksesnya lebih praktis. Bahkan bisa dibaca atau sekadar dimainkan sambil santai atau tiduran. Hehehe dari pada ngelamun tak berguna malah bisa kesurupan setan kan?! :). Oh yah tidak hanya kimia loh, masih banyak lagi aplikasi yang tersedia, ada yang gratis pula. Fisika, biologi, matematika, kamus, permainan edukatif, dan lain-lain juga tersedia.

Saya yakin gadget berbasis Android yang semakin murah atau ramah di harga ini akan semakin banyak digunakan oleh siswa-siswa kita. Sudah banyak pilihan dari produk China yang akan menghancurkan harga gadget yang mahal selama ini. Kitalah yang semestinya pandai-pandai memanfaatkannya.

Jadi mari kita akrabi berbagai fasilitas yang semakin terjangkau untuk mendapatkan kemanfaatan untuk siswa, untuk pembelajaran di sekolah, di rumah atau di mana saja. Semoga kemajuan teknologi lewat gadget itu mengantarkan kita menjadi guru yang tidak lagi gaptek namun sanggup memanfaatkan setiap jengkal peluang.

Mari…!

Ikuti ulasan atau review beberapa aplikasi kimia untuk Android pada blog ini.

8 responses

    1. Terima kasih atas kunjungannya bro. Senang nambah kenalan 🙂

  1. tampaknya saya harus belajar banyak dari orang2 seperti P. Urip ini.
    Salam kimia! 😀

    1. Ya monggo sami-sami belajar 🙂

  2. Salut untuk Mr. Urip karena Anda adalah seorang guru kimia namun mengetahui tentang tren Android yang notabene adalah ilmu di bidang teknologi. Sepertinya anda tidak mau berhenti belajar tentang apapun. Saya harus banyak belajar dari Anda sepertinya.

    1. Kita harus banyak belajar, kunci sudah ada di google 🙂 ya kan?!

  3. “Persis dengan linux (ya iyalah wong memang android menggunakan kernel linux), mau menggunakannya kita mesti sabar untuk mendapatkan tenaga yang powerfull yang kadang tidak langsung nampak di depan mata.”
    Saya kurang setuju sama yang ini Pak. Jangan bandingkan Linux keluaran terbaru dengan Windows XP yang keluar sejak hampir satu dekade ke belakang. Saya menggunakan Linux Mandriva dengan desktop environment KDE yang butuh resource besar dibanding desktop environment lain terasa powerfull saja. Sangat berbeda jika komputer saya digunakan untuk Windows Vista atau Windows 7, akan sangat terasa berat.

    1. Maksud saya itu pandangan bagi orang awam yang belum mengenal linux sama sekali. Terima kasih atas kunjungannya. Saya setuju dgn komentar sodara 🙂