Atmosfer Suram Jakarta dan Pendidikan Karakter

urip.wordpress.com

Sumber: Kompas.com

Lama tidak kunjung ke Jakarta. Berita yang sempat saya dengar Jakarta baru saja dinobatkan sebagai salah satu dari 7 kota dengan udara bersih di Asia (CMIIW). Saya tidak tahu indikator yang digunakan apa. Namun saat penerbangan 20 Juni 2010 pukul 14.00 menjelang pendaratan pesawat yang saya tumpangi saya melihat dengan jelas kesuraman atmosfer yang melingkupi wilayah Jakarta dan sekitarnya. Saya pikir saat itu sedang atau akan turun hujan, ternyata tidak. Demikian pula saat pesawat lepas landas saat kepulangan saya pukul 10.00 WIB udara Jakarta kondisinya tidak berbeda. Sayangnya saat itu saya tidak berpikir untuk mengabadikannya dalam foto.

Kondisi atmosfer tersebut tidak begitu terasakan oleh manusia yang ada di wilayah Jakarta, meskipun kegerahan sudah lama dirasakan warga penghuni ibu kota Indonesia ini. Yang jelas udara sekitar jalan raya sangat menyesakkan dengan berbagai emisi gas buang. Pantas saja kalau saya mendapati banyak orang yang menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Inikah yang disebut dengan Jakarta kota dengan udara terbersih? Suhu panas dengan kungkungan gas di atmosfer membuat Jakarta gerah. Gedung tinggi tumbuh bermunculan di seluruh pelosoknya. Seolah tak perduli dengan lingkungan para pembuat gedung itu. Ah Jakarta. Jika di Singapore gedung tinggi bermunculan di mana-mana namun ada semacam kewajiban untuk tetap menghijaukan sekitarnya, bahkan suatu ketika saya dapati banyak gedung dengan balkon yang menghijau. Luar biasa. Kontras dengan Jakarta.

Saat masuk tempat saya menginap (di Hotel Atlet Century Senayan) ada pesan tentang sikap keramahan terhadap lingkungan. Sederhana konsepnya. Tinggalkan kertas ini di atas kasur (tempat tidur) jika anda tidak menghendaki seprei, handuk, untuk diganti, dan tinggalkan di bak cuci jika menghendaki untuk diganti. Ini adalah pesan pertama kali yang saya jumpai di beberapa hotel yang pernah saya menginap. Seperti kita tahu setiap hari di hotel biasanya seprei dan handuk akan di ganti yang baru (telah dicuci). Saya pikir kebijakan seperti itu memang akan mengurangi cemaran air karena dampak pencucian yang tidak perlu. Sikap seperti itu secara tidak langsung akan mendidik tamu untuk selalu ramah lingkungan.

Sama juga di tempat kegiatan seminar, tepatnya di gedung A kantor Kemdiknas Jakarta. Saya sulit mendapati tempat sampah. Ini mengingatkan prilaku budaya di negeri Jepang, di mana sampah menjadi tanggung jawab setiap orang yang menghasilkan sampai. Ia harus membawa tempat sampah sendiri ke mana-mana. Perlahan di kota besar sudah membudayakan diri untuk ramah terhadap lingkungan. Kebersihan lingkungan juga bisa dijadikan indikator kebersihan jiwa dan juga indikator kecerdasan penghuninya terkait kecerdasan liungkungan(?). Beda jauh dengan kota-kota “kecil” lainnya. Sampah berceceran di mana-mana, membuang sampah seenaknya sendiri. Dia pikir lingkungan atau akan ada petugas yang akan membersihkannya. Pola pikir sederhana namun menyusahkan bumi.

Pada saat kegiatan di ruang seminar saya mulai melihat kebiasaan orang se-Indonesia karena acara seminar ini setiap wilayah (propinsi) diwakili oleh pengurus IGI yang notabene adalah guru. Pada awal sesi kegiatan panitia mengingatkan sebagai penerapan pendidikan karaketer yang baik agar kami para guru “mempertanggungjawabkan” sampah yang kita buat dengan membuang sampah pada tempat yang disediakan. Tidak seperti biasanya setiap kegiatan yang di dalamnya tersedia makanan ringan (snack) pasti akan menghasilkan sampah kemudian ditinggalkan begitu saja di tempat perserta duduk. Karakter yang tidak mendidik kalau begitu. Saya bangga begitu mendapat peringatan semua peserta menenteng masing-masing sampahnya dan memeasukkan dalam tempat sampah yang dihasilkan dari sisa makanan dan minumannya. Namun keadaan sebaliknya peringatan tidak diperdulikan saat peringatan itu tidak sampaikan. Karakter buruk bagi seorang guru. Guru akan menjadi agen perubahan karakter siswa-nya, namun prilaku tadi akan menjadi sulit untuk diterapkan jika guru belum berprilaku positif tentang sampah dan lingkungannya.

Itulah kesan lingkungan dan karakter manusia selanjutnya marilah kita biasakan diri untuk selalu ramah lingkungan dengan hal sepele.


3 responses

  1. sebuah tanggung jawab kita semua akan lingkungan dan pendidikan,,

  2. Karena dari hal yang sederhana saja seperti
    Buang Sampah Pada Tempatnya..
    Itu sudah Membantu mencegah Kerusakan pada alam kita yang kita tinggali ini..

  3. Saya juga sering memperhatikan kondisi langit di atas kota DKI Jakarta saat berada di pesawat terbang. Dan benar seperti apa yang bapak lihat.
    Sepertinya konsep Pembangunan Berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, perlu ditata ulang lagi ‘Grand Design’ nya.
    Artikel yang mencerahkan,
    Salam kenal