Resolusi ~ Tekad Guru Tahun 2012

urip.wordpress.com

Banyak orang menjadikan momentum pergantian tahun untuk mencanangkan semua tekadnya. Bagus! Termasuk guru yang serius ingin menjadi “guru yang sesungguhnya”. Saya sendiri? Jawabannya hanya 🙂 *mrenges* Bagaimana dengan rekan guru atau rekan anda yang mengaku jadi guru? 🙂

Banyak guru yang ingin menjadi guru yang baik dan benar seperti halnya ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Namun semua itu sebatas ingin. Kegiatannnya tidak berubah sedikitpun untuk menjadi guru yang baik dan benar. Setidaknya menurut saya guru yang baik dan benar itu “cukup” hanya mengubah prilaku  ke arah yang lebih baik dan tidak seperti tahun, bulan, minggu, hari-hari sebelumnya. Tekad atau niat saja tidak cukup. Mulai sekarang dengan mengepalkan tangan atau cukup mengangguk-anggukkan kepala untuk segera beranjak.

Yang utama adalah bagaimana kita memberikan servis terbaik untuk siswa saat belajar, entah bagaimana caranya. Kata servis terbaik itu tentu saja menuntut diri untuk menguasai banyak hal, mulai materi, perencanaan, teknik atau strategi pengajaran dan juga mengelola dan mengevaluasi kemajuan belajar untuk peningkatan kemampuan siswa secara menyeluruh. Tidak mudah untuk menjadi guru yang baik dan benar. Tapi kalau sudah dimulai dan secara terus menerus kita semua akan sampai pada status guru yang baik dan benar itu. Oleh karena itu pengerahan atas segala kemampuan dan optimalisasi sarana yang ada menjadi suatu keharusan. Semua bisa dipelajari kembali, banyak tempat diskusi, banyak tempat bertanya. Semua itu mesti diniatkan untuk memberikan layanan terbaik untuk siswa kita.

Materi yang harus dikuasai oleh guru tentu saja tidak cukup hanya pelajaran yang ia ajarkan, harus lebih dari itu. Tidak perduli guru di jenjang manapun semua harus mengerti lebih dari yang diperlukan. Jangan sampai karena mengajarnya di sd lantas guru ongkang-ongkang kaki karena pelajaran sd ia kuasai 100%. Akibatnya kalau hanya menguasai materi sd saja maka ia akan hebat sehebat siswa sd, padahal ia guru. Tapi fakta menunjukkan dibeberapa daerah banyak peserta PLPG untuk mendapat sertifikat pengajar sd guru-guru sd tidak lulus PLPG. Mungkin mereka merasa sudah menguasai materi yang ia ajarkan. Demikian pula untuk jenjang di level berikutnya. Oleh karena itu guru harus terus asah otak secara akademis secara terus menerus. Tapi ada saja guru yang karena jenjang pendidikannya sudah S2 bahkan S3 yang lantas ingin segera minta mutasi ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sah-sah saja sih, tapi mengapa tidak konsen saja jenjang di mana sebelumnya ia bertugas. Indonesia sangat kurang jumlah guru-guru yang berpendidikan “mapan” tapi teguh untuk mendalami pengajaran di jenjang rendah. Ah banyak faktor sih memang kalau menyangkut hal itu.

Perencanaan, menjadi guru sekarang haruslah bisa membuat perencanaan pengajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan pengembangannya. Tentu saja tidak boleh kaku dalam menerapkan kurikulum. Perlu pembiasaan untuk bisa menjadi seorang perencana dalam pengajaran. Tidak cukup hanya menyediakan perangkat pembelajaran yang itu-itu saja yang sekedar memenuhi kewajiban adminitratif. Tidak sulit tapi sering kita mengabaikan banyak hal dalam perencanaan pengajaran. Namun semua itu kadang dikebiri akibat syarat kelulusan hanyalah oleh UN berikutnya guru wegah membuat perencanaan yang serius. Proses pembelajaran menjadi kering karena mengejar lulus UN. Padahal pendidikan itu bukan hanya lulus UN, proses yang semestinya dinikmati hasilnya oleh siswa beserta semua pihak yang terlibat dalam pendidikan. Proses pembelajaran adalah yang akan menjadikan siswa untuk jadi manusia yang sesungguhnya. So? Apapun juga kalau mau jadi guru yang baik dan benar kita harus mau dengan “sedikit” menegasikan kepentingan yang sifatnya fatamorgana (lulus UN). Perencanaan sangat penting!

Strategi mengajar mutlak akan menjadikan proses pembelajaran itu bermakna atau tidak. Diperlaukan jam terbang yang tinggi serta wawasan yang cukup untuk menjadikan kita sebagai guru yang baik dan benar. Pada bagian inilah diperlukan rasa kemanusiaan,  istilahnya guru yang bisa memanusiakan siswa. Modal utama adalah materi, yang siap disajikan atau disodorkan kepada siswa agar dirinya siap untuk dimanusiakan. Tips trik dalam penyampaian materi sangat penting untuk melaksanakan rencana yang tersusun sebelumnya. Perenungan terhadap apa yang kita lakukan bersama siswa setiap akhir pelajaran menjadi bahan untuk perbaikan pada sesi pengajaran berikutnya. Adaptasi terhadap materi pelajaran dan kemampuan siswa sudah pasti menjadi pertimbangan pokoknya. Pengenalan pada pribadi siswa dan kemampuannya tentu tidak luput jadi bahan pertimbangan untuk menyajikan hidangan pelajaran yang sedap. So? Ayo, mari, monggo terus belajar, belajar untuk menjadi lebih baik, menjadi guru yang baik dan benar 🙂

Evaluasi menyeluruh baik performa siswa maupun kinerja kita sebagai guru adalah mutlak wajib dilakukan setiap akhir pelajaran, tentu untuk mengurangi ketidakcocokan dengan rencana agar tidak terulang lagi. Target-target yang mesti dicapai sejauh mana adalah yang jadi pertimbangannya. Ini tidak terkait dengan UN sih. Sebatas proses pengajaran saja. Kalau UN mana mungkin bisa terlihat evaluasi proses pembelajarannya. Anehnya itu  (UN) bisa memvonis nasib siswa, cukup 3 tahun belajarnya atau harus menambah waktu ekstra belajarnya. Urusan kecurangan baik secara masal atau parsial pada UN ditiadakan atau dianggap semua berlaku jujur. Sekali lagi UN tidak bisa dijadikan ukuran evaluasi seorang guru itu berhak menyandang status guru yang baik dan benar. Apalagi kalau di sederhanakan bahwa guru yang baik dan benar diindikasikan lulus uji sertifikasi guru, jauh banget dah!

Kesemuanya itu bisa kita dapatkan untuk jadi guru yang baik dan benar juga dengan berguru pada guru yang mapan. Ayo kita silahturahmi ke mereka yang kita anggap mumpuni sebagai guru. Tinggal pilih kita mau jadi guru model apa.

Bagaimana menurut saudara?

5 responses

  1. Kalau ingin murid Cinta Belajar, Guru harus mau senantiasa belajar terlebih dahulu.
    Dari guru yang “kaya” murid belajar banyak.
    Dari guru yang “miskin” murid belajar sedikit

  2. Terimakasih… Guru adalah bagian dr ilmu-ilmu ilmu setting trik internetan gratis

  3. salam kenal pak urip
    saya juga pendidik dan pengajar seperti sampeyan, saya hanya ingin bertanya yang dimaksud guru yang baik dan benar itu bagaimana? karena baik dan benar itu abstrak sama saja dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu juga abstrak pak!

  4. Salam kenal pak urip ..Semoga resolusinya tercapai

  5. Salam kenal pak urip
    Doakan saya menjadi guru yang sesungguhnya pak. Alhamdulilah saya sudah lulus tahun ini. Saya ingin menjadi guru.