Untuk Anakku

urip.wordpress.com

Baru lalu telah diumumkan kelulusan siswa semua jenjang. Saya kagum walau sedikit heran ketika nilai-nilai siswa berhamburan angka 9 bahkan 10, di semua jenjang. Meski demikian saya tidak merasakan sesuatu yang membahagiakan hati. Serasa hambar nilai UN yang 10 atau 9 itu. Anehkah perasaan saya itu? Sebagai pelaku pendidikan tentu saya dan siapapun yang berkutat dengan dunia keguruan tahu persis apa yang terjadi dibalik itu semua. Hal ini bersifat kasuistis, tidak bermaksud mengeneralisir keadaan. Apakah ini sebagai dampak pendidikan yang berjalan tanpa proses bermakna. Pendidikan yang berjalan hanya mengejar angka-angka hasil UN saja. Salah siapa? Apakah kesalahan semacam itu dipundak guru semata? Tentu guru banyak yang mengelak 🙂


Yang terpikirkan oleh otak saya, apakah makna nilai UN 10 atau 9 itu. Lantas bisa apa  dalam hidupmu kamu bisa apa nak dengan angka-angka yang terkesan hebat itu? Apalah gunanya angka-angka itu kalau diri anak tidak mempunyai sesuatu kemampuan yang signifikan, dan hanya bisa menjawab soal-soal model multiplechoice itu.

“Oh nak sadarlah dan jangan silau yah dengan angka 10 atau 9 itu”. Hidupmu tidak cukup berarti kalau hanya dengan modal angka-angka itu. Apalagi jika itu kau peroleh dengan cara tidak benar. Apalagi jika kau tak merasa angka itu bukan hak mu, namun kau dapat tanpa kau ketahu asalnya. Apapun yg kau peroleh kalau tidak seperti dalam kepalamu itu adalah kebohongan, entah siapa yg menyulapnya andai kau heran dengan apa yang kau peroleh itu.

Konversi otak jadi angka 10 atau 9 jika tak berproses dengan makna akan sangat menyesatkan. Konversi otak itu tidak valid mana kala pendidikan dengan kualitas semu yang dibanggakan. Bayangkan saja karena ada pihak yg berkepentingan dengan hasil UN lantas kerja waktu lewat manuver sulapan baik dengan memperbaiki jawaban siswa atau dengan memanipulasi hasil. Ini bukan sekedar sangkaan, tapi kenyataan yg terjadi di daerah tertentu. Modusnya bisa bermacam-macam yg jelas ini dilakukan dengan tujuannya target kelulusan terpenuhi.

Nilai 10 atau 9 pantas dibanggakan ketika empunya telah sukses jadi “manusia”. Faktanya tak sedikit yg kacau setelah ia berumur. Apakah seperti itu masih pantas membanggakan perolehan 9 atau 10?

Hasil pendidikan yg baik tidak hanya cukup dgn hujan nilai 10 atau 9 tapi mari lihat proses pembelajarannya berlangsung gimana. Nilai 10 atau 9 apakah itu hasil kerja guru atau hasil usaha siswa, lantas berapa persen peran guru dlm “menghasilkan” nilai 10 atau 9 itu? Setiap siswa punya modal pengetahuan dan pengalaman. Banyak-sedikitnya apa yang dimiliki siswa akan mempengaruhi hasil akhir. Misalnya modal pengetahuan awal tentang topik tertentu, kalau dia cukup dengan pengetahuan awalnya maka dengan mudah ia mengikuti pelajaran yang diterimanya. Jika tidak cukup maka tidak akan mudah untuk menuntaskan pelajaran yang akan diikutinya. Di sinilah peran guru mulai terhitung (kalau mau dihitung). Materi pelajaran dengan hal baru akan memberikan pengetahuan, ilmu, dan pengalaman bagi siswa. Melalui ujian-ujian itu besar kecilnya perolehan siswa diukur termasuk pengaruh proses pembelajaran yang dialaminya bersama guru. Itu normalnya. Kata proses tentu adalah hal utama dalam pembelajaran yang akan memberikan pengalaman hidup siswa. Berapapun hasil akhir ujian (yg berupa angka itu) yg jauh bermakna adalah proses itu. Tak ada gunanya jika dengan angka 9, 10 kalau didapat hanya melalui drill dan drill serta dengan politik asal nilai bisa tinggi. Ini akan terasa ketika siswa ikut bimbingan belajar jelang UN dan tes masuk PTN, bisa saja siswa dapat nilai bagus dan diterima di PTN terkenal, tiba saatnya belajar di kampus banyak yg kelimpungan mengikuti perkuliahan. Jadi apalah artinya sebuah nilai yg diwujudkan dengan angka spektakuler itu.

Sadarilah nak hidup itu tidak cukup dibanggakan hanya dengan angka 9 atau 10 dari sekolahmu, proseslah yg akan menjadikanmu manusia dewas yg sempurna. Kelak angka itu hanyalah cerita tak bermakna.

2 responses

  1. keponakan saya gak pernah belajar bilai matematikannya 10. Katanya sdh sering di dril di sekolah jadi gak perlu lagi ikutan les atau bimbel. Tapi ketika hendak masuk PTN dia mulai kelimpungan karena soalnya beda. Baru kemudian setelah diterima dia belajar dengan giat, dan hasilnya dia sekarang sdh bisa mengikuti semua mata kulauh dengan baik di salah satu PTN.

    salam
    Omjay

  2. sudah lama tak bakunjung ke rumah pak Urip. Jadi baik & punya makna itu lebih baik lagi. 😉