Rajin itu Sama dengan Mengulang dan Mengulang

Rajin pangkal pandai. Semua siswa sudah kenal dengan motto itu sejak SD, meskipun hanya sekedar retorika kalimat atau dipajang di sekolah. Saya kira itu tulisan sekedar pajangan karena dari sekian siswa yang menyadari betul-betul kata rajin itu hanya sedikit sekali. Kalau semua siswa paham menghayati dan menjalankannya dijamin anak Indonesia akan menjadi pelajar luar biasa, walaupun tidak jenius atau cerdas. Ini adalah sebuah ironi bagi pendidikan di negeri tercinta kita ini. Sering mendengungkan tapi sedikit yang memahami dan bagaimana melaksanakan kata rajin itu.

Pada pertemuan pertama masuk di kelas, saya menekankan makna mengulang dan mengulang sebagai kunci sukses belajar. Mengulang dan mengulang lagi adalah kata operasional dari kata rajin. Bahkan sampai saya buatkan analogi tentang soal rajin ini dengan seekor binatang dengan harapan siswa menyadari bahwa dirinya juga mampu melakukan suatu kehebatan.

Anjing atau binatang lain yang diajak main sirkus itu memang punya otak tapi tak berakal. Namun jika dilatih tentu awalnya dengan memaksakan latihan itu, jika sudah mahir akan membuat siapapun yang melihatnya akan jadi kagum terhadapnya. Latihan untuk hewan-hewan itu tentu tidak cukup sekali dua kali saja, tapi sampai berhasil sesuai dengan kehendak yang melatih. Ia tak berakal. Nah kalau seorang siswa yang punya otak lagi berakal, pasti akan jauh lebih hebat dari seekor binatang. Pasti akan menjadi hebat atau dipandang hebat kalau mereka mau rajin belajar.

Belajar apapun kuncinya adalah mengulang, mengulang, dan mengulang. Bukan menghafal, tetapi dengan mengulang akan bisa hafal dengan sendirinya, paham dan mengerti, bahkan akan menjadi sebuah refleks pada saat diperlukan seperti dalam sebuah ujian.

Saya beri contoh lagi, seorang sopir bis dengan jarak tempuh lebih dari 200 KM, lubang jalan yang harus ia hindari saja bisa hafal bahkan menjadi sebuah reflek untuk menghindarinya. Sopir tadi tentu saja tidak menghafal jalan mana saja yang ada lubang yang bisa mencelakakan diri dan penumpangnya. Bayangkan kalau sampai sopir tersebut harus berniat menghafalkan setiap lubang jalan sepanjang itu, mungkin sampai tua juga tidak akan bisa hafal. Intinya jalani saja, ulangi dan ulangi terus.

Sembari terus melempar senyum dan sesekali dengan joke segar pemompaan semangat buat siswa saya lanjutkan. Sedikit cerita tentang masa kecil saya yang sempat tidak naik ke kelas 2 SD, ini adalah contoh nyata soal pengulangan dalam belajar yang saya alami. Pada tahun kedua, saya bisa menjadi terbaik di kelas tersebut, bahkan sampai kuliah itu menjadi modal percaya diri. Saya mendapatkan berkat dari pengulangan-pengulangan itu.

Selain itu tentu saja saya punya tips khusus agar saya bisa menjadi yang terbaik di kelas saya. KELAS SAYA adalah kata kunci penting yang menjadikan saya merasa sukses dalam belajar. Pilihan saya ketika bersekolah adalah bukanlah sekolah favorit. Bukan takut bersaing tetapi melihat peluang apakah di sekolah tersebut kans saya untuk “muncul kepermukaan” ada atau tidak. Dengan memilih sekolah bukan sekolah favorit saya ternyata benar bisa “eksis” dan semakin menambah rasa percaya diri. Bahkan saya sanggup bersaing dengan temen-temen lain yang di sekolah favorit itu.

Selanjutnya kini saya terapkan pula kepada anak saya. Anak saya saat SD saya pilihkan sekolah bukan sekolah favorit di kota saya. Dengan harapan anak saya bisa muncul kepermukaan. Dan benar adanya meskipun saya tahu kemampuab guru-guru di manapun ia mengajar relatif sama, tapi peran bimbingan kami orang tuanya cukup dominan. Mengajak anak untuk selalu mengulangi pelajarannya, mengulang latihan-latihan soal matematika dengan soal lain. Memang diperlukan kekonsistenan dalam pendampingan karena ia masih kecil (anak SD). Bahkan eksperimen saya terhadap anak SD sy membawa hasil materi SMA bisa diterimanya dengan baik karena ia mengulang latihan-latihan hingga bisa. Artinya siapapun asal mau dalam belajar pasti bisa.

Sekolah tempat saya mengajar adalah “sekolah lapis kedua”, jika siswa mendaftar sana sini tidak diterima maka pilihan terakhir adalah ditempat saya mengajar. Entah saya baru menyadari juga bahwa sebenarnya dengan mengulang dan mengulang baik soal berhitung semacam fisika, kimia, atau matamtematika dapat dikuasai dengan baik kalau si siswa rajin berlatih, berlatih terus menerus. Oleh karena itu atas kebarusadaran saya itu diawal tahun ajaran ini saya selalu mengingatkan dan memotivasi siswa agar giat untuk mengulang, mengulang pelajaran, mengulang latihan menyelesaikan soal. Mengulang merupakan kata operasional dari rajin. Rajin pangkal pandai. Mengulang, mengulang, dan mengulang adalah biangnya siswa (pembelajar) untuk pandai.

Iklan

2 responses

  1. Belajar apapun kuncinya adalah mengulang, mengulang, dan mengulang. Bukan menghafal, tetapi dengan mengulang akan bisa hafal dengan sendirinya, paham dan mengerti, bahkan akan menjadi sebuah refleks pada saat diperlukan seperti dalam sebuah ujian. SEPAKAT

    salam
    Omjay