Pengajaran yang Hemat

Komputer tablet (tab) semakin murah, guru pun akan sanggup membelinya atau memilikinya kalau diniatkan. Administrasi pengajaran dan pembelajaran pun bisa disimpan di dalam tab itu. Ringkas, hemat, dan relatif ekonomis meskipun dengan beberapa keterbatasan. Hal terakhir ini adalah soal pembiasaan diri saja. Biasanya dengan sistem operasi android alat ini akan menjadi relatif murah.

Semua buku pendukung pembelajaran sebagai referensi bisa disimpan di sana. tentu saja harus dalam bentuk buku elektronik atau didigitalkan. Dengan menggunakan alat scanner kita bisa mendigitalkan semua buku yang kita punya, tentu saja itu perlu waktu. Sayang di Indonesia jarang sekali ada penerbit yang menjual buku dalam bentuk digitalnya. Ini mungkin karena kebiasaan orang di negeri ini yang hobi membajak apa saja :). Karena ketidaktersediaan itu saya mengambil inisiatif untuk men-digital-kan buka yang saya perlukan, toh hanya saya pakai sendiri yang saya scan dari buku yang saya beli, halal.
Selain buku tentu saja perangkat pengajaran bisa disimpan juga di tab itu, mulai daftar hadir siswa, daftar nilai, agenda mengajar, jadwal mengajar, jurnal mengajar atau sebutan apapun bisa disimpan di alat tersebut kemudian bisa digunakan ketika dalam kelas.

Alat seperti itu cukup hemat energi, atau lebih tepatnya sangat ekonomis. Mungkin harganya akan sedikit terasa mahal namun kalau mengingat kegunaannya tentu ini merupakan investasi untuk pengajaran. Jika kita menggunakan kertas secara fisik berapa banyak lembar kertas yang harus disiapkan. Dengan tersedianya buku elektronik yang disediakan pemerintah, dan mungkin buku hasil berbagi dari kalangan pengajar lain kita tidak perlu repot membeli secara fisik, karena itu semua gratis dan tidak melanggar HAKI. Untuk siswa tentu harus memiliki buku elektronik itu juga setidaknya bisa dibaca di rumah atau lewat alat canggih yang ia punyai lainnya.

Sayang sekali ada sekolah yang ambil kebijakan melarang siswa untuk membawa alat pendukung pembelajaran masa kini ini. Memang diperlukan pembiasaan untuk semua pihak dan kesadaran bahwa kini jamannya sudah berubah. Pola pikir dan rasa khawatir yang berlebihan membuat semua itu menjadi barang haram untuk digunakan di lingkungan sekolah. Akhirnya siswa setiap hari harus menggendong buku yang cukup membuat tulang punggungnya pegal-pegal 🙂 bahkan mungkin akan cacat tulang belakangnya :). Jika setiap semester harus membeli buku 10 eksemplar dengan harga yang semakin mahal, barang kali untuk 2 semester saja bisa digunakan untuk membeli gadget itu.

Sekarang biaya akses internet (data) secara selular semakin murah, siswa dan guru pun bisa mengakses informasi di mana pun dan kapan pun. Harapannya semua menjadi pembelajar sejati, mantap kan kalau ini terwujud. Kalau tiap ada tugas siswa harus akses internet yang hanya bisa diakses di warung internet berapa biayanya. Tugas-tugas dari guru pun bisa dikirimkan lewat surat elektronik. Bahkan saat ujian pun alat ini bisa dimanfaatkan secara ekonomis, misalnya melalui local area network kalau sudah tersedia. Semua itu tergantung dari semua pihak, sekolah, orang tua dan sekitarnya.

Ayo kita ubah pola dan kebiasaan kita, semoga kepraktisan dan kemelek-an IT dikalangan pendidik tidak lagi dicemooh pihak lain. Kitalah yang bisa mengubah diri kita, tidak usah menunggu ada pihak (pemerintah, pihak lain) yang berbelas kasihan pada pribadi seorang guru. Semua tinggal mau apa tidak saja 🙂

Iklan

3 responses

  1. intinya kembali kepada teknologi kan pak..??
    🙂

  2. Ramadhatil Mauraty

    Saya cuma bisa bilang *kereeeeeeen*
    Andai semua guru seperti bapak 😀 hee

    Oyaa, buat android ada gak nih pak ?

  3. trima kasih pak, semangat pak