Ceritakan Kembali Apa yang Kamu Baca!

Menceritakan kembali apa yang pernah kita tonton, apalagi kalau hal itu menarik minat kita tentu dengan lancar kita bisa menceritakan apa saja yang kita tonton itu. Bahkan kadang kalau pun tidak menarik namun cukup memberikan kesan ini saja sudah cukup untuk memberikan modal kita bisa menceritakan kembali apa yang kita lihat. Misalnya menonton film yang menarik atau bagi kaum ibu-ibu yang fanatik dengan sebuah sinetron waaah itu bukan hal sulit untuk diceritakan kembali.

Nah bagaimana kalau yang kita baca adalah bahan bacaan, seperti buku pelajaran yang berisikan konsep-konsep. Bisakah dengan mudah menceritakjan ulang? Jawabnya BISA!

Untuk bisa tentu diperlukan pembiasaan yang benar. Ingat dalam pelajaran bahasa Indonesia kita diajari bagaimana mencari pokok pikiran dalam setiap paragraf. Nah dalam setiap bahan ajar juga berlaku hal serupa. Dengan memanfaatkan teori bahasa Indonesia tadi kita dengan mudah mengingat apa yang kita baca, termasuk buku pelajaran, pelajaran apa saja tentunya, termasuk matematika.

Saya pernah mengajak (memaksa) siswa untuk menyimak satu bacaan kimia tentang konsep sifat koligatif larutan. Cukup sekali baca. Kemudian saya minta seorang siswa untuk bisa menceritakan ulang apa yang dibaca. Tentu saja tidak harus sama persis dengan apa yang ia baca. Saya meminta ia untuk menceritakan penjelasan terhadap apa yang dibacanya menurut versi dia. Dan hasilnya luar biasa. Saya kira, guru-guru ilmu sosial akan dengan mudah mengajak siswa untuk aktif dalam menyimak bahan pelajaran, memahami bahan bacaannya kemudian menceritakannya kembali. Guru bidang lain tentu tidak jauh berbeda.

Kemampuan bercerita seseorang memang tidak sama, tapi kalau mempunyai fokus, perhatian yang sama tentu hasilnya akan sama, atau mirip. Kelemahan pelajar saya adalah tidak fokus dalam membaca. Mengapa ini terjadi karena kurangnya tantangan dari sang guru. Dengan semakin guru “menantang” siswa tentu siswa akan semakin tertantang juga.

Untuk pelajaran kimia, misalnya, siswa bisa saja diminta mengerjakan suatu soal kemudian menuliskannya di papan tulis. Setelah selesai coba saja siswa memberikan penjelasan kepada teman-temannya tentang apa yang ia tulis. Ini juga merupakan teknik “memakasa” siswa untuk bisa menceritakan kembali tentang apa yang baru ia kerjakan. Keaktifan siswa semacam itu tidak mesti dilakukan di depan kelas melulu. Ia bisa lakukan saat belajar kelompok atau bahkan belajar sendiri. Intinya adalah membiasakan diri agar siswa dapat menceritakan kembali. Titik!

Kalau perlu, menceritakan kembali itu dinarasikan dalam bentuk tulisan, ini akan jauh memberikan kesan mendalam dalam pengalaman belajar. Hal ini juga bisa saja dilakukan guru. Kita tahu, kebanyakan guru pandai berkicau tapi tidak pandai menulis, guru pandai memberi instruksi tapi tidak pandai menuliskan instruksi. Sebaiknya hal ini kita, guru, yang memulainya. Saya memang belum pernah mencoba menuliskan apa yang pernah saya ucapkan ketika menjelaskan pelajaran di kelas. Andai hal seperti itu kita tulis tentu diperlukan banyak halaman tapi nyatanya itu bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Mengapa? Jawabannya hanya kemauan kita yang rendah!

Untuk siswa, cobalah fokus untuk membaca sesuatu, bahan bacaan apa saja, kemudian cobalah ceritakan kembali, tidak perlu nunggu habis bacaan, cukup satu paragraf, ceritakan kembali dan rasakan sensasinya ketika kamu bisa melakukannya dengan baik. Apalagi kalau bisa menuliskannya. Pasti Luar Biasa! Bersiaplah dirimu jadi siswa yang Hebat!

Iklan