Cerita dan Teladankan tentang Orang Lain Saja

Menarik dan menjadi inspirasi buat saya. Sebuah tulisan atas jawaban pertanyaan rekan guru di situs guraru.org yang dijawab Mr. Bukik. Saya tercenung ketika membaca jawaban no. 3. Oh… ini kekeliruan saya selama ini.

Berbagi cerita ini akan saling menguatkan di antara pelaku perubahan. Setelah itu, seorang guru diminta menceritakan pengalaman perubahan guru positif yang lain kepada rekan-rekan guru. Mengapa? Kalau kita menceritakan pengalaman perubahan kita sendiri cenderung dianggap pamer oleh guru yang lain. Cara untuk menghindarinya, kita menceritakan pengalaman perubahan dari guru positif yang lain.

Bagaimana dengan Anda, Pembaca? Barang kali ini akan sama juga ketika kita bercerita kepada siswa, kita sebaiknya mengambil contoh positif pihak lain, jangan menceritakan diri sendiri. Atau kalau terpaksa kita bisa meng-oranglainkan diri kita dalam sebuah cerita dengan harapan rekan atau siswa kita tidak memandang bahwa diri kita sok pamer. Hari ini saya coba praktikkan itu di kelas dan rasanya menjadikan perasaan kita jauh lebih nyaman, bisa menjauhkan diri dari sifat yang tidak disukai oleh siapapun yang mendengar.

Kita sendiri ketika mendengarkan cerita orang lain yang lebih banyak meng-aku-kan dalam ceritanya kita pasti mempunyai setidaknya sedikit anggapan bahwa orang yang di depan kita ini sok, sombong, suka pamer, meskipun kita tidak berniat sok, sombong atau pamer, yang jelas semua hal  miring dan bersifat negatif kita hindari. Jadi siapapun tidak suka melihat atau mendengar orang lain yang terbiasa mengambil contoh dari dirinya sendiri untuk disampaikan. Oleh karena itu catatan ini menjadikan momentum buat saya pribadi untuk tidak lagi menggunakan “aku atau saya” dalam berbagi atau bercerita kepada siapapun.

Pilihan kata dalam berbicara memang sangat erat dalam berkomunikasi, walaupun niat kita bukan untuk bersombong diri, tapi akan berdampak pada persepsi atau anggapan siapapun yang mendengar. Lebih-lebih guru adalah seorang presenter tetap, tiap ia mengajar di kelas, dihadapan siswa-nya. Pembiasaan mencontohkan diri, atau keluarga, dan semua yang melekat pada diri guru akan lebih baik lagi jika mulai sekarang kita tidak memerankan diri sendiri dalam cerita. Saya rasa semua itu karena kebiasaan yang kemudian jadi refleks, kemudian lagi menjadi stempel bahwa kita adalah orang yang gemar pamer dan sombong. Mari kita menyadarinya jika selama ini kita punya kebiasaan buruk tadi.

Mari mengoreksi diri sendiri, dan mengajak rekan guru lain yang punya kebiasaan buruk seperti saya tadi untuk memperbaiki diri dalam berkomunikasi di kelas.

One response

  1. […] Ibu Aminah dan Dua Orang MuridnyaPesan dan cerita singkat untuk Azrul Sulaiman Karim Pohan.Cerita dan Teladankan tentang Orang Lain Saja […]