Matematika itu Sesungguhnya adalah Permainan

Belajar Matematika itu Sama dengan Belajar Permainan.

Setiap permainan pasti memiliki aturan main. Matematika itu mirip sekali dengan permainan karena sejak belajar di SD kita secara ketat diajari aturan-aturan dalam matematika. Mengerjakan soal matematika dan juga soal ilmu sains lainnya juga sama dengan melakukan permainan. Permainan yang dilakukan secara intens, kontinyu, maka aturan-aturan dalam permainan itu menjadi kepahaman yang luar biasa. Demikian juga dengan mengerjakan soal matematika. Sekali lagi untuk bisa melakukan permainan siapapun harus paham betul dengan aturannya. Untuk paham tentu diperlukan keberulangan yang cukup, tidak cukup sekali atau dua kali saja.

Fakta inilah yang sering tidak disadari kebanyakan siswa, hingga sampai ada anggapan matematika itu sulit. Kesulitan ini karena siswa kebanyakan tidak mau memahami aturan dalam matematika, padahal aturan itu bisa dipahami dengan menghadapi banyak soal, banyak mengerjakan latihan soal-soal baik secara nyata maupun virtual. Ini akan menjadi refleks dalam mencari solusi soal-soal yang kemudian akan dihadapi. Mengapa siswa tidak mau menyadari ini? Nah inilah tantangan seorang guru matematika, atau juga guru yang menggunakan matematika sebagai sarana belajarnya.

Kalau siswa menyadari struktur pelajaran matematika dan sains memiliki kemiripan perlakukannya, misalnya mencoba menerapkan aturan-aturan itu dalam kasus atau soal yang berbeda. Kemampuan menghubungkan apa yang diketahui dengan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Semua harus taat aturan, jika tanpa perkecualian maka aturan itu akan dianggap salah atau tidak logis.

Dalam mempelajari matematika, semakin banyak berlatih meskipun aturannya tetap, dengan berbagai soal akan membuat pembelajar semakin matang dalam penguasaan aturan. Jadi kalau hanya begitu saja tidak diperlukan kejeniusan untuk bisa menaklukan soal-soal matematika di sekolah. Sekali lagi justru faktanya terjadi sebaliknya, siswa lebih banyak menjadikan matematika momok pelajaran di sekolah.

Pernah saya iseng menanyakan soal tentang bagaimana menentukan gradien suatu garis kepada siswa 10 bahkan kelas 11 SMA, di mana saya mendapti siswa banyak sekali yang tidak tahu cara menentukan gradien  padahal ini materi matematika smp. Meraka tidak tahu caranya atau lupa caranya, ini adalah kalimat catatan saya. Ini bukan berarti siswa saya tersebut bodoh, tetapi mereka hanya tidak memahami konsep gradien suatu garis hingga lupa. Lupa di sini tentu menjadi kemakluman, karena bahasan gradien mungkin hanya ia pelajari sekali saja kemudian selanjutnya tidak pernah dihadapinya lagi. Ketika belajar bab itu mungkin mereka juga tidak banyak latihan menyelesaikan soal dan itulah akibatnya, lupa. Beda dengan kalau ia “khatam” mengenai gradien ketika di smp dulu. Khatam di sini ia benar-benar menguasai paham sepaham-pahamnya. Tapi mungkin suatu ketika kalau saya tanya lagi mereka akan ingat dan bisa menyelesaikan soal bagaimana menentukan gradien sebuah garis, karena ia pernah saya tanyakan di sela waktu luang 🙂

Kalau belajar matematika sampai kapan pun aturannya tetap, tidak berubah. Yang berubah adalah soal atau kasus-kasus baru, namun penyelesaiannya diperlukan kepiawaian. Kepiawaian ini didapat dengan banyak berlatih. Yang membedakan adalah tingkat kesulitan setiap soal-soal itu. Sulit dikarenakan harus banyak menggunakan aturan-aturan, di mana jika lupa aturan sedikit saja maka status sulit itu akan menempel di soal tersebut. Kompleksitas soal dengan keruwetan banyak aturan ini pun perlu dilakukan pelatihan-pelatihan. Penerapan aturan “main” dalam teori matematika inilah yang kadang menjegal siapa pun yang sedang ingin menaklukkan “kasus” matematika.

Setiap materi pelajaran baru dalam matematika di jenjang sekolah biasanya memerlukan materi prasyarat, jika ini tidak terpenuhi maka siswa akan mendapat jaminan, dia akan kesulitan belajar materi baru itu. Berbeda ketika materi prasyarat ini terpenuhi, semua akan lancar. Suatu ketika saya mengajari materi matematika sma kepada anak saya yang baru lulus sd, untuk materi tertentu yang prasyaratnya ia sudah kuasai maka materi baru itu dengan mudah ia lahab.

Jadi menurut saya permasalahan belajar matematika adalah terfokus pada materi prasyarat yang sudah harus dikuasai seorang siswa, sayangnya tidak semua guru matematika dan siswa sadari itu. Untuk materi matematika yang baru (yang sebelumnya belum pernah ia pelajari) biasanya adalah pengenalan aturan main baru. Biasanya aturan main yang baru setiap bab tidak banyak, namun soal yang diberikan dalam pelajaran memberikan variasi yang cukup, perlu kajian dari segala penjuru, namun dengan aturan yang itu-itu juga.

Inilah kesimpulan saya mengapa matematika itu sama dengan permainan. CMIIW

urip.wordpress.com

2 responses

  1. benar pak matematika adalah main-main
    silahkan dipelajari cara pembagian bersusun NON POROGAPIT pada LINK INI

    1. Hehehe Porogapit ajaran matematika berbahasa Jawa dulu, masih pakai bahasa itu juga yah sampai sekarang di Jawa