Di Balik Penjurian Lomba Blog

Yang namanya pemenang jumlahnya pasti tidak akan banyak, yang berpartisipasi banyak, maka juri harus memilih yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dan juga pertimbangan lain sesuai tujuan penyelenggara lomba blog itu.

Dalam penjurian suatu blog, banyak hal yang bisa dibuatkan chek list dalam penyekoran agar bisa seobyektif mungkin.

Misalnya soal konsistensi ngeblog, lebih tepatnya konsistensi dalam mengisi blog (bisa menulis, atau sekedar posting foto, atau menanggapi komentra blog). Di bagian ini maka yang menjadi pertimbangan bukanlah kulitasnya gimana, tetapi ini mutlak soal kuantitas postingan.

Soal tampilan blog, siapapun akan sangat subyektif dalam menilai, tergantung kesukaan juri terhadap visualisasi blog. Ada yang suka sederhana, simpel, ada yang suka warna-warna. Yang jelas tampilan sebuah blog harus bisa membuat nyaman siapapun yang mengunjungi. Ini sangat relatif. Tidak harus belajar desain visual dan komunikasi, tetapi cukup dirasakan saja 🙂 enak, apa tidak, tampilan blog tersebut. Biasanya perlu sedikit tips agar blog yang “ramai” itu waktu loadingnya singkat, kalau tidak maka pengunjung tidak akan sabar menunggu. Intinya seberapa betah pengunjung berada di blog itu.

Soal kualitas, tentu ini akan jelas berbeda dalam penilaian, tidak bisa dicampuradukkan. Tetapi proporsi penilaian dalam hal konten ini biasanya memang lebih besar dari komponen peniaian lainnya. Soal kualitas siapapun akan memiliki subyektifitas tentu saja tetap harus dengan kriteria sehingga setiap blog yang dinilai mendapatkan keadilan. Di bagian inilah kalau para juri bertentu akan melakukan perdebatan untuk memutuskannya. Namun jika juri tidak saling komunikasi maka penilaian final tiap juri akan di kumpulkan dan dikoordinasi oleh koordintor penilai. Koordinator juri inilah yang akan memutuskan siapa yang layak menang secara skor total dari tiap-tiap juri.

Pada level koordinator inilah tarik ulur, pertimbangan tertentu, akan diputuskan siapa yang layak menjadi pemenang.

Jadi andai ada yang merasa blognya layak menang tetapi tidak dimenangkan itu sudah menjadi kewenangan tim juri dan penyelenggara. Oleh karena itu jangan merasa kecewa jika kalah dan jangan bangga jika menang. Yang tidak menang bukan berarti tidak bagus, yang menang bukan pula berarti paling bagus, tetapi itu semua karena banyak pertimbangan.

Dulu saya pernah pengikuti lomba blog pendidikan di tahun 2008, sedikit aneh saja, dalam penentuan pemenang kok harus dilakukan wawancara terlebih dulu, bukannya blog itu sudah menunjukkan apa yang ada di kepala pembuat blog. Tapi itulah kewenangan panitia lomba. Tapi sekali lagi, apakah saudara ketika mengunjungi blog harus wawancara terlebih dahulu dengan empunya blog? 🙂 Apakah kita akan meninggalkan blog itu kalau kita tidak tahu motif penulis blog itu. So secara subyektif, menurut pendapat saya, sangat tidak perlu ada wawancara dalam menilai sebuah blog. Kecuali kalau juri ingin tahu apa yang terjadi dibalik blog.

urip.wordpress.com