Hulu Baik dan Buruknya Kualitas Calon Guru

Tulisan ini tendensius, jadi gak perlu heran, kalau rada miring nadanya 🙂

Guru di SMA, SMP, SD dituntut memberikan pembelajaran dengan metode bervariasi. Tapi di perguruan tinggi dosennya mengajar malah monoton dan tidak lebih baik, tidak memberi contoh, bicara saja ini itu, berteori. Kalau mengoreksi ampun sok banget paling benar, coba saja ia memberi contoh di depan kelas di sekolah bagaimana mana hasilnya.

Kalau diminta memberi contoh mengajar di sekolah pasti wegah, gengsi tuh dosen. Kalau diminta contoh penerapan selama metode mengajar di perkuliahan, alasan lagi beda mengajar anak SD atau SMP/SMA  dengan mengajar mahasiswa, yah memang beda sudah tahu. Itu dalihnya saja, sesungguhnya dosen itu mungkin hanya bisa berkicau saja. Apakah masih banyak dosen FKIP yang hanya bisa begitu?

Suatu ketika ada juga nara sumber (dosen FKIP) saat pelatihan, memberikan pelatihan bagaimana mengajar yang menyenangkan, menggunakan musik atau alat bantuan lain, lah dia mengajar kami ceramah saja. Begitu di tengah sesi langsung saya interupsi, mbok langsung dicontohkan.

Kalau ada dosen FKIP yang banyak teori, dan pandai menyarankan mengajar itu begini begitu, mbah saya juga bisa. Alasannya lagi mahasiswa kan sudah dewasa jadi harus bisa mengembangkan diri. Tapi dosennya saja mengajar cuman berbicara di depan/ceramah doang. Memang dosen macam itu tidak patut dicontoh. Dan tidak patut jadi dosen di FKIP. Pantas aja guru-guru hasil cetakannya tidak kreatif (seperti saya) hahaha.

Konon kabarnya setiap dosen FKIP juga diakreditasi sejak dahulu?! Nyatanya kita kadang masih menemui dosen yang ‘sepertinya’ tidak layak jadi dosen. Akreditasi macam apa itu yah? Apakah benar dari sini hulu kualitas guru yang diklaim banyak yang tidak layak itu. Karena sewaktu mahasiswa si guru memang di ajar dosen yang tak layak juga? Lingkaran persoalan klasik nih.

Banyak penelitian yang dilakukan dosen di FKIP terkait pengajaran, tapi tidak sedikit juga yang hanya basa-basi sekedar dapat kredit point. Dipublikasikan terbatas, atau kalaupun di terima di jurnal harus bayar, kalau mau tahu. Coba di mana karya penelitian dosen yang bisa diakses bebas untuk bisa diaplikasi guru di lapangan. (*lg gemes*). Alasannya itu HAKI, otak kita dulu tidak gratis kali yah?!

Lebih aneh lagi dosen di FKIP itu kan tidak semuanya latarnya pendidikan, bahkan S1 sampai S3 ilmu sains murni, namun mungkin karena kalah bersaing dia ikutan berebut kue di lini penelitian pendidikan. Alhasil apa? Tahu sendiri deh. Anehnya tim penilai juga mengangguk-angguk aja. Ngomong-ngomong berebut dapat biaya penelitian di Perguruan Tinggi konon pakai sikut-sikutan juga yah?! Dunia ilmiah kok begitu. Apa karena ini Indonesia ?!

Terkait hasil penelitian dosen FKIP mengenai semua hal terkait pengajaran/pendidikan, kalau benar hasilnya bagus mbok yah diknas bantu mempublikasikan agar guru bisa menerapkannya. Untuk apa diteliti sekedar diteliti tapi tidak berguna di lapangan?! Apa memang kualitasnya payah hingga tidak banyak yang bisa diterapkan. Atau saya saja yang kurang pergaulan (hahaha memang saya dasarnya kuper kok).

Jadi ingat waktu ujian skripsi dahulu, pengujinya dosen lain jurusan, bertanyanya muter soal definisi MIPA, padahal konten yang saya bahas bukan itu. Akhirnya kini saya maklum, bahwa tidak semua dosen itu ‘cerdas’ sebagai penguji skripsi. setelah ketemu tulisan-tulisan penelitian dia, emang pola pikirnya kacau. Pantas skripsi saya dahulu dihajar C. Tidak mengikuti pola pikirnya yang kacau itu sih. Dia DOSEN loh!

Dosen yang mengajar para calon guru sudah sepantasnya lebih sering bereksperimen dengan dunia pendidikan dasar dan menengah. Dia akan memberikan bekal kepada calon guru sehingga tahu liku2 bagaimana guru di lapangan baik melalui observasi atau praktik langsung. Nyatanya berapa banyak yang melakukan itu? Lalu dia bisa mengajari apa pada mahasiswanya? Hanya baca, hanya teori, hanya logika, hanya…?!

Memang kami harus bilang wow gitu?!

One response

  1. Hwaaaaa….
    Pak Uriiiiiippppp…
    Sabar Paaaaakkkk…
    Tenang2 Pak, kalo saya jadi dosen, nanti saya gak kayak dosen yg buat pak Urip gemes kooooqqq… he”

    Memang pendidikan kita kurang teladan, Pak..
    Di kampus dan sekolah..
    karena ngomong teorinya (pedagogi) memang mudah, prakteknya yang gak gampang..
    bahkan ada tawuran antar siswa, yang disalahkan pertama adalah guru..
    kurikulum yg di otak atik..
    mungkin ada benarnya..
    tapi semua itu kan kompleks.. harusnya dari pemerintahnya pun memberikan teladan n fasilitas yang memadai untuk pendidikan yang didalamnya terdapat pembelajaran di kelas..
    1 guru diminta untuk ‘menyentuh’ 40 murid dalam 1 kelas.. wow..
    ada juga tontonan yg gak patut di contoh: anggota DPR aja pas rapat malah brantem..
    itu yang di tonton siswa kita..
    wah byk deh..
    *jadi ikutan gemes.. he”

    Mantep Pak..
    Lanjutkan!
    he”