Matematika, Terbang di Langit dan Tak Pernah Berpijak di Bumi

Pelajaran matematika di sekolah sesungguhnya bisa dikemas dengan menarik, menyenangkan. Tentu saja kalau semua tidak hanya berkutat hanya dengan angka dan rumus-rumus, xyz, abc dan berbagai simbol matematis. Saat di sd matematika diusahakan agar serealistis dengan menggunakan benda nyata saat pembelajarannya, dan dengan soal cerita ketika latihannya. Namun semakin tinggi kelas, di sma misalnya, contoh-contoh real dalam kehidupan keseharian matematika semakin “terbang tinggi” menjauh dari “bumi”.

Akibat itulah sewaktu sma saya sendiri merasakan betapa garingnya pelajaran itu. Nalar terpakai hanya untuk menghitung, sementara yang dihitung itu nantinya diterapkan di mana siswa dan mungkin juga guru tak memikirkannya. Sempat dahulu saya bertanya kepada guru saya di sma, dengan ringan beliau menjawab, ah sudahlah nanti juga kamu akan tahu sendiri :)). Bagaimana kalau kita sekarang yang berada diposisi sebagai guru matematika memberikan pengertian kepada siswa, misalnya manfaat belajar tentang persamaan kuadrat, tentang difrensial, tentang integral, tentang trigonometri? Siap menjawab secara “pintar”?

Saya sih tidak yakin andai semua guru ditanya bisa memberikan contoh nyata terhadap pokok bahasannya yang sedang diajarkan. Yang saya sering rasakan adalah adanya ketidaksingkronan apa yang saya ajarkan di kimia dengan matematika yang sudah dan sedang diajarkan. Padahal bahasan kimia di sma belum ada yang membutuhkan matematika tingkat tinggi.

Andai semua guru matematika di semua jenjang mendapatkan jurnal rutin tentang hal aktual terkait apa yang bisa diberikan dan disarankan kepada siswa, saya berkeyakinan siswa semakin antusian belajar matematika. Mengapa? Jawabannya karena siswa paham akan arti pentingnya pelajaran yang sedang ia hadapi, pelajaran itu akan bermanfaat untuk ini, ini dan ini. Jadi tahu manfaat suatu konsep, teori, rumus-rumus yang dirasa rumit penyelesaiannya tentu akan menjadi spirit untuk menaklukkannya.

Saya pernah mendengar dan membaca sedikit tentang matematika real, tapi sampai sekarang gaungnya belum masuk di ruang-ruang kelas pelajaran matematika. Seolah isapan jempol saja semua itu. Karena tidak semua guru tahu itu, tidak semua guru matematika memahami itu dan yang jelas karena mereka miskin informasi tentang itu. Walaupun internet sudah pada bisa diakses kapan saja, nyatanya geliat aktivitas guru matematika yang tetap saja dari dulu hingga sekarang.

Andai semua guru matematika tahu ada web bagus seperti +Plus Magazine, dan bisa mengerti isinya, Indonesia akan ramai dengan keriuhan siswa menyenangi matematika, dan guru akan semakin rajin membaca dan belajar lagi, melang-lang internet, mendaki informasi. Di +Plus Magazine bagian artikel sangat-sangat banyak tulisan menarik yang bisa dijadikan bahan peningkatan kemampuan mengajar matematika serta isu terbaru pendidikan matematika dan dunia matematika itu sendiri. Mau tahu coba kunjungi saja web yang saya maksud di sini.

Saya menjumpai artikel menarik di sana. http://plus.maths.org/content/os/issue29/features/quadratic/index dan http://plus.maths.org/content/101-uses-quadratic-equation-part-ii.

Misal ada tulisan dengan judul “Galileo, why quadratic equations can save your life…” kalau kita tidak membacanya pasti tidak percaya bahwa dengan persamaan kuadrat kita bisa menyelamatkan hidup kita. Ada lagi “Newton, quadratic equations and singing in the shower” Sepertinya itu semua jauh dari matematika, tetapi nyatanya persamaan kuadrat itu diterapkan di sana. Terus terang sebelumnya saya pun tidak tahu tentang hal itu. Seharusnya teman yang guru matematika tahu soal hal itu.

Sangat menarik bukan?!

Selamat menjelajah web tersebut.

Urip.wordpress.com

Iklan

One response

  1. saya sendiri terkejut, pak. ternyata banyak siswa saya keterampilan menghitung dasarnya masih lemah. ketika saya menyampaikan materi mengenai laju peluruhan dengan konsep paling sederhana, yakni bahwa laju peluruhan adalah kelipatan setengah karena setiap kali meluruh jumlah zat tersisa setengah dari semula, ternyata banyak yang masih bingung dengan 1/2 x 1/2 x 1/2 dst. apalagi ketika masuk ke tingat rumus turunan bilangan pangkat spt n = 1/2 ^ x yang bila diturunkan menjadi x = (1/2) log n banyak yang masih bingung. tampaknya siswa banyak yang beranggapan bahwa mathematic tidak ada hubungan dengan science. jd ketika kita menyampaikan materi yang mengandung matematika yang sangat dasar, banyak siswa yang sulit memahami. apa solusi bapak?