Belenggu Berpikir itu Berupa Pertanyaan dengan Jawaban Singkat

Dunia anak seharusnya adalah dunia penuh kreasi dan kreativitas dengan imajinasi anak itu sendiri. Suatu kebiasaan saat di SD siswa sering kreativitas berpikirnya dibelenggu oleh gurunya sendiri. Semua harus sesuai dengan apa yang diajarkan guru yang artinya siswa harus hafal tentang pelajaran yang ia dapat di sekolah. Ini sudah saatnya untuk diakhiri sehingga pendidikan Indonesia bisa membebaskan anak-anak dalam berpikir dengan apa yang ia ketahui dan pelajari dari lingkungannya.

Misalnya soal berikut:

Sebelum berangkat ke sekolah harus…

Apakah salah jika siswa menjawab kita harus mandi, kita harus sarapan, kita harus berpamitan, kita harus menyiapkan alat sekolah, kita harus belajar, kita harus berdoa?

Jawaban terbuka seperti di atas sering membuat siswa frustasi karena apa yang ia jawab adalah kebiasaan dia dan ketika itu itulah yang ia ingat dan disalahkan guru. Semestinya pertanyaan seperti itu harus sedikit lebih detil sehingga membuat siswa harus berpikir lebih jauh.

Namun sering guru-guru SD di kelas awal tidak memikirkan itu. Kita sebagai orang tua ingin rasanya protes ketika melihat jawaban anak kita logis dalam menjawab pertanyaan namun disalahkan. Hal ini sering terjadi pada pelajaran selain matematika.

Contoh pada soal berikut pada pelajaran ips kelas 2 sd

soal isian singkat sd kelas 2Soal seperti di atas jelas bisa memberikan ruang cukup untuk anak berpikir sesuai dengan kebiasaan dia, tidak hanya berpikir seperti yang ia baca dalam teks pelajaran saja. Lebih-lebih soal seperti itu dimunculkan dalam soal ujian akhir semester. Dari 5 soal itu yang semua memiliki jawaban bersifat terbuka selain nomor 2.

Apakah salah ketika siswa menjawab;

  • soal no 1 … bukan hanya miliki kita, …bukan milik orang kaya,
  • soal no 3 … hari kelahiran, … hari yang ditunggu-tunggu,… hari saat dapat hadiah banyak, hari potong kue
  • soal no 4 …saudara, … orang tua, … teman, …tetangga
  • soal no 5 …menerima kado, …menerima ucapan selamat ulang tahun, …menerima hadiah

Kalau memang berniat untuk membuat agar anak bernalar (tidak hanya menghafal) soal seperti itu boleh saja ditambahkan kata-kata yang sedikit bisa membimbing dan tidak lagi menimbulkan multi-tafsir. Misalnya: Sebelum berangkat ke sekolah harus … agar badan tidak bau; sebelum berangkat ke sekolah harus … agar tidak lapar saat belajar.

Mungkin saja guru-guru di SD itu hanya mencontoh berbagai soal dari buku-buku pelajaran namun tanpa memperbaiki apa yang ada. Pemberian pelatihan yang intensif dan terus menerus sangat diperlukan oleh guru dalam menyusun variasi soal-soal dengan kreativitas yang tinggi sehingga tidak menimbulkan multitafsir, tidak menjadikan semua pelajaran hanya hafalan saja. Soal hafalan kiranya sudah saatnya dikurangi dalam hal pelajaran yang memang tidak bersifat eksak.

Banyak orang tua yang kadang heran dengan kebiasaan guru-guru di jenjang pendidikan dasar ketika melihat hasil ulangan anaknya, yang menurut logikanya jawaban sang anak tidak keliru, tapi disalahkan oleh guru. Ternyata ketika orang tua memeriksa di buku pelajarannya (biasa ilmu sosial) memang hanya itu yang diajarkan oleh gurunya. Sangat-sangat text book. Harus sama dengan yang ada di buku. Inilah belenggu seorang manusia pertama kali yang di alami di dunia persekolahan.

Aneh memang jika soal jawaban singkat itu maunya bersifat terbuka mengapa menjadi tertutup hanya dengan soal hafalan tanpa bisa dilogikakan. Sampai kapan ini terjadi? Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap ketidakberesan model soal di sekolah di negeri ini?

Bagaimana menurut Anda?

Iklan

2 responses

  1. Begitulah, Bos, banyak guru pembunuh di negeri ini.Membunuh kreativitas dan kecerdasan siswa. Eloknya, mereka melakukan itu tanpa rasa bersalah. Persoalannya sederhana, mereka hanya tidak mau berpikir:D

  2. Saya sangat prihatin juga dengan masalah diatas. Soal yang diajukan guru sangat umum sedangkan jawaban yang diminta sangat spesifik. sangat amat benar jika anak bisa menjawab sesuai dengan kebiasaannya dirumah. Metode hafal menghafal sepertinya masih berlaku di jaman sekarang 😦 Bagaimana saran Bapak selaku guru kepada kami (selaku orang tua murid) untuk mengatasi ini? Apakah mendiskusikannya langsung dg guru wali murid?