Apapun Kurikulumnya, Minumnya Tetap…

kurikulum 2013Kurikulum boleh berubah karena memang tidak sulit diubah-ubah dengan berbagai alasan. Guru sebagai guru biasa tidak akan mungkin bisa mengendalikan semua yang memang akan diubah. Pendidikan ini tidak akan bisa berjalan tanpa guru, tanpa menggunakan kurikulum sekalipun pendidikan dapat berjalan meskipun tidak jelas arah, terdengar ekstrem kan?! Begitulah faktanya. Lantas mengapa kita perlu hiruk pikuk memperdebatkan kurikulum.

Jaman kini kurikulum memang menjadi hal penting, makanya perlu diperdebatkan agar dihasilkan kurikulum yang benar-benar bagus, meskipun semua itu relatif. Kerelatifan berubah menjadi absolut ketika kita tahu persis apa yang melatarbelakangi perubahan kurikulum itu. Siapa yang ada di belakang perubahan kurikulum itu juga turut mempengaruhi relativitas yang ada.

Kadang kekonyolan bisa saja menjadi latar belakang terjadinya perubahan sesutau termasuk perubahan kurikulum itu. Meskipun dalam bahasa formalnya tentu saja hal konyol tidak akan digunakan. Tidak sulit untuk mencari pembenaran akan argumen yang letarbelakanginya. Kadang budaya juga tidak bisa membantu untuk membuat kekonyolan itu hilang menjadi hal yang logis. Terkait siapa yang memutuskan, kadang suatu kewenangan dapat dianulir begitu saja karena adanya tujuan tertentu yang tidak kalah konyolnya.

Itulah gambaran sekilas setelah saya simak berbagai informasi yang saya terima sehubungan dengan proses perubahan kurikulum kini. Kurikulum yang sedang diujipublikkan itu pun syarat kekonyolan dengan sesuatu yang tidak bisa dinalar sebagaimana apa yang pernah saya tulis pada tulisan sebelum ini. IPA dan IPS dilebur ke dalam bahasa, dan pendidikan kewarganegaraan, TIK yang tidak lagi jadi mata pelajaran, penjurusan di sma yang sejak dulu jadi isu, tidak jelasnya pengaluran antara sma dengan smk dan seterusnya. Bandingkan dengan negara tetangga yang jauh lebih matang dalam hal kurikulum. Berprinsip kuat. Kita? Sedikit-sedikit kurikulum dijadikan lahan untuk “bermain”.

Berdasarkan info terakhir dari berbagai pernyataan mendikbud dan wakilnya di media online bahwa pada kurikulum 2013 nanti banyak perangkat yang akan dan telah disiapkan seperti buku siswa, buku pedoman untuk guru, silabus, dan lain-lainnya. Meski begitu pihak sekolah boleh mengembangkan yang telah disiapkan itu sebab itu hanyalah perangkat minimal. Tentu saja kata minimal ini memiliki makna andai guru tidak bisa mengembangkan lagi harusnya itu sudah mencukupi walaupun itu minimal. Alasannya tidak lain adalah keraguan dengan bukti pada kurikulum sebelumnya banyak guru yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan kurikulum di sekolahnya.

Kurikulum oleh pemerintah dalam hal ini kemdikbud dibuat secara terpusat dengan harapan akan dicapai hasil yang tidak terlalu heterogen. Suatu kenyataan di lapangan tentu tidak semudah itu untuk diaplikasi mengingat ke-divergen-an. Aslinya pemerintah sendiri harus membuat disparitas antar sekolah tidak jauh berbeda dalam segala hal jika menginginkan tujuan pendidikan itu tercapai. Nyatanya tidak juga begitu, secara fisik saja masih banyak gedung sekolah tak layak, perbandingan guru dengan murid tidak merata, belum lagi kualitas guru yang tak kunjung terdongkrak dengan berbagai kebijakan yang telah ditempuhnya. Terkesan tidak serius walau serius. Ada yang salah sepertinya, tapi entah di bagian mana.

Terkait kebijakan uji publik terhadap kurikulum 2013 itu pun terlontar banyak pernyataan yang membuat kemdikbud semakin terlihat belang-nya. Bagaimana tidak, uji publik belum usai wamendikbud sudah menyatakan walaupun banyak yang menentang kurikulum baru itu tetap akan dilanjutkan dan dilaksanakan. Apakah ini bukan kepongahan, untuk tidak mendengar berbagai pihak yang dengan argumennya mereka tidak setuju terhadap perubahan kurikulum itu.

Akhirnya, suara guru sebagai pengguna kurikulum yang sedianya akan tetap diterapkan di tahun ajaran 2013/2014 itu hanya bisa pasrah, menerima apa adanya. Banyak konsekwensi yang harus diterima terkait pemberlakuan kurikulum baru itu. Katanya sih kemdikbud menyatakan siap dan akan menyiapkan segala sesuatunya sehingga guru tidak dirugikan, tidak dibingungkan. Berdasarkan pengalaman selama ini mau kurikulumnya apa guru tetap pada padangannya bahwa dialah yang akan menentukan bahwa kurikulum itu nanti dipakai atau tidak, pakai metode yang disarankan atau tetap juga menggunakan metode yang mereka pakai selama ini. Meskipun dalam kurikulum 2013 itu semua pelajaran akan diterapkan dengan dukungan TIK. Padahal… kita tahu belum semua sekolah dapat menggunakan pendukung TIK itu. Yakin apapun kurikulumnya guru tetap akan menggunakan apapun yang dia bisa. Apapun kurikulumnya…

Wassalam

 

Urip Kalteng

 

4 responses

  1. setuju dengan tulisan di atas

  2. heee nggak ekstrem kok pak guru … emang kayak gitu …. guru terusss jadi pahlawan tanpa tanda jasa… moga aja ulahnya kemdikbud … gak jadi ulahnya para pengulah …

  3. Dunia pendidikan kita bagai laboratorium, penuh dengan percobaan-percobaan. Slogan Iklan “Buat anak jangan coba-coba!”

  4. optimis Sajalah, PERUBAHAN=PERBAIKAN