Berpikir Kritis dalam Belajar (Contoh dalam Pelajaran Kimia)

Belajar kimia, seperti halnya pelajaran sains lainnya memiliki karakteristik tertentu, namun secara umum berpikir kritis dengan rasa ingin tahu yang tinggi adalah modal untuk bisa menguasai hampir semua pelajaran. Guru-guru kita sering mengingatkan bahwa jika ingin pintar banyak-lah bertanya. Bertanya model apa sih yang dimaksud itu?

Sebenarnya dalam setiap pokok bahasan banyak hal baru. Hal-hal baru itu perlahan akan dijelaskan pada rentetan kalimat-kalimat yang mengikutinya. Meskipun demikian tidak semua yang ada pada kalimat itu dapat dimengerti. Bagian yang tidak dimengerti inilah yang layak untuk dipertanyakan kepada guru, atau kepada siapa saja yang bisa dijumpai, dan yang lebih gampang adalah mencari-nya dengan menggunakan search engine – internet.

Berpikir kritis adalah sutau proses mental untuk menganalisis, mengevaluasi informasi yang diterima. Bagaimana caranya agar siswa atau siapa saja dapat berpikir kritis. Tentu kita harus memenuhi prasyarat-nya. Kita memiliki rasa ingin tahu, memiliki berbagai bahan yang mendukung atas apa yang hendak kita kritisi. Kritis itu adalah mencoba menghubungkan berbagai informasi dari apa yang kita ketahui, memecahkan apa yang mungkin untuk dikoneksikan dengan hal yang satu ke yang lainnya.

Contoh berpikir kritis itu seperti berikut ini, (ada pada tulisan dengan judul hubungan molaritas, molalitas, dan densitas). Misal dalam pokok bahasan sifat koligatif larutan ada pendahuluan tentang satuan konsentrasi, molal dan molar. Kadang untuk soal yang menantang ada yang meminta siswa mengkonversi dari satuan molar ke molal atau sebaliknya. Tentu dengan tambahan data densitas atau massa jenis zat. Densitas ini sering kurang mendapat perhatian dalam pokok bahasan yang melibatkan konsentrasi larutan. Tapi dalam banyak buku kimia kurang mendapat perhatian.

Pernyataan menantang yang saya contohkan:

  • Densitas dapatkah digunakan untuk menyatakan konsentrasi? Bukankah satuan densitas juga g/mL?
  • Apakah densitas itu memang salah satu pernyataan konsentrasi?
  • Dapatkah kita melakukan konversi molar ke molal tanpa diketahui densitas zat terlarutnya?
  • Jika volume larutan tidak 1 Liter (misalnya larutannya hanya 250 mL atau 500 mL) apakah rumus konversi di atas perlu diubah atau tidak?

Dengan memperhatikan arti dari masing-masing satuan konsentrasi (molal dan molar) serta densitas, ternyata dapat ditarik hubungan antara ketiganya. Sekali lagi ini jarang dijumpai dalam buku pelajaran di sekolah, karena kurikulum tidak menuntut hal itu. Anehnya pada tataran soal-soal itu tidak jarang ditanyakan, lebih-lebih pada soal olimpiade sains. Andai saja siswa bisa menurunkan rumus hubungan antara ketiga-nya tentu mereka dapat menjawab berbagai pertanyaan kritis di atas.

Hal-hal seperti di atas itulah yang harus ditanamkan kepada siswa dan guru, sehingga kekreatifan berpikir meningkat. Yang sering terjadi adalah siswa bahkan kadang guru enggan menggunakan informasi yang miliki sebelumnya untuk mengkritisi sesuatu. Tapi yang seperti itu patut dicuragai bahwa sesungguh mereka belum siap belajar, belum memiliki informasi yang terkait dengan apa yang hendak dipelajarinya. Jika ini yang terjadi tentu suasana belajar menjadi membosankan. Untuk itulah baik siswa dan guru sudah selayaknya banyak memasukkan informasi yang kelak jika dibutuhkan bisa jadi modal untuk mengkritisi sesuatu (baca pelajaran/bahan bacaan).

Contoh sederhana adalah mengkritisi tulisan saya yang blepotan ini. “…Kok gitu, kan mestinya tidak begitu…” , “…wah ini gak nyambung…” dan seterusnya. Dari mengkritisi tulisan kacau seperti ini mestinya kita bisa menulis lagi dengan gaya komunikatif, berkomunikasi dengan tulisan saya ini misalnya 🙂

Berpikir kritis ketika membaca sering disebut membaca secara kritis, tapi intinya semua itu yang tetap kembali ke berpikir kritis, asal tidak kritis lantas dilarikan ke rumah sakit saja :D. Mari kita ajak siswa kita, untuk mengkritisi bahan belajar, bahan bacaan, per-paragraf, tiap kalimat, dan kata. Optimis kita akan bisa menghasilkan generasi yang cerdas.

Pranala terkait:

Iklan

2 responses

  1. menarik sekali, pak. tidak mampu mengkritisi tulisan ini. salam