Dalih atas Kepatuhan itu Berkedok Keprofesionalan (Guru)

Berbahaya. Menyimak judul tulisan ini pasti banyak hal akut yang sudah selayaknya dicermati guru. Ini tidak lain terkait dengan kurikulum baru, kurikulum 2013. Menyimak banyak lontaran cletukan teman di situs jejaring sosial membuat saya tercenung.

Berikut kalimat yang mengelitik pikiran saya yang terlontar dari teman-teman di situs jejaring sosial yang masih terngiang di benak saya.

  • “Apapun kurikulumnya itu tidak jadi masalah kalau gurunya profesional” atau “Kalau guru-nya profesional apapun kurikulumnya itu no problem, karena gurunya tidak profesional kurikulum baru jadi pertentangan”
  • “Tahun ini kurikulum 2013 diterapkan di sejumlah sekolah dan dimaksudkan sebagai uji coba. Hasil ujicoba tentu perlu dievaluasi. Sekarang, evaluasi belum dilakukan pemerintah sudah mengatakan bahwa tahun depan semua sekolah wajib menerapkan kurikulum 2013. Bagaimana bisa? Tidakkah ini seperti membuat kesimpulan sebelum penelitian dilakukan? Pemerintah, dalam hal ini kemdikbud, konon hendak membangun cara berpikir ilmiah bangsa ini melalui kurikulum 2013, akan tetapi mereka sendiri seperti malas berpikir ilmiah.”

Selaku guru biasanya tidak punya kuasa sedikitpun atas kebijakan yang dibuat pemerintah, termasuk kelahiran kurikulum 2013 yang memang sangat kotroversial. Semenjak berupa draft kemudian diujipublikkan (walau yang disodorkan hanya berupa slide presentasi tanpa penjelasan detil), yang menurut hemat saya itu tidak lulus, atau harus banyak perbaikan eh ternyata tetap saja kurikulum baru itu diterapkan di beberapa sekolah sasaran yang pemerintah tetapkan sendiri.

Semenjak itu pula kalimat dari sesama guru sering terlontar dari perorangan “Apapun kurikulumnya itu tidak jadi masalah kalau gurunya profesional” benarkah kita yang mengritisi atas kebijakan yang kontroversial itu sama dengan guru yang tidak profesional?! Mereka yang setuju dengan kurikulum 2013 barang kali telah menyadari bahwa ia memang tidak punya kuasa untuk “melawan” lantas merendahkan pola pikirnya dengan berdalih yang tidak siap dengan kurikulum baru adalah guru yang tidak profesional. Padahal itu saya bisa maknai mereka hanya ingin patuh tidak mau menentang karena tak punya kuasa dan seperti pemberlakuan kurikulum yang sudah-sudah mereka hanya melaksanakan begitu saja. Yah hanya melaksanakan begitu saja, yang secara administrasi mereka telah penuhi segalanya namun secara praktik di kelas (di lapangan) tetap sesuka hati mereka tidak lagi patuh atas kemauan pembuat kebijakan. Yang terjadi adalah penerapan kurikulum KBK, alias kurikulum bagaimana kita-lah. Ini nyata terjadi. Kalaupun ada supervisi atas prilaku guru yang begitu toh selama ini supervisi juga dilakukan asal lengkap secara administrasi saja. Bisa dilihat sendiri dampak hasil kerja pendidik atas pendidikan di negeri ini. Berbagai tes internasional posisi Indonesia pada level “memalukan”.

Kurikulum 2013 ini adalah kurikulum yang seolah nuansa keilmiahannya mengemuka dan seolah menjadi nafas dalam penerapannya. Hal itu termaktub dalam berbagai pendekatan yang disarankan, pendekatan sainstifik. Ok, bagus saja. Bagus saja maksudnya biasanya akan bagus di tulisan tapi dipaparan akan lebih banyak yang mengingkari. Terbukti bahwa pada tataran atau level pengambil kebijakan saja sudah mengingkari asas keilmiahan. Seperti yang ditulis salah satu rekan saya di atas itu. Kurikulum 2013 sedang diujicobakan, belum juga dievaluasi tapi dikatakan tahun depan sudah akan harus diterapkan semua sekolah. Kaidah ilmiah telah akan diingkari oleh pengambil kebijakan.

Belum lagi kurikulum 2013 itu nanti di perdebatkan atas akan tetap diadakannya ujian nasional yang ternyata tidak menguji apa yang dilakukan dalam pembelajaran. Yang diuji hanyalah kemampuan kognitif siswa belaka. Padahal kalau pendekatan sainstifik maka proses pun harus diujikan dengan sekala nasional pula. Ini sama dengan dengungan pendidikan karakter pada setiap pelajaran selama ini. Ujung-ujungnya ujian nasional yah begitu-begitu saja. Bahkan terkesan tidak mengangap proses pembelajaran yang punya penilaian tersendiri. Saya sendiri agak heran mengapa kurikulum akhir-akhir ini lebih mementingkan semua administrasi, semua harus tertulis, yah seperti dalam penerapan pendidikan karakter itu. Tapi coba kita cermati adakah nilai karakter yang terujikan? Seingat saya sejak dulu pendidikan karakter itu sudah ada meskipun tidak harus dituliskan dalam setiap rencana pembelajaran, sebab yang namanya pendidikan karakter itu melekat pada prilaku guru, siswa dan semua masyarakat.

Nah, bukankah kepatuhan saja sesungguhnya yang kita laksanakan (tanpa mau mengkritisi) agar kita tidak dicemooh sebagai guru yang tidak profesional?

Boleh setuju, boleh juga tidak. Ini sekedar opini.

Wassalam

Urip Kalteng

3 responses

  1. saya sudah langganan blog ini lewat email. jadi begitu melihat “Tulisan baru pada Blog Guru Kimia Borneo” langsung meluncur. hehe..
    menarik sekali artikelnya, Mas. terutama logika gila ini: “Apapun kurikulumnya itu tidak jadi masalah kalau gurunya profesional”. kalimat ini seolah-olah ingin menakut-nakuti agar guru patuh, manut, seperti rakyat jelata pada jaman majapahit. Selain juga menganggap seolah-olah kurikulum tidak penting, jadi kenapa harus diganti-ganti tho.
    salam

    1. Iya, saya sepakat dgn tulisan di atas 🙂

  2. Saya sedang menyoroti hal ini di blog saya. Sepertinya menarik jika didiskusikan.