Menulis Gaya Ngelantur™

Berikut ini catatan akhir tahun tentang menulis dari saya 🙂 tentang menulis gaya ngelantur™ ala Urip Kalteng.

“Pak, Menulis Gaya Ngelantur di blog itu gimana sih?”
Gampang terbang dan bebaskan pikiran atau selamkan pikiran ke lautan terdalam sedalam opini, sesuka hati, terus tuliskan lantur pikiran itu, jadi deh.
“Loh gak perlu pakai kerangka pikiran segala dong?”
Sampean ini mau menulis ilmiah atau menulis sekedarnya saja, kalau nulis sekedarnya saja ndak usah ikuti aturan yang selama ini diajarkan guru Bahasa Indonesia itu.

Menulis ngelantur itu tidak ada aturannya, bebas tidak kaku, tidak sulit, gampang, alias mudah. Meliarkan pikiran, mau ngomong apa saja boleh (dengan menuliskannya pasti), tanpa tema atau pun judul. Judul buat belakangan saja, kita bisa pilih judul yang seksi. Jangan pula berharap ada yang ngomentari, kecuali teman-teman yang baik saja :). Ini dapat digunakan untuk mengisi kejengahan beraktivitas yang memeras otak. Sekedar untuk mengendorkan “nafas” diri melepaskan kepenatan berpikir linier.

Bagaimana dengan tema? Ndak usah dipikirkan apa yang terlintas tuliskan saja, sebab begitu kita mulai menulis tema dengan sendirinya tercipta. Tidak percaya? Coba saja buat tulisan status di facebook. Praktis tulisan kita punya tema. Tinggal kembangkan lebih lanjut sesegera mungkin atau lain kali. Bisa berupa status baru atau menuliskan kelanjutannya di komentar status semula. Pikirkan kita sedang bercakap-cakap dengan diri kita sendiri. Jika dirasa sudah capek atau tidak adalagi yang ingin dituliskan jangan paksa diri.

Nanti jika mood sedang on, lanturan-lanturan itu boleh digabung maka kita pun akan heran sendiri, “Eh saya tadi ngelantur apa yah?” Sambil nyadar dari fase koma. Oleh karena perturutkan saja lanturan pikiran yang disajikan lewat hentakan tuts keyboard yang tak pernah protes ketika dihentak mesra.

Sekali duduk kita bisa menghasilkan banyak-banyak tema. Tergantung kita sedang asyik mikirkan apa 🙂 Kita boleh berpikir liar tentang apa saja menurut sudut pandang kita sendiri. Kita juga boleh berselang-seling memperturutkan pikiran dengan tema satu dan yang lainnya. Jika dirasa capek berhentilah sejenak kumpulkan tema senada. Hubungkan antara status komentar yang kita buat itu dengan sebuah paragraf penghubung, ini ndak masalah meskipun sedikit maksa. Justru dibagian paragraf inilah kita bisa berpikir secara salto,meloncat berjungkir balik hingga sampai pada paragraf yang hendak kita hubungkan.

Aturan dalam menulis itu sering membuat diri kita terkekang. Setidaknya itu yang sering membekas dalam pikiran siswa selama belajar Bahasa Indonesia secara formal. Menulis bebas jika menggunakan kerangka pikiran ibarat otak diikat laksana pocong yang menakutkan. Jika ingin bebas dalam menulis, yah menulis saja. Seperti guru saya Ersis Warmansyah Abbas mengajarkan hal itu. Meskipun kita belum menghasilkan sebuah buku atau apapun bentuknya yang penting menulis terus. Saya pun punya cara sendiri untuk itu, menulis gaya ngelantur™ ini, meskipun menjadi tak jelas juntrungannya. Jangan dulu terlalu perdulikan hasilnya.

Sebagai murid yang gagal dalam hal menulis sebuah buku dalam waktu segera, saya tetap percaya diri walau huruf-huruf yang ada itu sering sulit terketik di layar komputer, dan mungkin benar-benar tak akan bisa membuat sebuah karya buku pun. Saya buat enjoy dengan ke-pede-an untuk tidak membuat buku itu.

Jika ada rekan yang rajin berpikir dan menulis saya tidak iri sedikitpun, itu adalah jalan mereka, dan saya punya jalan hidup sendiri untuk menyusun huruf dan tanda baca. Barangkali cara mereka dengan cara saya akan berbeda, mungkin. Dan apakah saya kepingin membuat sebuah buku, tentu jawaban saya pasti tidak. Tidak kepingin mengingat kemampuan, tapi entah nanti 🙂

Ada para ahli yang berpesan jika mau membuat tulisan yang bagus harus banyak membaca buku agar wawasan kita bertambah dan tulisan kita tidak garing. Meskipun tidak garing katanya kalau banyak baca tulisan kita jadi renyah enak “dikunya” oleh otak pembaca. Itu oke-lah. Dengan kesombongan saya, saya malah malas sekali membaca buku sebab tidak sanggup membacanya, tidak paham-paham juga. Buku yang saya miliki hanya sebagai obat penenang bukan untuk diobrak-abrik isinya untuk memuaskan nafsu ingin tahu. Ini gue banget. Buku dibuka ketika memerlukannya doang. Andai saya bisa menguasai sebuah buku dengan segala isinya, yakin saya BISA membalikkan isi dunia, wuahahahahaha.

Berbeda sekali dengan menulis status di facebook dengan cara ngelantur, itu tidak perlu berpikir rumit atau berpikir keras, yang terlintas tulis saja toh sekedar bertujuan narsis habis. Tidak perlu juga membuat pencitraan di facebook ini. Ndak ada gunanya citra yang penting nyata. (“…sebab kini kulit ku sudah seputih kulit Sinta.”)

Akhir paragraf… Manfaatkan kotak status atau komentar di facebook sebagai tempat untuk lanturan pikiran, demi (halah pakai demi 🙂 ) yah demi menjadi penulis yang ngelantur aliar ngelindur bin mengigau. Kalaupun ada yang menyangkal hasil tulisan ngelantur kita, kita bisa berkilah, loh itu kan tulisan saya sedang ngigau kok 😀 .

Wassalam
Urip Kalteng

2 responses

    1. menulispun ternyata juga bisa ngelantur. *angguk-angguk