Mau Ambil “Sampah” Saya, Silahkan…

Berikut ini adalah hasil saya mengais sampah-sampah di dinding facebook saya, barang kali bisa didaur ulang untuk dijadikan sampah baru. Satu paragraf itu sama dengan satu status.

Tahukah Anda siapa yang pertama kali menulis tentang “Menulislah Sebelum Namamu Ditulis pada Batu Nisan” atau “Menulislah Sebelum Namamu Ditulis di Batu Nisan”? Kalau mau repot silakan search dengan google. Kalau ndak mau repot klik pranala berikut http://goo.gl/QEuLA5 . Soal seperti ini saya ndak pernah ambil pusing kalaupun ada yang mengakui lebih dulu. Toh huruf yang saya gunakan itu gratis, otak yang saya pakai untuk mikir juga pemberian Sang Yang Maha Kuasa, gratis dan original.

Ada yang Plagiat? Plagiarism? Ah ndak perduli, jika ada yang mau mencontek tulisan atau mengambil pemikiran sampah yang ada di blog saya, saya ndak perduli silakan saja, bahkan kalau ada yang mau mengaku punyanya juga monggo. Saya ndak akan marah justru senang saya. Alasannya karena saya telah membantu para plagiator itu. Toh sekarang sudah ada alat canggih untuk menguji apakah tulisan itu memplagiasi punya orang atau ndak. Di situ akan ketahuan siapakah yang pertama kali menulis atau mencetuskan ide atau pemikiran. Memperdebatkan siapa yang pertama kali menyetuskan pemikiran atau siapa yang pertama kali menuliskannya seolah ndak ada gunanya lagi, toh itu bukan tulisan ilmiah.

Bahkan jika ada orang terkenal mengambil sampah dari tulisan tidak bermutu punya saya itu (haeleeeeh emang ada yah?!…. emboh), saya juga persilakan, dengan ikhlas saya mengijinkan. Ketika saya menulis dan memikirkannya saya sendiri ndak pakai modal duit, jadi silakan. Enjoy aja feel free-lah sak karepmu. Atau mereka hanya kebetulan punya ide sama, jadi siapapun ndak berhak mengklaim, ingat ini bukan tulisan ilmiah.

Kadang siapapun sering mempunyai ide cemerlang, pemikiran bagus terus dituliskan kemudian didengar, dilihat orang lain, lantas orang itu mengakui itu hasil pemikirannya sendiri, ndak usah sakit hati, jangan sampai nggondok segede genthong. Santai sajalah. Yakinlah kelak semua akan terbuka. Yakini Tuhan akan memberikan sesuatu yang jauh lebih luar biasa dari apa yang diaku orang itu. Eit jangan berharap cepet mendapatkan itu kalau kita ndak berjuang juga 😛 . Jadi berjuanglah untuk selalu menggagas hal baru, pokok-e maju perut pantat mudurlah (nah yang ini semboyan minjem juga) Walaupun tulisan yang kita hasilkan itu sampah tetap berjuang-lah yah.

Sering saya mengatakan dalam tulisan bahwa tulisan saya itu sampah, ini mengambil istilah dari rekan-rekan blogger 2007-an dulu, sebab semua yang tertulis di sini atau di blog saya belum bisa jadi emas alias ndak terlalu berharga, apalagi kalau di kilo-kan ke tukang pungut barang bekas ndak akan ada yang mau. Ingat prinsip suatu sampah kah? Sampah itu tidak bisa dimusnahkan, hanya berpindah tempat atau berubah bentuk saja. Meskipun sebelum benar-benar menjadi sampah biasanya setiap barang memiliki kegunaan. Selama digunakan maka biasanya di-eman-eman, setelah selesai yah sudah dicampakkan begitu saja. Itulah sampah.

Jika kok terasa saya sombong dengan mengatakan tulisan saya yang berceceran dan mengotori dinding facebook itu adalah sampah, maka dengan mudah teman sekalian menyembunyikannya atau sekalian memutus pertemanan dengan saya di facebook, ndak papa-lah itu hak teman-teman, tapi ingat siapa yang memutuskan pertemamanan dengan saya berarti memutus tali persaudaraan, dan ini akan berdampak pada putusnya rejeki teman sekalian. Memang rejeki sampean dari hasil pertemanan dengan saya tah?! Ndak toh 😀

Saya menulis sampah ini sangat enjoy ndak mikir dinding teman saya penuh sampah saya atau tidak, yang penting narsis plus katarsis saja. Ibarat sakit perut, hendak BAB (meminjam istilah guru saya Bang EWA) kalau jika ndak segera dikeluarkan atau menahannya bisa tambah mules, jadi mohon maaf yah (gak perlu nunggu lebaran kan yah?) Jadilah saya sukses mengotori dinding teman semua.

Tulisan seperti ini sesungguhnya sampah beneran, bayangin pemikiran saya yang asal-asalan ini terus saya tulis di sini ini kan sampah, terus misalnya/andaikata/umpamanya dijadikan buku laku banyak yang beli atau yang baca toh setelah itu teronggok atau hanya mendiami rak buku berdebu toh? Kalau sudah nggak lagi merasa penting paling banter diberikan orang atau diloakkan, lebih ndak penting lagi dibakar jadi sampah dan gas hasil pembakarannya jadi sampah lagi naik ke udara, larut dalam air hujan, jadi hujan asam, mencemari lingkungan… merugikan sekali kan yah. Inilah mengapa tulisan ndak mutu saya ini saya katakan sampah. Eits dilarang protes atau mendebat yah!

Kita ini bukan penulis hebat kan yah, jadi jangan merasa tertekan untuk tidak mencapainya wong memang bukan penulis hebat, kita yang seneng nyampah di status facebook ini sesungguhnya hanya untuk nyampah itu tadi. Eh sapa tahu sampah kita ada yang mau beli kiloan lumayan kan yah. Banyak orang yang hendak menjadikan dirinya sebagai penulis buku ngetop, terus merasa top karena memang top beneran baguslah. Anda? Ojo iri-lah nikmati nyampah saja dulu. Nyampah di sini itu ndak ada beban yah iseng-iseng mbantu menaikkan trafic facebook saja-lah.

Kalau ajaran agama mengajarkan lakukanlah hal yang bermanfaat, berbicaralah yang bermanfaat, semua pokoknya yang bermanfaat, ndak boleh melakukan kesia-siaan lah pokoknya. Lah nyampah dengan menulis status begini ini kira-kira memberi manfaat atau sia-sia sih? Eh kalau menurut sudut pandang saya yang sempit dan sisi yang pendek sehingga luas pandangan saya sak dumit (sak umprit) tetap saja bermanfaat, setidaknya bermanfaat buat facebook dan bermanfaat buat saya dewe. Kalau Anda yang baca status saya ini terus mendapat manfaat apalagi inspirasi… Anda keliru besar, tulisan ini benar-benar sampah. Sembunyikan saja dari dinding Anda, saya loh ndak rugi, yang rugi malah anda sendiri karena harus ngeklik untuk menyembunyikannya.

Wassalam,

Urip Kalteng,
https://urip.wordpress.com,
http://www.facebook.com/urip.kalteng

5 responses

  1. wes iku jan berkarakter, gayamu PAK URIP…… TRUS JADI INSPIRASI

  2. Salam, Pak Urip. Saya sangat senang membaca tulisan-tulisan Bapak. Baru semenit-an lalu saya menemukan blog ini dan I do appreciate! Jarang sekali guru di lingkungan saya yang suka menulis, apalagi di-publish ke blog/situs pribadi. Kebetulan saya sedang menyiapkan bahan tulisan untuk blog saya dengan topik “Why educators need to blog”. Tulisan-tulisan “bebas” Bapak sangat memberikan “suntikan” baru bagi saya. Semoga saya bisa secepatnya menyelesaikan tulisan saya.

    Salam dari Purbalingga,
    😀

  3. Konten Adalah Raja Dan Backlink Adalah Ratunya… Kunjungi Artikel SEO Termurah Dengan Niche Terlengkap… http://www.okartikel.com