Guru Sekolah Model Belajar Flash

Hari Ini.

Pagi tadi saat asyik mengakrabi Ubuntu tiba-tiba telepon bernyanyi. Panggilan masuk dari seorang temen di sekolah lain. “Pak, kalau tidak ada jam mengajar kami tunggu kedatangannya di SMA 3, ada pak Wid, dan Pak Admo”, rupanya pak Aji Sakti, temen mendiang Adijaya. Saya tidak yakin, sebab tidak tahu ada apa memangnya saya diminta ke sekolahnya. Akhirnya diyakinkan oleh pak Admo, “Pokoknya datang saja pak ini ada bagi-bagi duit”. Walah… biar saya gak dibilang ada bagi-bagi duit saya juga kesitu, ha-wong lagi “nyantai”.

Akhirnya saya meluncur ke sekolah rekan saya itu. Saya sebenarnya sudah tahu dari istri saya bahwa akan ada pelatihan untuk guru-guru untuk belajar membuat animasi pembelajaran. Kegiatan ini diperuntukkan bagi guru yang sekolahnya dijadikan “proyek” Sekolah Model di kabupaten saya. Masing-masing 1 sekolah tiap jenjangnya. Setiba di sana acara belum dimulai, masih lagi persiapan, menginstall Macromedia Flash MX 2004 (saya lihat bajakan juga hehehe). Yang memberikan tutorial adalah mahasiswa magister komputer dari UGM. Dalam hati saya ngapain ndatangkan jauh-jauh, di kabupaten ini kayak gak ada yang bisa saja (tapi bukan saya sebab saya gak mahir Flash).

Ngobrol-ngobrol di sela-sela menginstall aplikasi flash itu, saya denger dari pak Aji kabarnya mungkin proyek ini adalah pelaksanaan yg dulu pernah ditawarkan ke sekolahnya untuk pembuatan multimedia pembelajaran yang dananya 175 Juta-an, gak tahu kepastiannya sih. Mungkin karena dirasa gak ada yang tertarik akhirnya disabet saja oleh pihak dinas dikjar sendiri. Ahh gak tahu lah. Tapi ini saya kira proyek untuk mempersiapkan agar guru-guru yang sekolahnya akan dijadikan model agar bisa membuat media pembelajaran berbasis komputer. Karena di dalamnya memang ada proyek pengadaan lab multimedia untuk tiap sekolah tersebut.

Yang hadir dalam kegiatan itu hanya belasan guru saja, ini terlihat karena dari 20 komputer tidak semuanya terpakai. Saya sempat ngobrol dengan tutor yang dari UGM itu, apa bisa guru-guru yang kebanyakan baru kenal macromedia flash (bahkan ada yang baru kenal komputer) bisa membuat alat pembelajaran hanya 3 hari (rencananya pelatihan hanya 3 hari). Jawabnya singkat untuk inisialisasi saja pak. Ok. Perlu waktu lama dan tergantung rasa seni mengolah animasi itu sehingga pelajaran lebih menarik dan bisa memberikan pemahaman yg lebih baik.

Penggunaan animasi untuk pembelajaran ini adalah hanya salah satu model pembelajaran yang tidak mesti dan tidak harus. Menurut saya ini terkesan gagah-gagahan saja, padahal SDMnya sangat jauh. Mungkin kalau guru-guru getol setahun baru mahir. Rupanya yang merasa berkepentingan bukan murni dari guru. Ini adalah pemikiran pihak dinas dikjar. Tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk mengadakan lab multimedia pembelajaran. Tapi yaitu tadi, ini proyek bung… Urusan hasil bukan tujuan utama.

Seperti cerita awal, saya datang karena diminta temen saya yang sekolahnya dijadikan tempat pelatihan ini, sekalian kalau mau belajar mumpung ada yg mau mengajari, demikian bilang temen-temen. Saya ternyata sesampai di sana kurang tertarik, sebab di rumah saya sudah punya tutorial lengkap untuk flash MX ini. Sepertinya tidak terlalu sulit, hanya perlu sense seni saja. Sayangnya saya kurang punya rasa seni makanya tidak tertarik. Kelak saya kalau perlu akan berlatih sendiri, sebab kimia perlu visualisasi hal abstrak agar mudah dimengerti siswa. Tapi karena di internet sangat banyak maka saya jadi malas belajar.

Pas pukul 12.00 akhirnya saya pamit pulang.

 

 

Technorati:

 

Powered by Bleezer

About these ads

29 gagasan untuk “Guru Sekolah Model Belajar Flash

  1. Aslmkmwrwb…
    Waks gak nambah ilmu ya mas?? Btw Macromedia Flash ini banyak banget yach, jadi yg ‘biasa’ dipake untuk buat animasi itu yg Flash MX 2004 tho…btw bisa berbagi tutorialnya mas, or linknya…di ilmukomputer.com itu yah?? hehe sorry banyak nanya mklum nubie.
    Oya mas aku ada kirim mail ke gmailnya mas Urip, dibales yo mas… Thx, Waslmkmwrwb

  2. Pak Guru, dana totalnya 63 Miliar untuk pembelajaran multimedia. Ini kalau ndak salah bocoran tahun lalu. Itupun yang ngasih World Bank lewat beberapa stakeholder (diantaranya DPR pusat).

    Targetnya adalah menumbuhkembangkan dunia multimedia Indonesia. Yang digenjot, sasaran utamanya, jelas sekolah-sekolah, terutama sekolah TIK dan Grafis.

    Waktu masih di Bali saya sempat terlibat project ini. Melalui beberapa sekolah dan kampus, membuka program beasiswa. Tingkat keberhasilan lumayan tinggi, sekitar 93%.

    Sayangnya, apabila ada anggota dewan yang datang meninjau, kami dipaksa menyediakan ‘kurban’. Padahal bukan idul adha!

    “Iyah saya pernah denger juga, cuman dengar doang sebab sekolah saya gak masuk prioritas. Kalo masalah peninjau itu emang bener-bener pingin ninju saja Kang”

  3. pak, sampeyan itu guru kimia opo guru Linux sih? Wah…nek ngebahas linux…..huebat tenan……

    :) Kang saya ini lebih tertarik dan bisa komunikatif dengan banyak orang kalau bicara komputer/blog/linux-sedikit. Kalau bicara soal kimia pasti gak ada interaksi, sebab komunitas di blog sepertinya gak banyak yg minat dengan yg bau-bau kimia. Kalau saya paksakan saya gak punya temen ngobrol bebas. Linux baru mulai belajar kang… jadi yaah apa adanya sesuai pengalaman.”

  4. pak nanya?
    apakah SMA negeri 3 Yogya? karena saya alumni situ..dan emang ada jenis2 pelatihan untuk guru seperti itu..menurut saya sih sama aja..gak ada peningkatan..malah saya pernah ngajari pak Radi pake internet explorer…hehehe
    saya kangen ama pak Radi nih..huekekekek

    “Bukan di yogya kok, tapi di kalimantan tengah, wee sekolahe kok disekitar kota baru terus toh, Yah guru tidak mesti lebih hebat dalam hal komputer kok, jadi wajar saja boleh belajar dari siapa saja, seperti saya ini”

  5. Loh… di proyek e-learning Diknas (lupa di Dikdasmen atau Dikmenjur) sudah ada proyek untuk dibikinkan bahan ajar berupa animasi loh. Temen saya ada yang sempet ikut dalam proyek itu waktu tahun 2005. Nggak tahu apa jadinya proyek itu. Mestinya kalau jadi kan dibagi-bagikan percuma ke sekolah-sekolah.

    “Halah kang kami yg di udik paling2 denger ceritanya saja, telat, terus gak kebagian. Apalagi sekolah saya yg gak ada hubungan dengan diknas.”

  6. oh, saya kira di jogja…saya kaya kura2 dalam tempurung ya..hehe
    setuju, saya suka sama salah seorang (mantan) guru saya yg sedang belajar di Belanda..dan jadi mengenal wordpress karena saya…lacak aja dari IPnya, sp yg diBElanda sana (biar tetep secret ya..)…hehehe

    “Yah saya kalau masuk blog yang baru saya kunjungi saya cari dulu… siapakah gerangan yang nulis ini. Tradisi orang indonesia kali yah. Ehhh siapa tuh yg di Belanda, ayoooo ngacung….”

  7. ada beberapa contoh animasi kalo buat pembelajaran di rpaulsingh

    masalah nyeni apa engga sih ntar juga pasti belajar…
    sekedar sharing pengalaman saja, saya sekitar 5 bulan belajar animasi, basicnya dulu saya sudah pernah belajar desain grafis, tinggal dimantepin script2nya aja…
    sekarang alhamdulilah saya sudah bisa membiayai kuliah saya+makan dengan hasil dari mbuat animasi flash…

    oh iya di UGM kan juga ada hibah untuk pengembangan pembelajaran dengan course content berbasis multimedia.. kalo mau ngintip situsnya di i-elisa tapi sayang harus daftar, belum terbuka untuk umum…heehhe…

    “Siip tengkyu dah kasih info buat yang lagi pingin belajar flash”

  8. Saya pernah belajar Flash dan Fireworks, tapi sampai sekarang nggak mudeng-mudeng. :-) Tapi kalau untuk bikin animasi kecil-kecilan sudah bisa. Tapi katanya Flash bisa sampai bikin film animasi kan pak ?

    “Saya kenal flash dari tahun 2004 tapi karena gak bisa nggambar yah gak bisa berkembang, Untuk bikin film animasi mungkin saja apalagi untuk yg mahir”

  9. Memang program Flash ini terlihat canggih dan informatif sekali kalo bisa dipake buat bahan pengajaran. Tapi kok menurut saya sangat tidak praktis kalo setiap guru diharapkan untuk mampu membuat bahan pengajarannya menggunakan Flash, karena ribet untuk membuatnya. Yah, setidaknya dari sekian banyak guru yang ikutan itu, semoga Pak Guru Urip bakal jadi salah satu contoh yang berhasil mengimplementasikan Flash itu.

    “Yah bener seperti saya kalau diminta menggambar ampun, hancur, niat mau membuat pembelajaran menarik malah jadi nek, mungkin perlu diasa tiap hari kali yah”

  10. Kalau menurut simbah, pek power point saja yang membumi, he he. baik guru maupun siswa bisa, tapi kalau untuk online ya flash pasti lebih dinamis, eh tapi ngomong2 itu tadi duitnya jadi di bagi2 belum

    “Nambah kerjaan guru kalau dipaksakan, tapi jika dengan senang hati pasti asyik, duit yang mana yah… :) saya gak ikut-ikut kok”

  11. Pak guru, tentang flash saya senasib dengan pak guru…saya tidak punya sense of art jadi akhirnya kacau balau dan selalu tersendat-sendat (dan akhirnya >90% yang bekerja adalah teman saya hehehe :D). Pak, kira2 sense of art bisa diasah seperti keterampilan komputer atau tidak ya Pak??
    Pak, kalau software semacam Flash yang buat Linux ada atau tidak ya?(Saya benar2 tidak tahu tentang Linux)

    Pak Guru maaf saya numpang komentar buat Anung (dia mantan siswa saya di SMA 3 yang memang bandel tapi sekarang jadi bandel hehehe)…gak papa kan Pak Guru?
    Nung, Pak Radi=Pak Suradi ya? Mbok jangan membuka “aib” wakasek ah…gak sopan :D

    “Seperti bisa, cuman lebih menjemukan kalau tidak bener2 dengan niat kuat, seperti saya belajar linux ini. Ada kok penggantinya Swiif kata cakmoki, gimp katanya bisa juga. Wah akhirnya ketemu juga, bandel tapi pinter gak masalah”

  12. Waduh Pak Guru saya kecolongan…
    Gara2 lihat kata “Pak Radi” di komentarnya Anung saya langsung terkenang masa lalu dan langsung secara spontan nulis komentar di atas tanpa menyadari kalau Anung nulis 2 komentar to??? … yah jadi ketahuan donk (secara gak sadar saya ngacung ya???)
    Jadi malu hehehe…Apes pak…

    “Hehehe Gimana ceritanya sampai ke Netherlands pak?”

  13. aduh barusan kebangun abis gempa lumayan terasa..halal gak halal (ato apapun istilahnya)..yg (ber)pendidikan aja bajakan tho Pak..
    tp demi ilmu-nya..
    ya nunggu bagian makan2 ‘pembagiannya’ itu.. :D

    “Karena yang ngajari gak mau pakai penggantinya, atau mereka sudah menduga pasti pakai windows jadi yah pakai flash aja, BTW di sekolah tempat pelatihan itu windowsnya berlicensi kok”

  14. Rasanya untuk nge-flash nggak perlu proyek.
    Gratisan pakai Wink2 Pak, siip untuk tutorial. Flash player gratis pakai Swiff Player *hobi gratis*
    Dari jaman dulu, ketrampilan semacam itu yang berorientasi proyek, kebanyakan gagal ditinjau dari tindak lanjut, kalo dari sudut spj dan penyerapan dana, berhasil. Wong spj nya gampang.
    Kesimpulannya, yang jalan nggak bakalan lebih 50 %.
    Saya pernah nawarkan dasar flash gratisan di instansi kami, nggak laku, maunya dimasukkan proyek. Lho ? Tujuannya bisa apa sangu ya ? :D

    “Aliran free Ya Cak. Sepertinya Cakmoki tahu persis untuk urusan seperti ini yah”

  15. Wah sayang uang segitu banyak kalau ga ada hasilnya, kenapa bukan panjenengan saja yang mengajar pak? Tidak perlu mendatangkan guru jauh2 dan dana yang besar bisa buat yang lain… tapi ya itu masalah SPJ kali spt yg cak Moki bilang, walah…padahal kita uang yo masih ngutang to yo,nek iso ngirit mbok ngirit…

    “Saya gak begitu mahir untuk flash mbak, tapi temen saya ada yg mahir. Budaya birokrasi-administrasi pemerintah memberikan perpeluang besar membuat siapa saja yg terlibat untuk menari-nari dengan angka. Sepertinya tidak bisa terelakkan.”

  16. Saya juga pernah terlibat diproyek eLearning tapi bawaan Mapenda Depag DIY ditujukan buat guru2 dan pegawai MTs Jogja.

    Materinya memang gak langsung bimsalabim langsung bisa flash, soalnya banyak banget guru2 yg baru megang mouse!

    Setelah pelatihan masih ada pendampingan juga. Sekarang masih, sampe mei. Jadi bisa memantau sejauh mana guru2 bisa lebih ‘nyeni’ dan menerapkannya ilmunya.

    Selain eLearning juga ada pelatihan Sistem Informasi Madrasah Terpadu, ditujukan untuk pegawai MTs (TU dan pustakawan) agar dapat mengintegrasikan madrasahnya dengan madrasah lain dan juga Mapenda sendiri.

    Sungguh ini ide yang brilliant. Tapi yah itu, namanya juga proyek. Dari Mapenda sendiri sepertinya terlalu menghambur-hamburkan uang untuk pembelian Hardware yg spek nya klo saya liat tinggi banget! Blom lagi pemasangan tower, ada sekolah yg udah punya internet sendiri tapi Mapenda memaksakan tetap memberikan ‘bantuan’ koneksi wireless internet.

  17. Lho, sampean kan guru TIK to. Mustinya kan mahir Flash, merendah kali. Kalau saya sih memang buta betul dengan Flash, tapi kalau belajar sendiri pasti bisa. Soal pengalaman belajar sendiri ( otodidak ) semacam itu, saya punya pengalaman menarik yang boleh ditiru sisi baiknya. Saya mempelajari Excel secara otodidak dan tanpa buku sama sekali ( tanpa bukunya jangan ditiru ) dalam waktu sekitar 6 bulan. Strategi yang saya pakai adalah menggunakan sistim proyek yang target waktunya ketat dan standar kualitasnya tinggi. Jadi kayak learning by doing alias praktek langsung ( yang ini boleh ditiru ). Referensi yang saya pakai hanya satu tapi pasti sahih yaitu petunjuk penulisan rumus ( fungsi ) yang sudah tersedia di Excel. Celakanya, saya sangat pelupa dan tidak bisa hafal format penulisan fungsi. Untungnya, saya mantan programer BASIC tingkat lanjut jaman DOS sehingga logika saya masih jalan dan bisa diandalkan.
    Kira-kira sebulan saya belajar, saya mulai merasa aneh dan merasa bahwa Excel itu payah karena kita tidak bebas menampilkan atau menuliskan rumus dan falsilitas format pewarnaan yang minim sekali. Lama kelamaan, akhirnya saya bisa terima Excel apa adanya dan mencoba eksplorasi dan eksploitasi semua kemampuan Excel semaksimal mungkin untuk proyek saya tersebut. Setelah sekitar 3-4 bulan saya belajar, saya jadi kaget ketika saya menanyakan sesuatu kepada teman-teman sekantor saya yang sudah menggunakan Excel beberapa tahun sebelum saya. Ternyata, tidak ada satupun teman saya yang nyambung dengan pertanyaan saya dan mereka menyarankan untuk membaca buku tentang Excel yang tebalnya minta ampun yang dipinjamkan ke saya. Yang bikin saya lebih kaget lagi, ternyata sekitar 95 % isi semua “kitab suci” Excel yang ditulis oleh para ahli tersebut sudah saya kuasai. Selanjutnya, saya mencoba konsultasi ke teman lain yang lulusan STIKOM. Ternyata, lebih parah dari yang saya harapkan. Akhirnya, saya buat beberapa file untuk membuat eksperimen-eksperimen yang kebanyakan sukses. Sebagai hasilnya, sampai sekarang teman-teman menganggap saya “Buku Excel Berjalan” dan tempat bertanya. Saya sempat kaget juga ketika administrator network di kantor saya yang lulusan STIKOM konsultasi tentang cara menyembunyikan isi sel dan mengatur agar tidak bisa diinput data lagi jika sudah melewati tanggal dan jam tertentu seperti yang dia lihat di semua file yang saya buat untuk memastikan orang mengisi on time. Adapun proyek excel yang dulu saya rintis telah berkembang jauh sampai Versi 7.2 dan masih dipakai semua orang di kantor saya sampai sekarang. Namun sekarang muncul masalah baru karena fungsi-fungsi ( terutama yang circular ), conditional formating, dan validasi yang ada sudah terlalu rumit untuk dipelajari kebanyakan orang. Akibatnya, sampai saat ini belum ada penerus yang akan terus melakukan penyempurnaan proyek besar tersebut. Atasan saya dan beberapa teman saya menyarankan saya untuk membukukan tip & trick Excel tersebut agar bisa dipelajari banyak orang. Supaya mudah dipelajari disertakan juga DVD yang berisi contoh-contohnya. Menanggapi usulan itu, saya iseng-iseng buka-buka koleksi majalah Chip halaman Tip & Trick dan rupanya belum ada yang membahas trick-trick saya. Kalau menurut sampean, kira-kira laku gak ya kalau saya bukukan ya ?

    Waduh, ternyata saya terlanjur ngelantur. Kita atur damai saja ya untuk kompensasi ngelantur saya ini. Kalau sampean berminat, saya menawarkan salah satu hasil eksperimen saya di Excel secara gratis ( karena memang tidak akan saya jual belikan ) berupa file Excel MASTER PEMBUAT TTS VERSI 1.4. Ukuran filenya 1,5 MB dan jika dicompress pakai Winzip 264 KB. Ukuran kotaknya maksimal 30 X 30 kotak dan jumlah nomor soal maksimal 100. Teman-teman saya sudah banyak yang pakai, terutama yang guru bahasa. Katanya banyak membantu menghemat waktu pembuatan TTS dari 2 hari menjadi 2 jam saja. Dengan satu kali latihan, langsung bisa. Kalau sampean berminat, saya tunggu e-mail sampean di mr_paijo_paidin@yahoo.co.id agar saya bisa kirim lewat e-mail. Sampean juga boleh sebarluaskan copyannya ke teman-teman sampean yang membutuhkan atau kalau sampean mau juga boleh mengumumkannya di blog sampean karena banyak guru yang butuh. TTS yang dibuat juga boleh dipublish ke media masa tanpa wajib setor royalti, tapi bagi yang mau setor juga tidak dilarang. Yang saya harapkan hanya sebaiknya memberi tahu saya ( tidak perlu minta ijin ) ketika TTS nya sudah dimuat kalau perlu disertai kritik dan saran agar saya bisa tingkatkan kualitasnya.

    Malah tambah lagi nglanturnya, maklum ini kan Sabtu bukan hari kerja jadi banyak waktu. Terimakasih dan salam eksperimen.

  18. @ Anung: Setiap guru punya kekhasan, tidak mesti harus bisa banyak hal, termasuk penguasaan komputer. TApi untuk sekedar ngetik dan bikin presentasi yag mesti bisa.

    @ Alle: Wah bisa bagi-bagi tutorialnya atau presentasinya nih. Saya tahu persis kondisi pendidikan di bawah naungan depag, Hampir semua konsep pengadaan barang tergantung kehendak yang di atas, tidak pernah didasarkan keperluan si pengguna. Akhirnya gak tepat sasaran. Inilah kekurangcerdasan, semua demi proyek keyek.

    @ neeya: begitulah kondisinya.

    @ Paijo: Idealnya begitu kalo jadi guru TIK, lah saya khan gadungan kang, terpaksa karena di sekolah saya tidak memiliki SDM yang ideal itu. Wah kang Paijo ternyata hebat yah. Kang mbok yah ilmu seperti itu di bagi di blog Njenengan. Kalo perlu bikin blog khusus lagi. Saya pingin berguru juga nih dipadepokan blog itu nantinya. Matur Nuwun win ditawari hasil kerja kang paijo untuk TTS itu. Nggarapnya pakai macro atau hanya manfaatkan formula kang?

  19. @ Helgeduelbek
    Untuk berbagi ilmu itu di blog mungkin saya tidak cukup waktu untuk mengurusnya. Baru dua blog saja saya sudah kewalahan, apalagi kalau tambah lagi. Untuk pembuat TTS dan lainnya, saya hanya pakai formula saja tanpa macro karena saya tidak kuasai macro. Yang tidak kalah penting yaitu penggunaan conditional formating dan validation. Pada aplikasi yang lebih rumit, juga digunakan circular reference yang luar biasa manfaatnya. Yang menurut saya aneh, dari 3 orang teman saya yang guru TIK ternyata tidak satupun yang tahu bagaimana manfaat dan cara penulisan circular reference tersebut. Logikanya memang jadi rumit, tapi sepadan dengan manfaatnya. Contohnya : menggerakkan grafik dengan menekan F9, password buatan sendiri, mendeteksi kapan suatu data diinput oleh user, memunculkan tanggal update data secara otomatis,mengatur waktu expire suatu file, dsb. Terimakasih dan salam eksperimen.

    “Persis dugaan saya kalau begitu, bener selama ini orang makai spreadsheet hanya untuk pentabelan saja dan sedikit hitungan, masih banyak lagi ilmu terpendam di excel yg gak banyak orang menggunakannya”

  20. pak, nanya yaaa!!!
    gimana caranya bikin diagram alir untuk pembuatan media pembelajaran dengan flash?????

  21. /* hafizah
    Doiagram alir sama dengan flowchart bukan?
    Kenapa musti pake flash mbak.. klo pake Mi***sft Visio ajah knapa..
    klo basis Linux bisa pake DIA.. opensource tur Gratizz

  22. halluu, salam kenal..

    saya nanya dunk.. apa betul, suatu aplikasi pembelajaran berbasis flash bisa di edit, di sisipi dan diuah materinya?
    Kalo bisa, gimana ya, caranya…
    Kebetulan sy bertemu dengan temen2 guru smp, yang ditawari CD aplikasi pembelajaran, yang katanya bisa diedit itu, langsung di tampilan. Karena basisnya flash dan HTML..

    Haduuh pusing dweeeh sy ndak mudeng….
    Trus, mereka menghendaki pelatihan, cara mengembangkan model bahan ajar dengan flash tersebut…. ada referensi ndak, untuk pengajarnya?

    Thanks yaaa, atas info nya….

  23. saya nambahkan aja, emang belajar flash kalau niat bisa, tp klu g sering dipakai buat program banyak lupanya, akhirnya open book lagi, bukan gt ya pak’

Komentar ditutup.